Kapolresta Damaikan 4 Warga Wek VI Padangsidimpuan Yang Bertikai

Kapolresta Padangsidimpuan (Psp), AKBP Andi Syahriful Taufik SIk didampingi sejumlah personel, Selasa (18/1) siang mendamaikan 4 warga dari 2 lingkungan, yakni Lingkungan II dan IV, di Kelurahan Wek VI, Kecamatan Psp Selatan, Kota Psp, yang bertikai akibat salah paham di salah satu kedai, Senin (17/1) malam.

“Berdamailah. Pertikaian tidak ada gunanya karena selain merugikan diri sendiri, juga merugikan orang lain,” ujar kapolresta di hadapan 4 warga yang bertikai, AD (29) dan Ri (29) warga Lingkungan II, serta HH (22) dan TS (32) warga lingkungan IV, disaksikan Camat Psp Selatan, Paruhuman Harahap, Lurah WEK VI, Abdul Haris SP, kepling II, Mukhlis Hasibuan, dan kepling IV, Horas S.

Menurut kapolresta, sebagai pemuda yang dilahirkan dan dibesarkan di daerah tersebut, sudah seharusnya menjaga keamanan dan kekondusifan yang terbina selama ini, bukan malah melakukan hal-hal yang memicu timbulnya komplik berkepanjangan.

“Saya saja yang orang Bone, Sulawesi Selatan, peduli dengan daerah ini. Kok malah saudara-saudara yang asli daerah ini tidak?” tanyanya.

Hal senada disampaikan Camat Psp Selatan, Paruhuman Harahap. Ia meminta para pemuda dan masyarakat dua lingkungan untuk lebih meningkatkan kepedulian kepada daerah. “Kepedulian tidak harus ditunjukkan melalui kontribusi pembangunan. Namun, juga melalui upaya menjaga kekondusifan dan ketentraman di tengah-tengah masyarakat,“ terangnya.

Mediasi tersebut ditandai dengan penandatanganan surat pernyataan damai oleh empat orang dari kedua belah pihak di atas materai yang disaksikan kapolresta, camat, lurah, kepling, tokoh agama dan masyarakat lingkungan II dan VI. Dalam surat perdamaian tersebut, jika terulang kembali, mereka siap dituntut sesuai hukum yang berlaku di wilayah RI ini. Usai penandatanganan perdamaian, kapol resta, camat, lurah, kepling dari 2 lingkungan, tokoh agama, dan empat warga yang berkelahi berjalan sepanjang 300 meter dari kantor lurah. Tujuannya, agar masyarakat sekitar melihat langsung jika keempatnya telah berdamai. “Dengan berjalannya sepanjang jalan ini, masyarakat dapat melihat langsung telah terjalinnya perdamaian di dua belah pihak yang bertikai,” ucap kapolresta.

Baca Juga :  BEM UMTS Galang Dana untuk Korban Gempa

Sementara itu, Lurah WEK VI, Abdul Haris, menambahkan, awalnya mereka sama-sama minum. Diduga karena sudah tinggi alias mabuk, pandangan pun tidak jelas lagi, sehingga salah satunya mengira kawannya yang berdiri hendak memukul, maka spontan dan tidak terkendali, terjadi pemukulan tanpa sebab yang pasti hingga akhirnya nyaris memicu terjadinya tawuran antar warga dari 2 lingkungan.

“Malam itu kita langsung terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk menenangkan masyarakat. Bersyukur warga bisa tenang dan tawuran antar warga tidak sampai terjadi,” tuturnya mengakhiri. (neo)-(metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*