Kasus Suap Wisma Atlet – Adik Nazaruddin Ngaku Setor Rp16 M ke DPR

Setelah sempat mangkir dari pemeriksaan KPK pada Rabu (12/10) kemarin, adik M Nazaruddin, Muhajidin Nur Hasyim memenuhi panggilan KPK hari ini. Hasyim dipanggil sebagai saksi untuk Nazaruddin dalam kasus suap wisma atlet. Hasyim datang di kantor KPK sekitar pukul 13.50 WIB, Jumat (14/10).

Mengenakan kemeja batik warna coklat keemasan, dia datang ditemani dua orang koleganya. Hasyim sendiri bukan ‘orang baru’ dalam kasus suap wisma atlet ini. Sejak awal, pihak KPK telah meminta pencegahan untuk Muhajidin supaya yang bersangkutan tidak dapat ke luar negeri.

Mantan Direktur Keuangan Grup Permai, Yulianis, pernah mengungkapkan, M Nasir dan Mujahidin Nur Hasyim beberapa kali ikut dalam rapat pembahasan fee untuk sejumlah pihak terkait proyek pembangunan wisma atlet SEA Games, Palembang, Sumatera Selatan di kantor Permai Group. Nasir adalah sepupu Nazaruddin yang juga anggota Komisi III DPR sementara Hasyim adalah adik Nazaruddin.”Masalah fee, semua disuruh keluar, yang ada cuma saya, Bu Rosa, Bu Minarsih, kadang-kadang Pak Nasir, Pak Hasyim,” kata Yulianis saat bersaksi untuk terdakwa kasus suap wisma atlet Mindo Rosalina Manulang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (10/8) silam.

Untuk mendapatkan proyek wisma atlet, Grup Permai mengeluarkan Rp16 miliar yang diberikan kepada sejumlah pihak termasuk ke DPR. Menurut Yulianis, induk perusahaan milik Nazaruddin itu kemudian menyerahkan proyek wisma atlet kepada PT DGI dengan mendapatkan imbalan sebesar 14 persen dari pembayaran yang diterima PT DGI setiap termin.
Besaran fee 14 persen itu ditentukan dalam rapat-rapat terbatas yang dihadiri Rosa, Nazaruddin, Yulianis, dan terkadang Hasyim serta Nasir. Selain itu, disepakati pula fee 4 persen dari pembayaran termin pertama PT DGI Rp33 miliar untuk dibagikan ke daerah.

Baca Juga :  Said Aqil: 'Ngebom' dan Disambut Bidadari Itu Gombal!

”Memang selalu seperti itu. Ada meeting kecil. Setiap habis meeting besar, semua disuruh keluar, kita duduk berlima,” ujarnya.

Demi Nazaruddin, KPK Periksa Politisi PDIP
Satu per satu, politisi di DPR RI yang diseret-seret M Nazaruddin terkait kasus suap proyek Wisma Atlet SEA Games akan diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Senin (17/10) depan, KPK akan memeriksa I Wayan Koster, anggota Komisi X DPR dari Fraksi PDI Perjuangan.

Juru bicara KPK, Johan Budi, mengungkapkan bahwa Wayan Koster akan diperiksa sebagai saksi.  “Kita memang berencana memanggil Pak Wayan Koster. Jadwalnya Senin (17/10),” ujar Johan di KPK, Jumat (14/10) sore.

Seperti diketahui, Nazaruddin berkali-kali menyebut adanya aliran uang dari proyek Wisma Atlet SEA Games ke DPR. Menurut mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu, ada uang Rp 9 milar yang mengalir ke DPR melalui Wayan Koster dan Angelina Sondkah. Uang itu selanjutnya diteruskan ke Badang Anggaran (Banggar) DPR melalui Wakil KEtua BAnggar DPR dari PD, Mirwan Amir dan juga untuk Anas Urbaningrum.

Terkait tudingan itu, KPK juga pernah memeriksa Angelina Sondakh. Namun saat ditanya apakah KPK juga akan memanggil nama selain Wayan dan Angelina untuk diperiksa,  Johan memberi jawaban diplomatis. “Sejauh ini jadwalnya baru Pak Wayan Koster,” kilah Johan.

KEmarin, KPK juga memeriksa adink kandung M NAzaruddin,  Muhajidin Nur Hasyim. Salah satu pemegang saham di Permai Group itu diperiksa sebagai saksi bagi M Nazaruddin.  Hasyim diperiksa sekitar 2,5 jam yang baru berakhir sekitar pukul 16.15.

Baca Juga :  Istri kepala sekolah tewas terlindas truk di Hardiknas

Namun Hasyim memilih bungkam saat ditanya wartawan erihal pemeriksaan di KPK. HAsyim yang sudah masuk daftar larangan bepergian ke luar negeri itu haya tersenyum dan berjalan menuju mobil Mercedes Benz warna hitam dengan bernomor polisi B 234 RIK. (ara/jpnn)

jpnn.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*