Kadishut Sumut: Hutan Madina dan Tapsel Rawan Pencurian

555 Ribu Ha Hutan di Sumut Rusak Akibat Pembalakan
– Dishut Asahan Berhasil Lestarikan Hutan Negara

Medan (SIB)
Kawasan hutan lindung di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Tapanuli Selatan (Tapsel), rawan menjadi aksi illegal logging atau pencurian pelaku perambahan hutan. Sementara hutan di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) dan Tapanuli Utara (Taput) rawan akan aksi pembakaran atau kebakaran. Di sisi lain, kini 555 ribu hektare dari 3,7 juta hektare kawasan hutan di Sumut telah mengalami kerusakan akibat pembalakan liar.
“Kalau untuk rawan pencurian, hutan di Madina dan Tapsel. Sedangkan kebakaran, hutan di Tobasa dan Taput,” kata Kadis Kehutanan (Kadishut) Sumut, JB Siringo-ringo kepada wartawan di Medan, Selasa (20/4).
Menurut Siringo-ringo, 15 persen kerusakan hutan di Sumut terjadi di Kabupaten Madina dan Tapsel. Untuk mengantisipasi maraknya aksi pencurian kayu hutan di ‘Tano Batak’ tersebut, pihaknya terus melakukan pengecekan melalui Kadishut di tingkat kabupaten/kota. Koordinasi dengan pihak kepolisian juga tetap dilakukan.

Namun, imbuhnya, Dishut Sumut sulit untuk mengetahui kondisi kerusakan hutan di suatu daerah, karena merupakan kewenangan Kadishut kabupaten/kota. Hal itu terjadi sejak diberlakukan UU Otonomi Daerah sejak 2000-an lalu. “Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2000-an, kita sulit mengetahui kondisi kerusakan hutan suatu daerah, karena itu merupakan kewenangan Kadishut setempat,” kata Siringo-ringo.
Menurut dia, kerusakan hutan dengan pembakaran seperti yang rawan terjadi di Kabupaten Tobasa dan Taput, karena adanya pengalihan fungsi hutan menjadi perkebunan sawit. Siringo-ringo menyebutkan, kerusakan hutan terjadi tidak semata karena adanya perambahan, tapi juga karena faktor iklim yang tidak menentu dan curah hujan yang tinggi.

Baca Juga :  Antisipasi Teroris, Polresta Padangsidimpuan Gandeng TNI Razia Bersama

“Iklim dan curah hujan yang tinggi juga mempengaruhi kondisi hutan. Jadi, kerusakan hutan itu bukan hanya disebabkan oleh aksi pembalakan liar,” terang Siringo-ringo.

Dishut Asahan
Disebutkannya, dari seluruh Kadishut di Sumut yang berhasil dalam menjaga dan melestarikan hutan negara adalah Kadishut Asahan, karena kerap melakukan pemahaman (sosialisasi) kepada masyarakat tentang dampak dan bahayanya aksi penggundulan hutan.

“Kadishut Asahan lah yang berhasil dalam menjaga kelestarian hutan,” sebut Siringo-ringo.
Sementara, Kadishut Tobasa AN yang telah ditetapkan Polda Sumut sebagai tersangka kasus perambahan hutan di empat wilayah Kecamatan Nassau, Kabupaten Tobasa, tambah Siringo-ringo, sebelumnya telah diingatkan untuk tidak mendukung praktek illegal logging tersebut. “Namun dia (AN-red) tidak mengindahkannya sehingga ditangkap kepolisian sebagai tersangka perambah hutan,” katanya.
Sebelumnya, JB Siringo-ringo menyebutkan, 555 ribu hektare kawasan hutan di Sumut telah mengalami kerusakan. Saat ini terdapat 3,7 juta kawasan hutan di Sumut dan sebanyak 15% telah rusak akibat pembalakan, dan perluasan areal perkebunan. (Pr2/r)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*