Kampung Setia yang Setia Melestarikan Nungneng

Ditulis Oleh : Budi P. Hatees *)

nung2 Kampung Setia yang Setia Melestarikan NungnengSabtu malam akhir Maret 2014 lalu, saya berkunjung ke Kampung Setia, Kecamatan Hutaimbaru, Kota Padangsidempuan. Kampung di kaki Gunung Lubuk Raya ini dibekap angin yang berembus dari kawasan hutan cagar alam itu. Dingin menggigit. Saya menaikkan kerah jaket, melangsir langkah memasuki gang antar rumah dan berhenti di sebuah  tanah lapang.

Pada siang hari, tanah lapang itu berfungsi sebagai tempat penjemuran padi milik sebuah huller.  Malam berubah menjadi ruang publik, tempat sekitar 50 kepala keluarga masyarakat perkampungan itu berkumpul.

Setiap Sabtu malam, apalagi bila bulan sedang purnama, warga akan menggelar acara. Inilah keunikan Kampung Setia dibandingkan desa-desa lain di Kota Padangsidempuan. Saya sengaja datang untuk menyaksikan keunikan itu.

Lima laki-laki dewasa berkumpul di teras sebuah rumah, duduk di atas tikar pandan. Disiram cahaya muram dari bola lampu, ditambah pendar sinar bulan yang menyala di langit. Kelima orang itu meriung,  bercakap-cakap.

Tiga orang memegang  Nungneng.  Saya belum pernah melihat alat music ini langsung, hanya pernah mendengarnya. Alat musik tradisional ini berupa seruas bambu sepanjang 40 cm dengan diameter 15 cm.  Pada bagian atas, ada tiga senar dari sembilu bambu. Di bagian bawah, ada lubang berdiameter 5 cm.

Salah seorang memegang seruling bambu,  warna hijau bambu belum hilang pertanda seruling itu baru dibuat. “Baru tadi siang saya buat,” kata Japainan Lubis (58) tahun, yang memegang seruling.

Malam itu Japainan Lubis memakai seragam pegawai negeri sipil (PNS), melilitkan kain sarung motif kotak-kotak di lehernya. Ia mengaku baru datang dari Padanglawas dan belum sempat mengganti pakaian.

Seorang lainnya memegang Uyup-uyup. Alat music ini  sejenis seruling, tapi ukuran sebesar  pensil dengan tiga lubang pada permukaannya. Laki-laki yang memegang Uyup-uyup itu mencoba meniup alat musiknya. Suara yang keluar melngking, membulat.

Seorang anak muda keluar masuk dari dalam rumah. Ia mempersiapkan mike dan mengetes berkali-kali. Malam itu langit cerah. Tanah lapang di hadapan teras rumah itu mulai dipenuhi wara ketika sebuah orkestra alat musik tradisional masyarakat Batak Angkola itu mulai dimainkan.

Japainan Lubis meniup seruling pada not sebuah lagu tradisional berbahasa Batak Angkola: “Marsalak”.

Instrumen lagu yang berkisah tentang muda-mudi yang memetik salak sambil bercanda, mulai mengentak ketika tabuhan Nungneg  meningkahi.  Pundak Rifin Siregar (68), penabuh Nungneng yang bertubuh gendut,  bergoyang mengikuti irama. Dua temannya, Bastian Dalimunte (58) dan Bahrum Siregar (50)—juga menabuh Nungneng—tersenyum melihat gerakan tubuh temannya.  Sahat Siregar (67), memegang Uyupuyup, juga bergoyang.

Jari-jemari tangan kanan ketiga orang yang memegang Nungneng, lincah mengetuk senar-senar pada bagian atas dari bambu  itu dengan tongkat bambu yang diraut. Sementara tangan kiri menabuh bagian bawah Nungneng.  Ketukan dan tabuhan itu mengeluarkan suara dengan harmoni bunyi yang padu. Disisipi nada tinggi seruling yang sekali-sekali melengking.

Lagu pembukaan itu berdurasi enam menit. Lebih dari cukup untuk memaksa warga keluar dari rumah masing-masing. Ibu-ibu, anak-anak, bapak-bapak, dan muda-mudi berkumpul. Mereka membuat setengah lingkaran menghadap kepada para pemusik. Lima laki-laki pemusik itu tertawa sambil meminta penonton bertepuk tangan.

Selang beberapa menit,  Japainan Lubis kembali meniup seruling.  Setiap lagu selalu dibuka dengan suara seruling. Kali ini Sahat Siregar meningkahi dengan meniup Uyupuyup. Tabuhan Nungneng menyusul. Japinan Lubis berhenti meniup seruling.

Kali ini ia merangkap sebagi vokalis. Ia mendendangkan syair-syair yang menceritakan realitas kehidupan sosial masyarakat saat ini.

Itulah Onangonang ,  jenis sastra lisan khas masyarakat Batak Angkola  berpola pantun.  Sastra lisan semacam prosa pantun, dituturkan dengan kesadaran kuat untuk beramanat. Laiknya sastra lisan daerah, isinya melulu tentang nasehat. Cuma, ia punya tokoh nyata, orang-orang yang ada di sekitar masyarakat, di sekitar penutur.

Penutur Onangonang semakin sulit ditemukan.  Japainan Lubis adalah penutur terakhir di Kampung Setia. Bisa dihitung jumlah penutur seperti dirinya di lingkungan masyarakat Batak Angkola di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, Padanglawas, Padanglawas Utara, dan Kota Padangsidempuan.  Empat kabupaten/kota ini disebut juga bagian dari Tapanuli bagian Selatan (Tabagsel). Sebagain besar masyarakatnya beradat Batak sub suku Angkola.

Batak Angkola nyaris tidak pernah disingung dalam pembicaraan para antropolog tentang Batak. Tak banyak referensi tentang masyarakat Batak Angkola, padahal dinamika budaya Batak di Provinsi Sumatra Utara menjalar dari Selatan ke Utara.  Mengacu pada hasil penelitian Prof Dr. Uli Kozok tentang bahasa Batak, ia menyimpulkan bahwa asal-usul bahasa Batak berasal dari Selatan lalu ke Utara.

Di Selatan dari Provinsi Sumatra Utara, biasa disebut Tapanuli bagian Selatan (Tabagsel),  dominan dihuni masyarakat Batak Angkola. Jika bahasa Batak berkembang pertama kali di Selatan, berarti berkembang di lingkungan masyarakat Batak Angkola. Dengan simpul soal bahasa Batak ini, bisa ditafsirkan bahwa kebudayaan Batak yang dikenal luas saat ini pun berawal dari Batak Angkola.

Baca Juga :  Mati, traffic light di persimpangan ibukota Paluta

Sebab, hanya kebudayaan tinggi yang mampu menghasilkan bahasa. Kebudayaan Batak Angkola memiliki bahasa sendiri, karena itu kebudayaan Batak Angkola bisa disebarluaskan ke berabagai daerah di wilayah Provinsi Sumatra Utara.

Tapi soal genekologi kebudayaan Batak ini ditentang para penganut budaya Batak di Utara dengan menciptakan mitos Pusuk Buhit sebagai asal mula si Raja Batak. Namun, sejumlah literature yang menjadi acuan tentang asal mula kebudayaan Batak dari Pusuk Buhit ini mengacu pada politik kebudayaan yang dikembangkan para antropolog Belanda, yang syarat kepentingan politik untuk memperkuat kekuasaan kolonialisme di Tanah Batak.

Dalam novel Tuanku Rao yang ditulis Mangaraja Onggang Parlindungan, yang selalu menjadi acuan bagi para antropolog untuk bicara tentang Batak, dikisahkan tentang Pongkinagolngolan sebagai keturunan Sisingamangaraja yang merantau ke Selatan dan kembali untuk membunuh Sisingamangaraja.

Novel yang seakan-akan hasil riset yang memanfaatkan referensi berupa data-data riset buatan Belanda ini, ditulis dengan hasrat luar biasa untuk menghancurkan keyakinan tentang sejarah Batak yang menyebut Sisingamangaraja sebagai si Raja Batak. Seorang Pongkinangolngolan yang merupakan anak terbuang mampu membunuh si Raja Batak.

Japainan Lubis tak percaya pada mitologi yang memposisikan Utara sebagai pusat perkembangan kebudayaan Batak. Lewat onang-onang yang dituturkan Japinan Lubis,  sejarah Batak itu makin kokoh bermula dari Selatan.

nungneng1 Kampung Setia yang Setia Melestarikan Nungneng

Warga makin memadati tanah lapang.  Sekali-sekali tawa mereka lepas ketika penutur memilin syair dengan memasukkan nama salah seorang warga sebagai tokoh. Suara tawa semakin kencang ketika  seseorang atau beberapa orang  keluar dari kumpulan warga yang menonton,  maju ke depan para pemain musik,  lalu menarikan Tortor.

Tottor adalah seni tari tradisional milik masyarakat Batak Angkola.Gerakan  penari tortor berbasir pad pencak silat. Prof Dr. Edy Sediawati dalam bukunya, Tari Nusantara yang diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional tahun 1980-an, menyebut sebagian besar tari tradisional mempunyai gerak dasar pencak silat. Tari seperti itu diwarisi dari kebudayaan Melayu.

Mengacu pada simpul Edy Sediawaty itu, buisa dibilang Tortor mendapat pengaruh dari kebudayaan Melayu.  Simpul ini tak terbantah jika dikatakan bahwa kebudayaan Batak Angkola memiliki kemiripan dengan kebudayaan Melayu.

Saya ingat pernah berbincang dengan Tom Ibnur, Direktur Langka Budaya Taratak (Taratak Cultural Center), pada tahun 2003. Saat itu Tom Ibnur bersama temannya dari Universitas Kebangsaan Malaysia sedang meneliti zapin (tari Melayu) di Nusantara dan pengaruhnya terhadap tari tradisional di sejumlah daerah di Indonesia.

“Pengaruh Melayu sangat kuat pada semua kebudayaan yang ada di Pulau Sumatra. Pengaruh itu bisa ditemukan dalam tari-tari tradisional,” kata Tom Ibnur.

Tortor adalah tari tradisional masyarakat Batak. Berbeda dengan tortor yang  selama ini dikenal masyarakat umum, yang hanya mengandalkan gerakan telapak tangan terbuka, tortor milik masyarakat Batak Angkola lebih mirip tari Serampang Duabelas.

Kemiripan antara tortor dengan Serampang Duabelas makin terlihat ketika tiga pasang muda-mudi muncul. Mereka menarikan Tortor Naposo-Nauli Bulung (Tortor Muda Mudi). Tortor yang ditarikan muda-mudi ini berkisah tentang kehidupan muda-mudi dalam mencari jodoh.

Setiap penari tortor boleh memilih siapa yang akan didampinginya, acap terjadi rebutan pasangan. Dalam penyelenggaraan siriaon (adat untuk kegiatan bahagia seperti pernikahan), biasanya diberikan kesempatan bagi muda-mudi untuk menarikan tortor.  Waktu manortor untuk muda-mudi biasanya malam hari, ketika bulan purnama. Mereka yang belum punya pasangan, baik laki-laki maupun perempuan, akan turun ke arena.

Di arena, para pemuda akan rebutan mendampingi para gadis. Tapi, pasangan yang dipilih tidak boleh semarga karena berarti masih saudara sedarah.  Harus mencari pasangan dari marga lain.

Secara administratif  Kampong Setia berada di Kelurahan Tinjoman, Kecamatan Hutaimbaru, Kota Padangsidempuan.  Tidak  sukar untuk sampai ke sana. Memakan waktu tak sampai setengah jam lewat jalur darat dari ibu kota Kota Padangsidempuan.

Penduduk di kampung ini merupakan masyarakat Batak beradat Angkola.  Batak Angkola adalah warga dominan di wilayah Tabagsel,  terutama Kabupaten Tapanuli Selatan. Menyebar dari Batangtoru,  Batang Angkola, Sibuhuan sampai Sipirok.

Pada zaman kolonialisme,  Belanda membagi Keresidenan Tapanuli ke dalam beberapa distrik. Tiap distrik dinamai sesuai suku dominan di wilayah itu.

Salah satu Distrik Angkola-Sipirok, mencakup wilayah Kecamatan Angkola, Sipirok, Padangsidempuan, dan Padanglawas.  Penduduk di distrik ini suku Batak dari sub Angkola.

Batak Angkola nyaris tak diperhitungkan dalam kajian antropologi saat ini. Para antropolog, setiap kali bicara Batak, hanya menyinggung Toba, Karo, Pakpak, dan Mandailing. Informasi tentang Angkola  tak banyak. Padahal, Susan Rodgers, professor antropologi dari Holy Cross College di Worcester, Amerika Serikat, menghabiskan bertahun-tahun meneliti Batak Angkola.

Pasca reformasi 1999,  Kota Padangsidempuan berdiri sendiri sebagai sebuah daerah otonom. Dimekarkan dari wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.  Sejak itu, masyarakat Batak Angkola yang ada di Kota Padangsidempuan terputus secara administratif dengan masyarakat Batak Angkola di daerah lain.

Baca Juga :  Pemerkosa Bocah 9 Tahun Di Bantang Angkola Ditangkap Polisi

Pemekaran wilayah membawa imbas negatif pada perkembangan budaya yang dianut penduduk Kampung Setia. Dalam penuturan penduduk, sejak menjadi bagian dari wilayah Kota Padangsidempuan, kehidupan masyarakat di Kampung Setia bagai dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan status kota. Tapi, warga kampung sulit lepas dari nilai-nilai dan tradisi adat warisan leluhur budaya Batak Angkola.

“Kami memilihara seni tradisi dan nilai-nilai adat. Tiap Sabtu malam, kami gelar acara seperti ini,” kata Rifin Siregar.

Para pemainnya adalah orang tua, seusia dengan Rifin Siregar. Belum ada regenerasi, meskipun tujuan awal untuk melakukan regenerasi.  “Kami yakin, generasi muda akan tertarik. Tinggal membiasakan saja,” kata Japainan Lubis.

Rifin Siregar dan Japainan Lubis bercerita, dimulai tahun 2000.  Berawal dari kekhawatiran atas keperdulian generasi muda terhadap seni budaya tradisional. Sejumlah orang tua, yang sering berkumpul di kedai kopi, bersepakat membuat alat-alat music tradisional seperti Nungneng, Seruling, Uyupuyup, dan lain sebagainya.

Alat-alat music itu sengaja ditaruh di kedai kopi. Jika kebetulan sedang berada di kedai kopi, para orang tua akan memainkannya. Strategi pengenalan seni music tradisional ini ternyata efektif. Anak-anak muda, yang tak pernah mengenal alat-alat music tradisional itu, punya rasa ingin tahu. Mereka mencobanya, meskipun tak tahu cara menggunakannya.

“Sejak itu kami putuskan tampil setiap Sabtu malam agar masyarakat mentyukai alat music tradisional ini,” kata Japainan Lubis.

Nungneng

Nungneng memiliki sejarah yang panjang dalam tradisi masyarakat Kampung Setia. Jauh sebelum mengenal gendang, Nungneng berfungsi sebagai gendang.

Setiap kali acara adat hendak digelar,  yang diikuti dengan berbagai kegiatan kesenian, masyarakat tak perlu mencari gendang. Gendang adalah tradisi alat music yang datang belakangan, hasil asimilasi dari jazirah Arab.

Dibandingkan gendang, Nungneng sangat sederhana. Kesederhanaan Nungneng menyebabkan alat music ini tidak bisa disimpan. Bentuknya berupa satu ruas bambo yang  mudah lapuk. Jika ingin memainkan Nungneng, tinggal mengambil bambo dan membuat alat baru.

“Semakin lama disimpan, Nungneng semakin tidak bisa dipakai,” kata Rifin Siregar.

Meskipun bentuknya sederhana, tapi Nungneng kaya akan ragam nada. Nada yang dihasilkannya dari kulit bambo yang dijadikan senar, mendenting seperti nada yang dihasilkan gong kecil. Sedangkan nada yang dihasilkan dari bagian bawah, mirip seperti nada yang dihasilkan gendang saat ditabuh.

Dibandingkan kampong-kampung lain di Kota Padangsidempuan, Kampung Setia menjadi satu-satunya perkampungan yang tetap setia menjaga kelestarian kesenian tradisional masyarakat Batak Angkola.  Sebab itu, perlu perhatian khusus dari pemerintah untuk memotivasi masyarakat agar tetap menjaga keberlanjutan tradisi ini.

“Kami mengharapkan ada upaya pemerintah mengangkat citra Nungneng sebagai alat music tradisional dengan memperkenalkannya kepada masyarakat luas. Misalnya, pemerintah menggelar pertunjukan Nungneng sehingga rasa memiliki masyarakat terhadap alat music ini menjadi lebih tinggi,” kata Bahrum.

Pemerintah Kota Padangsidempuan mestinya bisa mengemas tradisi music Nungneng di Kampung Setia sebagai produk pariwisata. Para wisatawan yang ingin melihat pertunjukan Nungneng, bisa dibawa ke Kampung Setia. Kapan saja, warga bisa diminta menampilkan pertunjukkan Nungneng.

Untuk itu, pemerintah daerah perlu menjalin kerja sama dengan biro-biro perjalanan atau para pemandu wisata guna mempromosikan kesenian Nungneng yang ada di Kampung Setia kepada para wisatawan. Dengan begitu,  tradisi Nungneng akan lebih dikenal.

Pada akhirnya ini akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Kampung Setia.  Sangat potensial bila Kampung Setia ditata dan dipersiapkan sebagai salah satu objek pariwisata di Kota Padangsidempuan.

budihatees 776944024 Kampung Setia yang Setia Melestarikan Nungneng

*) Budi Hatees, Penulis adalah peneliti di Matakata Institut – lahir dengan nama Budi Hutasuhut, 3 Juni 1972 di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Pengajar komunikasi di Fisipol Universitas Bandar Lampung (UBL) ini banyak menulis masalah komunikasi di berbagai media dan jurnal. Tahun 2009, memutuskan berhenti mengajar dan bekerja sebagai Direktur Program untuk MatakaInstitute, lembaga konsultasi komunikasi dan pencitraan yang terlibat dalam program peningkatan citra di lingkungan Divisi Propam Mabes Polri.

Budi Hatees dapat dihubungi lewat Email: budi.hatees@gmail.com.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*