Kapoldasu Terima Pengaduan Masyarakat Atas Rekayasa Manipulasi Perkara Narkoba Oleh Polres Tapsel

Padangsidimpuan, aks

Kasus penangkapan dan penahanan Saut Halomoan Sitorus oleh Kasat Narkoba Polres Tapsel berbuntut panjang. Istri korban Risma boru Nainggolan 2 kali mengadu mohon perlindungan hukum ke Kapolda dan Kabid Propam Polda Sumut. Diduga keras telah terjadi rekayasa dan manipulasi perkara oleh Sat Narkoba Polres Tapsel, dengan memanipulasi hasil penyidikan.

Terungkapnya kasus manipulasi perkara tersebut sa’at ketahuan ketika diperoleh sejumlah data yang menunjukkan Polres Tapsel tetap menahan Saut H Sitorus sebagai Tersangka pengedar/penjual narkoba sabu-sabu, sekalipun tidak ada bukti, tiada saksi yang bisa memberatkan.

poldasu blogspot Kapoldasu Terima Pengaduan Masyarakat Atas Rekayasa Manipulasi Perkara Narkoba Oleh Polres Tapsel
Poldasu (waspada.co.id)

Walau tidak memiliki bukti kuat, namun warga Jl. Imam Bonjol Gang Garuda Kota Padangsidimpuan tsb  tetap ditahan. Sa’at ditemui usai menyampaikan surat pengaduan ke Kapoldasu, Risma br Nainggolan mengisahkan keganjilan penahanan suaminya.

Mulanya Saut Sitorus ditahan Polres Tapsel dengan SP.Han No: 17/X/2010/Narkoba tgl 09 Oktober 2010 selama 20 hari, berlanjut atas permintaan Kasat Narkoba Polres Tapsel ke Kejaksaan Negeri Padangsidimpuan (Kejari Psp) untuk memperpanjang penahanan dengan Surat No: . B-246/SPP/N.2.20/Epp.2/10/2010 tgl. 27 Oktober 2010 seama 40 hari sampai 08 Desember 2010.

Namun setelah masa penahanan selama 60 hari, Polres Tapsel tidak mampu membuktikan Saut Sitorus teribat kasus Narkoba. Jangankan untuk menuduh sebagai pengedar/penjua narkoba, sedang untuk menuduh sebagai pengguna/pemakai narkoba, Polres Tapsel mendapat kesulitan. Terbukti sewaktu Polres Tapsel melimpahkan berkas perkara Saut Sitorus, Jaksa Kejari Psp menolak dan menyerahkan kembali berkas perkara ke Polres Tapsel dengan Surat P-19 dengan pengantar P-18 No: B-2236/N.2.20/Epp.1/11/2010 tgl 23 November 2010, dengan perintah agar Polres Tapsel melengkapi berkas perkara.

Karena Polres Tapsel belum mampu melengkapi berkas perkara sementara masa penahanan habis tgl 08 Desember 2010, sementara hasil penyidikan dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Lanjutan Tersangka Saut Sitorus tgl. 22 Oktober 2010 serta BAP Konfrontir tgl. 25 November 2010 menunjukkan Saut Sitorus tidak bisa dituduh pengedar narkoba melanggar pasal 112 jo pasal114 UU 35 Tahun 2009 tentang Narkoba. Sementara untuk menuduh Saut Sitorus sebagai pengguna/pemakai narkoba melanggar pasal 127 UU No: 35/2009 juga sulit karena pada tgl 09 Oktober 2010 Polres Tapsel telah melakukan test urine dan terbukti negatif.

Baca Juga :  Warga Padangsidimpuan Perbatasan Diimbau Jangan Jadi Pemilih

Walau alat bukti serta hasil penyidikan Polres Tapsel tidak bisa dipakai untuk ‘menjerat’ Saut Sitorus, bahkan LBH Medan juga terlebih dahulu telah menyikapi tingkah Polres Tapsel dengan Surat No: 199/LBH/S/IX/2010, namun Polres Tapsel yang dikomandani AKBP Drs Subandriya tetap degi ngotot untuk tetap menahan Saut Sitorus.

Taktik untuk tetap bisa menahan Saut Sitorus, akhirnya Polres Tapsel membuat surat permintaan perpanjangan penahanan Saut Sitorus ke Pengadilan Negeri (PN) Psp No: B/17.b/XII/2010 tgl 03 Desember 2010. Ternyata belakangan ketahuan isi surat Polres Tapsel tsb telah memanipulasi perkara Saut Sitorus.

Dalam isi Surat Polres Tapsel ke Ketua PN-Psp yang lengkap dilampiri disebutkan bahwa Saut Sitorus telah melakukan kejahatan melanggar pasal 112 jo pasa 114 UU Narkoba, sehingga Ketua PN-Psp, Musthofa, SH menerbitkan Surat Perpanjangan Penahanan No: 33/Pen.Pid/2010/PN.Psp tgl 06 Desember 2010 selama 30 hari lagi dengan pertimbangan pelanggaran pasal 112 jo 114 UU Narkoba didasari pasal 29 KUHAP UU No: 8 Tahun 1981. Padahal sesuai nihilnya alat bukti narkoba, tak ada saksi serta hasil penyidikan dan Surat P-19 Kejari Psp menunjukkan Saut Sitorus sulit untuk dituduh pemakai apalagi penjual narkoba, seharusnya Saut Sitorus mesti bebas demi hukum.

Melihat taktik licik Polres Tapsel yang coba memanipulasi perkara, akhirnya tg 13 Desember 2010 Risma br Nainggolan kasi surat pengaduan kedua ke Kapolda dan Kabid Propam Poldasu. Isinya menuntut Kapoda dan Kabid Propam menindak tegas kasus Polres Tapsel yang telah membuat surat laporan berisi keterangan palsu ke PN-Psp sehingga suami terus menerus ditahan.

Melanggar disiplin Polri

Menurut Risma br Nainggolan, Polres Tapsel jelas telah melanggar UU No: 2 Tahun 2002 Tentang Polri pasal 13 huruf b dan pasal 14 huruf l serta melanggar PP No: 2 Tahun 2003 Tentang Disiplin Anggota Polri pasal 6 huruf k dan huruf o yang tegas melarang setiap anggota Polri memanipulasi perkara.

Baca Juga :  Piala AFF 2012 - "One-on-one With Irfan Bachdim"

“Untuk itu saya memohon kepada Kapoldasu Irjen Pol Oegroseno,SH memberi keadilan sekaligus kepastian hukum dalam perkara suami saya, serta memeriksa Kasat Narkoba Polres Tapsel untuk mengetahui siapa sponsor di balik semua rekayasa ini dan apa sebenarnya kepentingan mereka”, tutur Risma br Nainggolan.

Lebih jauh, LBH Medan yang juga terima pengaduan Risma br Nainggolan, dan melihat adanya kasus pelanggaran hukum dan HAM dalam pemaksaan perkara tsb, menyikapi dengan surat desakan No: 264/LBH/S/XII/2010 tgl. 17 Desember 2010. Menuntut Kapoldasu menindak tegas aparat bawahannya di Polres Tapsel, serta segera menerbitkan SP-3 menghentikan penyidikan serta membebaskan Saut Sitorus demi hukum.

Lucunya, Kasat Narkoba Polres Tapsel, AKPSabar Nainggolan ketika dikonfirmasikan hal pengaduan ke Poldasu, sekalipun tak memiliki bukti apapun, masih tetap menantang dengan ucapan siap mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sementara Kasubbid Dok Liput Humas Poldasu AKBP MP Nainggolan ketika dikonfirmasi wartawan, mengatakan setiap laporan pengaduan masyarakat yang ldiengkapi bukti cukup, pasti segera direspons dan ditanggapi Propam Poldasu.

Bagaimana lanjutan kasus Polres Tapsel yang diduga keras memanipulasi perkara Saut Sitorus masih terus dipantau kalangan aktifis pers dan lsm. (alarm-Ar. Morniff)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*