Kaca Mata ‘Bionik’ untuk Tunanetra

Elias Konstantopoulos menggunakan kacamata 'bionik' Argus II. (dailymail)

TEMPO Interaktif, Elias Konstantopoulus punya mimpi: melihat cucunya yang berusia 18 bulan untuk pertama kali. Kakek 72 tahun, kelahiran Yunani yang tinggal di Amerika Serikat ini adalah seorang tunanetra. Mimpi itu kemungkinan besar bisa segera terwujud berkat sebuah alat bernama Argus II.

Argus II adalah sebuah alat seperti kacamata yang memungkinkan Elias untuk melihat kilatan cahaya. Alat ini memberinya harapan, suatu hari nanti dia bisa melihat cucunya.

Elias mengalami kebutaan selama lima tahun terakhir. Dia menderita gangguan pigmentosa pada retinanya. Penyakit ini diderita satu dari tiga ribu orang di Amerika Serikat.

Elias yang menetap di Burnie, Maryland, pertama kali terdeteksi mengalami gangguan mata ketika ia berusia 43 tahun. Dokter mengatakan dirinya tidak mampu untuk melihat ujung lengannya melalui ujung matanya. Sampai akhirnya dia buta total pada 5 tahun lalu.

“Anda kehilangan pengelihatan, maka Anda seperti kehilangan semuanya,” ujar Elias. Namun, Elias kembali semangat dan mendapat harapan untuk melihat cucunya muncul setelah ia mengikuti percobaan penggunaan alat bantu melihat ini.

Alat ini termasuk menempatkan sebuah susunan elektroda pada matanya dan wireless kamera pada kacamata. Saat ini, ia menggunakan kacamata futuristik tersebut pada pagi hari, memakai alat wireless di pinggangnya, dan berdiri di jendela atau berdiri di halaman untuk menunggu suara dari mobil yang mendekat.

Ketika mobil tersebut lewat, Ia mengatakan dapat melihat bayangan yang menutupi cahaya dari matahari pagi. Menurutnya, ia juga dapat membedakan warna cahaya yang dipantulkan dari latar yang gelap, dan ia dapat bergerak di dalam ruangan dengan melihat jendela atau pintu mana yang tersinarkan oleh cahaya matahari.

Baca Juga :  Tips & Trik - 6 Cara Mencegah Tertipu Kartrid Printer Palsu

Menurut Elias, operasi untuk memasang implan elektroda membutuhkan waktu tiga jam dan menyebabkan sedikit rasa sakit. “Tapi tanpa ini saya tidak dapat melihat apapun. Dengan sistem ini, ada harapan,” ujarnya. Dia berlatih menggunakan alat ini sehari dalam seminggu di labolatorium, bersama profesor bidang ophthalmology di Johns Hopkins University, Gislin Dagnelie.

Dalam setiap sesi latihan, Elias melacak objek yang ia lihat di layar komputer. Terkadang, dirinya mereba-raba untuk mencari beberapa barang di dalam komplek medis tersebut. Menurut Gislin, pasiennya telah mengalami peningkatan dalam menginterpretasikan cahaya dan mengidentifikasikan hal tersebut dalam bentuk dan garis. Menurutnya, Elias juga diberikan pekerjaan rumah untuk menggambarkan bentuk lantai kamar mandinya.

Cara kerja Argus II mirip dengan implan koklea -organ telinga- yang memungkinkan orang yang mengalami ketulian untuk mendengar kembali. Implan yang ditanam di telinga ini bekerja dengan menangkap suara melalui microphone, dan ditransformasikan menjadi impuls elektronik dan dikirim melalui saluran elektroda yang telah ditanamkan pada pasiennya. Elektroda tersebut mengumpulkan impuls, dan mengirimkannya ke syaraf pendengaran.

Pada Argus II retina buatan yang ditanamkan memiliki proses yang sama seperti implan pada koklea. Sebuah kamera video yang kecil dipasang pada kacamata untuk menangkap gambar dan mentransformasikannya menjadi sinyal elektrik, dan memberikan susunan elektrode kepada implan pada mata pasien. Sinyal visual tersebut dikirimkan ke syaraf optik dan ke otak, dan pasien melihatnya seperti kilatan cahaya dan bayangan yang samar.

Baca Juga :  Nokia Ejek Android seperti Pipis di Celana

Alat bernama Argus II ini dibuat oleh sebuah perusahaan di California, Second Sight. Penggunaannya telah disetujui oleh pihak Amerika Serikat dan Eropa. Saat ini terdapat 14 pasien yang menggunakan Argus II di Amerika Serikat, dan 16 pasien di Eropa. Harga dari alat futuristik ini sekitar US$ 100 ribu atau sekitar Rp 865 juta.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*