Kasus 1.850 Kios di Pasar Dwikora Siantar Dibakar – Hulman harus Bertanggungjawab

828033545503af6e29b3d031851dc64f2e8c83a Kasus 1.850 Kios di Pasar Dwikora Siantar Dibakar Hulman harus Bertanggungjawab
TINJAU PASAR DWIKORA-Anggota DPRD Sumut berkunjung ke Pasar Dwikora, Senin (28/2).

Sepuluh anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara (Sumut) meninjau Pasar Dwikora Parluasan, Senin (28/2). Mereka adalah Rinawati Sianturi, Janter Sirait, Muslim Simbolon, Mulken Ritonga, Helmiati, Eddy Rangkuti, Mustofa Simbolon, Meilizar, Mulyani, dan Arifin Nainggolan.

Kunjungan mereka disambut anggota DPRD Pematangsiantar Tumpal Sitorus, M Rifai Siregar, dan Thomas Hardi, beserta pedagang Pasar Dwikora. Mustofa Simbolon menyatakan sangat menyesalkan surat nota kesepakatan yang dibuat Wali Kota Hulman Sitorus. Sebab, katanya, isi nota kesepakatan itu tidak berpihak kepada pedagang, atau dengan kata lain wali kota buang badan atas musibah kebakaran tersebut.

Dalam poin pertama kesepakatan disebutkan, pedagang Pasar Dwikora diizinkan membangun kiosnya masing-masing secara swadaya dengan bentuk seragam menggunakan bahan batu bata dan atap seng. Dari poin ini, sambungnya, menunjukkan Hulman sebagai wali kota tidak bertanggung jawab kepada rakyatnya. “Apa yang menjadi hak masyarakat harus diberikan Pemko Pematangsiantar. Sebab pedagang membayar restribusi harian dan bulanan yang menjadi pendapatan daerah Kota Pematangsiantar. Sebagai pedagang, mereka telah membayar kewajiban, sebaliknya Pemko harus memberikan apa yang menjadi hak pedagang,” jelasnya. “Kami di barisan depan mendukung pedagang Pasar Dwikora,” tegasnya.

Sedangkan Janter Sirait menyarankan pedagang tetap berjuang menuntut haknya, berdasarkan kewajiban rutin yang dibayarkan kepada Pemko. “Tidak ada alasan Pemko buang badan. Ada pendapatan Pemko dari pedagang Pasar Dwikora,” tukasnya. Atas nama DPRD Sumut, Janter mendukung pedagang. Ia juga sangat menyesalkan, Wali Kota Siantar yang belum meninjau Pasar Dwikora. Padahal Pasar Dwikora adalah sarana bisnis yang vital di Pematangsiantar.
“Atas nama DPRD Sumut, meminta pihak kepolisian khususnya Polresta Siantar mengusut tuntas penyebab kebakaran! Kalau memang ada unsur kesengajaan, harus digiring oknumnya, dengan alasan apa pasar Dwikora dibakar!” katanya.
Kemarin, beberapa pedagang mulai mendirikan bangunan darurat di lapak kios masing-masing. Hingga tadi malam, ada dua kios mulai berdiri. (osi/awa)

Pak Wali Takut ke Parluasan
Kabag Humas: Situasi Panas, Mobil Pemko Saja Dilempari

SIANTAR-METRO; Wali Kota Pematangsiantar Hulman Sitorus belum ada berkunjung ke Pasar Dwikora Parluasan. Baik saat kejadian kebakaran, Minggu (27/2) malam maupun keesokan harinya, Senin (28/2). Kepada perwakilan pedagang yang menemuinya, Hulman mengaku belum turun ke Pasar Dwikora karena situasi belum kondusif.

Usai pertemuan, Ketua Himpunan Pedagang Pasar Dwikora (HIPDDA) Sumihar Manurung kepada METRO mengatakan, dalam pertemuan dengan pedagang di kantor wali kota, Hulman menyebutkan, karena situasi belum kondusif, makanya ia belum turun ke Pasar Dwikora “Mungkin dia (wali kota, red) takut dimassa. Amarah pedagang tinggi sekali tadi malam (Minggu malam, red). Dia kan sudah berjanji tidak akan ada pembakaran, bahkan dia bersumpah atas nama Tuhan,” tambah Sekretaris HIPPDA, H Pangaribuan.

Kemarin sekitar pukul 11.00 WIB, tiga utusan pedagang dari dua organisasi pedagang yaitu HIPPDA dan Ikatan Pedagang Pasar Dwikora (IPPD) bertemu wali kota. Dalam pertemuan tersebut, kata Pangaribuan, wali kota mengaku bingung mengapa bisa terjadi kebakaran di Pasar Dwikora. Kepada perwakilan pedagang, Hulman juga mengatakan ia terkejut saat mendengar Pasar Dwikora terbakar.

Kabag Humas dan Protokoler Pemko Pematangsiantar Daniel Siregar ketika ditanya alasan ketidakhadiran wali kota saat kebakaran Pasar Dwikora, enggan berkomentar banyak. “No comment lah untuk masalah itu. Bapak tahu sendiri kan situasinya. Tadi malam (Minggu malam, red) mobil pemadam Pemko saja dilempari, tidak mungkinlah wali kota ke sana. Kita upayakan suasana kondusif dulu,” katanya.

Sementara Ketua DPRD Pematangsiantar Marulitua Hutapea menyesalkan sikap wali kota yang tidak mengunjungi Pasar Dwikora dan menemui pedagang. Kondisi ini, katanya, menunjukkan wali kota tidak tanggap akan situasi dan kondisi warga, serta apatis terhadap musibah kebakaran Pasar Dwikora.“Seharusnya wali kota turun ke sini (Pasar Dwikora, red) melihat kondisi masyarakat. Saya sangat menyesalkan sikap Pemko yang tidak turun ke Parluasan,” tukas Marulitua.
Marulitua didampingi beberapa anggota DPRD mengunjungi Pasar Dwikora sekitar pukul 13.00 WIB. “Pemko tidak cepat menanggapi isu yang berkembang. Sudah tahu situasi SOS (bahaya, red) selama dua minggu ini dengan adanya SMS yang isinya Pasar Dwikora akan dibakar, namun tidak juga mereka melakukan koordinasi dengan Muspida,” sesalnya.
Disebutkan dia, setelah kejadian kebakaran pun, Pemko tetap tidak ada melakukan koordinasi dengan unsur Muspida.
“Saya juga tidak tahu caranya koordinasi dengan wali kota. Nomor Hp-nya pun saya tidak tahu. Saya tadi malam (Minggu malam, red) hingga jam tiga dinihari masih di sini, tidak ada saya lihat pejabat Pemko yang datang,”  jelasnya.
Marulitua meminta kepada Pemko untuk mengusut tuntas penyebab kebakaran, juga mengusut motif kebakaran.
Hanya Turunkan 2 Mobil Pemadam Saat kebakaran terjadi, Pemko Pematangsiantar melalui Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) hanya menurunkan dua dari empat mobil pemadam. Hal itu disampaikan S Manurung selaku Kasi Pendataan dan Operasional Damkar Pematangiantar, saat ditemui diruang kerjanya kemarin.

Kata Manurung, itu dilakukan karena Sistem Operasional Prosedur (SOP) Unit Damkar. “Ada empat unit (mobil pemadam kebakaran). Kita menurunkan dua, karena mengantisipasi mana tahu di tempat lain ada kebakaran,” katanya .
Menurut Manurung, informasi terbakarnya Pasar Dwikora diperoleh pihaknya sekitar pukul 22.15 WIB. Sekitar tiga menit kemudian, katanya, mobil pemadam langsung diturunkan. “Mobil kedua berangkat sekitar pukul 22.21 WIB. Masing-masing delapan trip hingga api padam,” katanya. Terpisah, anggota Komisi III DPRD Pematangsiantar Thomas Hardi, sangat menyayangkan kinerja Damkar yang hanya menurunkan dua unit mobil pemadam. “Ini kan situasinya darurat, kok enak aja mereka menyebut SOP sebagai alasan tidak menurunkan semua armada,” tukasnya.

Menurut Thomas yang juga kehilangan tiga kios di Pasar Dwikora, DPRD khususnya Komisi III akan memanggil Unit Damkar.
Tunggu Puslabfor Poldasu Penyebab kebakaran Pasar Dwikora baru bisa dipastikan setelah ada hasil penyelidikan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Poldasu. Rencananya tim turun ke Siantar hari ini, Selasa (1/3). Dugaan kerugian materi sementara diperkirakan mencapai Rp5 miliar.

Baca Juga :  Prospek Palembang Sebagai Alternatif Investasi Properti Medan

Demikian dikatakan Kapolresta Pematangsiantar AKBP Albert TB Sianipar melalui ponsel, kemarin sore. Menurut Albert, pihaknya masih melakukan pengamanan lokasi kebakaran. “Ada 2.096 kios seluruhnya di Pasar Dwikora. Yang terbakar 1.679 kios, yang berhasil diselamatkan 417 kios,” katanya. Pihaknya juga masih melakukan pemeriksaan terhadap lima penjaga malam Pasar Dwikora. (ral/hez/mag-01/awa)

Mengais Emas di Puing-puing
Sejumlah warga mengais emas di lokasi UD Mas Melati Pasar Dwikora, Senin (28/2). Mereka mengais-ngais di puing-puing sisa kebakaran. Di antara mereka ada yang mengambil abu atau sisa-sisa pembakaran dan meletakkannya di dalam batok kelapa. Selanjutnya sisa pembakaran yang bercampur tanah itu mereka ayak menggunakan air.

Salah seorang warga, Rudi Simbolon, kepada METRO mengaku sengaja mencari barang yang tersisa dari kebakaran.
“Masyarakat berebut mengambil barang yang masih bisa dijual. Lumayan, bisa mengumpulkan hasil leburan berupa emas, emas putih, dan perak,” katanya. Sedangkan Likintin, pemilik UD Mas Melati menyebutkan, tidak ada emas yang tercecer saat kebakaran. Sebab emas-emas disimpan di dalam brankas yang tahan api. “Mereka para pemulung yang mengatakan mungkin banyak emas tercecer, itu tidak benar. Rata-rata tukang emas di Pasar Dwikora punya brankas tempat penyimpanan emas,” terangnya.

Selain mengais emas, ratusan pemulung juga mengumpulkan barang-barang bekas. Mulai anak-anak, hingga orang tua ramai di Pasar Dwikora. Firman S (14) seorang pemulung, mengatakan barang bekas tersebut masih bisa dijadikan uang.
“Masih banyak sisa terbakar bisa dijadikan uang. Seperti besi, aluminium, kuningan, dan pecah-belah. Memang kalau bagi pemilik kios, tidak ada artinya. Tapi bagi kami pemulung, barang bekas ini adalah rezeki,” katanya sembari memasukkan paku ke dalam karung.

Pelajar kelas II SMP swasta di Pematangsiantar ini mengaku sudah mengumpulkan barang bekas sejak duduk di kelas V SD. Akibatnya dia sering ketinggalan pelajaran di sekolah. Pemulung lainnya, C br Purba (40) warga Jalan Rakutta Sembiring, Kelurahan Nagapita, Kecamatan Siantar Utara belum bisa memastikan jumlah uang yang bisa diperolehnya dari mengumpulkan barang bekas di Pasar Dwikora. “Dari hasil penjualan barang bekas ini, bisa menambah uang belanja. Mulai jam delapan pagi tadi, saya sudah mengumpulkan barang bekas. Kasihan juga pedagang yang kiosnya terbakar. Pemko Siantar harus bertanggung jawab,” katanya.

Kumpulkan Sisa Barang
Sementara itu, sejumlah pedagang masing-masing mengumpulkan sisa-sisa barang di kiosnya yang terbakar. Sofian (36) dan sepupunya Eko (19) terlihat memungut bawang, kunyit, dan lengkuas yang tidak terbakar dari tumpukan apu bekas papan dan barang-barang lainnya yang terbakar. Tidak banyak yang bisa mereka kumpulkan, hanya sebungkus kantungan plastik hitam.

“Sebulan lalu saya baru beli mesin penggiling cabai seharga Rp20 juta. Itu sudah musnah. Tidak banyak yang bisa saya selamatkan. Hanya satu goni sembako yang bisa saya bawa keluar. Susah kali tadi malam keluar dari dalam,” kenangnya.
Di tempat yang sama, di tengah asap dan debu sisa kebakaran yang beterbangan, E Panjaitan (38) dan istrinya R br Nainggolan (35) juga membersihkan kiosnya.

“Satu goni yang bisa saya bawa keluar sama suami, itupun sudah sama alat peraga. Kalau disusun rapi pakaian itu, biasanya bisa empat goni. Banyak celana jeans untuk ibu-ibu  dan anak gadis yang masih tergantung, nggak bisa kami bawa keluar. Susah kali lewat pintu keluar. Kayaknya sengaja pemadam memarkirkan mobilnya di situ,” jelas br Nainggolan. “Sekitar Rp100 juta lah kerugian kami,” tukasnya. (mua/osi/ral/awa)

Pedagang Tolak Kios Dibangun Pemko
Para pedagang Pasar Dwikora menolak jika Pemko Pematangsiantar membangun kios di lokasi bekas terbakar. Sebab dikhawatirkan justru mereka bakal kehilangan kios. “Kalau Pemko yang bangun (kios), pedagang kecil akan kehilangan kios,” kata M br Purba, seorang pedagang, Senin (28/2). Berdasarkan pengalaman, katanya, pembagian kios oleh Pemko kerap tidak berpihak kepada pedagang kecil. “Siapa yang banyak uang, dia nanti yang bisa memiliki kios di sini. Contohnya saja pembagian kios Pasar Horas,” tukasnya.

Selain pembagian kios yang tidak transparan, katanya, bila Pemko yang melakukan pembangunan dan dijadikan pasar modern bertingkat, tentunya pedagang disuruh mmebeli dengan harga yang sangat mahal. “Inilah nanti yang membuat kami pedagang kecil kehilangan kios,” tambah br Saragih, seraya menyebutkan, sesuai informasi yang beredar, Pemko Pematangsiantar akan membangun pasar modern bertingkat di lokasi Pasar Dwikora.

Tolak Pindah

8280341f64a82c2d315a8d7421da5a5c424466f Kasus 1.850 Kios di Pasar Dwikora Siantar Dibakar Hulman harus Bertanggungjawab
KUMPULKAN SISA BARANG- Para pedagang mengumpulkan sisa-sisa barang dagangannya, setelah Pasar Dwikora terbakar, Senin(28/2).

Para pedagang berkeras untuk tetap menempati kiosnya. Mereka menolak dipindahkan ke Jalan Patuan Nagari, sebagai tempat berjualan sementara. Ketua Himpunan Pedagang Pasar Dwikora (HIPPDA), Sumihar Manurung, menyatakan para pedagang menolak solusi yang ditawarkan pihak Kecamatan Siantar Utara, yakni untuk sementara waktu pedagang yang kiosnya terbakar berjualan di sepanjang Jalan Patuan Nagari. Menurutnya, solusi tersebut dikeluarkan tanpa pertimbangan matang.

Secara logis, Jalan Patuan Nagari tidak dapat menampung seribuan pedagang. Sebab Jalan Patuan Nagari telah dipadati para pedagang kaki lima. Apapun yang menjadi konsekuensi, katanya, pedagang tetap bertahan untuk berjualan di kios masing-masing. Dosma Tumanggor, seorang pedagang meminta pemerintah prihatin melihat perderitaan pedagang.
“Kalau kios kami dibakar tanpa ada dipertanggungjawabkan Pemko Siantar, kami pedagang jangan dipersalahkan kalau melakukan hal serupa kepada Pemko. Kalau belum ada titik terangnya untuk kami pedagang, kami akan membakar kantor wali kota. Biar mereka tahu, betapa sakitnya kami pedagang mencari sesuap nasi,” tegasnya.

Sebelumnya sekira pukul 08.30 WIB, puluhan pedagang mendatangi kantor Camat Siantar Utara. Para pedagang mempertanyakan nasib kios mereka pasca kebakaran seraya meminta Pemko membantu agar mereka bisa segera berjualan. Dengan wajah lusuh dan mata sembab, puluhan pedagang berkumpul di sekitar Jalan Patuan Anggi. Dengan pengeras suara yang dipegang salah seorang pedagang, mereka bergerak ke kantor Camat Siantar Utara.

Baca Juga :  THE TALL SHIP RACE 2010 - Warga Belgia Antusias Sambut Dewa Ruci

Mereka disambut Camat Siantar Utara Robert Samosir dan Kapolsek Siantar Utara AKP M Nababan. Sementara puluhan polisi ikut berada di kantor tersebut. Dialog pun berlangsung antara puluhan pedagang ini dengan camat dan Kapolsek.
“Mohon kami dibantu untuk membersihkan tempat kami yang terbakar. Jangan menunggu dua atau tiga hari. Kalau bisa hari ini (kemarin, red) harus dibersihkan. Kalau menunggu dua tiga hari tidak berjualan, dari mana kami dapat uang? Apa bisa uang sekolah dan uang kuliah anak saya juga menunggu dua tiga hari untuk dibayar? ” ungkap seorang pedagang, R br Hutabarat.

Selain meminta kios cepat dibersihkan, br Hutabarat juga berharap ia bisa menempati tempat berjualannya  kembali, dan jangan diberikan kepada orang lain. “Dari berjualan inilah kami cari makan. Kalau kami tidak berjualan, dari mana kami bisa makan? Bantu dan tolonglah kami dengan hati nurani bapak-bapak,” ujarnya lagi. Pedagang yang lain, H Pangaribuan juga meminta Pemko Pematangsiantar melalui Camat Siantar Utara segera membantu pedagang untuk membersihkan kios-kios mereka dari sisa kebakaran.

“Bagaimana pun caranya, kami minta besok (hari ini, red) kami sudah berjualan. Kalau pedagang yang berjualan di pinggir jalan itu, mereka itu bukan pedagang dari dalam pasar. Kalau pedagang yang kiosnya terbakar, belum ada yang berjualan,” jelasnya. Disebutkannya, pedagang yang sudah berjualan saat ini merupakan pedagang kaki lima yang memang selama ini berjualan di pinggir jalan. Mereka tidak mau adu jotos dengan pedagang kaki lima, karena mereka juga mencari makan.

“Tidak mungkin kami pukul-pukulan gara-gara memperebutkan lapak tempat berjualan,” sebut Pangaribuan.
Selama hampir satu jam berdialog, camat berjanji berusaha mempertemukan perwakilan pedagang ini dengan wali kota.
“Keinginan bapak-bapak  dan ibu-ibu  supaya tempat berjualannya tidak diberikan sama orang lain. Kalau itu keinginan bapak-bapak, akan saya kawani bapak-bapak bertemu wali kota,” jawab camat. “Kalau membersihkan kios, petugas dari kecamatan siap membantu bapak-bapak,” tambahnya. Usai menentukan tiga perwakilan untuk menemui wali kota, para pedagang meninggalkan ruang pertemuan.

82803389f3d3c5983f2af17994357be1fe1fb3b Kasus 1.850 Kios di Pasar Dwikora Siantar Dibakar Hulman harus Bertanggungjawab
DATANGI KANTOR CAMAT- Para pedagang Pasar Dwikora mendangi kantor Camat Siantar Utara, Senin(28/2).

Tidak Ada Relokasi
Terpisah, Wali Kota Pematangsiantar Hulman Sitorus didampingi Wakil Wali Kota Koni Ismail Siregar menegaskan Pemko tidak akan merelokasi pedagang Pasar Dwikora. Hal ini ditegaskannya ketika menjawab kerisauan serta keresahan para pedagang, yang menemuinya di kantor Wali Kota Pematangsiantar, Senin (28/2) sekira pukul 10.30 WIB. Perwakilan pedagang terdiri atas Ketua Himpunan Pedagang Pasar Dwikora (HIPDA) S Manurung dan Sekretaris A Pangaribuan, serta Ketua Ikatan Pedagang Pasar Dwikora (IPPD) M Tampubolon dan Sekretaris P Silalahi.

Sebagai legitimasi pernyataan itu, Pemko Pematangsiantar dan perwakilan pedagang membuat nota kesepakatan yang ditandatangan masing-masing pihak. Dalam nota itu disebutkan, pedagang diizinkan membangun kiosnya dengan dana sendiri. Namun bentuk dan bahan bangunan diseragamkan, yang terbuat berdinding batu bata dan beratap seng. Pemko tidak akan melakukan pembangunan kios baru selama masa jabatan Hulman Sitorus. Sedangkan partisipasi Pemko Pematangsiantar akan diserahkan kemudian hari, yang teknis pelaksanaannya dibicarakan lebih lanjut.

Panggil Bank Mandiri
Untuk membantu biaya pembangunan kios Pasar Dwikora, Pemko Pematangsiantar melakukan memfasilitasi kerja sama para pedagang dengan Bank Mandiri untuk memberikan kemudahan pinjaman modal. “Pemko akan memediasi kita mendapatkan pinjaman dari Bank Mandiri,” kata M Tampubolon, Ketua IPPD kepada sejumlah wartawan. Henry, seorang staf Bank Mandiri mengatakan sejauh ini belum ada kesepakatan dengan Pemko Pematangsiantar dalam hal pemberian pinjaman modal kepada para pedagang. “Belum ada kesepakatan. Maaf, saya buru-buru,” katanya, berlalu menuju mobilnya.  (mag-01/ral/osi/awa)

Tercium Bau Bensin dan Minyak Tanah
Sejumlah pedagang semakin yakin Pasar Dwikora sengaja dibakar. Alasan mereka, di saat kejadian kebakaran, tercium bau bensin dan minyak tanah yang cukup menyengat. “Pasar ini bukan terbakar, tapi dibakar oleh oknum tertentu. Karena saat kejadian sejumlah pedagang mencium aroma bensin dan minyak tanah. Tidak hanya itu, kobaran api yang disiram petugas pemadam kebakaran sebagian justru membuat api semakin marak,” terang seorang pedagang, Ida br Tambunan (50).

Warga Jalan Madura yang sehari-hari menjual kebutuhan untuk pedagang ikan itu mengatakan, sebelumnya ia sudah mendapat informasi Pasar Dwikora  akan dibakar.  “Kemarin (Minggu, red) saya di Batu Bara untuk urusan bisnis. Sorenya, anakku menelepon agar aku segera pulang. Katanya Pasar Dwikora akan terbakar,” terang Ida.
Mendengar informasi itu, Ida langsung kembali ke Siantar. Ia segera menuju Pasar Dwikora dan mengamankan barang-barang dagangannya.

“Waktu saya sampai, api mulai menyala. Karena api terlihat kecil, aku hanya menyisihkan barang daganganku. Aku lebih dulu menyimpan mesin pembersih ayam ke tempat yang aman,” terangnya. Namun tidak lama, api membesar. Padahal awalnya api yang diduga berasal dari kios pedagang rojer, cukup jauh dari kiosnya.

“Karena saya nggak yakin api akan mengenai kios saya, sebahagian barang ditinggalkan di kios. Ternyata kios saya ikut ludes,” sebutnya, sedih. “Hulman berbohong! Mengapa kemarin ia bersumpah dengan membawa nama Tuhan? Pertanggungjawabkan semua ini Pak Wali Kota!” tukasnya. (mua/awa) (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*