Kasus Susu Berbakteri – IPB: Kami dalam Posisi Sulit

KOMPAS.com — Institut Pertanian Bogor kembali menyatakan alasan di balik penolakan mengumumkan hasil penelitian tentang cemaran susu formula. IPB bersikeras bahwa mengumumkan merek susu formula yang sampelnya dulu pernah mengandung E sakazakii bukanlah kewenangannya dan penelitian yang menjadi dasar bukanlah penelitian pengawasan.

Rektor IPB Herry Suhardiyanto menegaskan, pihaknya tidak dapat mengumumkan merek susu mengandung Enterobacter sakazakii yang digunakan dalam sampel penelitian karena bertentangan dengan etika penelitian dan etika akademik.

Pada tahun 2008, IPB memublikasikan hasil penelitian yang dilakukan peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan. Dari penelitian itu ditemukan 22,73 persen dari 22 sampel susu formula yang diteliti mengandung E sakazakii. Peneliti mengambil sampel penelitian produk susu dan makanan bayi yang beredar sejak tahun 2003 hingga 2006. Penelitian dilakukan terhadap mencit (anak tikus).

“Memang kami saat ini dalam situasi sulit. Di satu sisi, kami harus menjunjung tinggi etika akademik, di sisi lain harus patuh hukum. Saya berharap akan ada jalan keluar yang berlandaskan hukum agar kami tak perlu melanggar etika akademik karena mengumumkan merek susu formula yang sampelnya dulu pernah mengandung E sakazakii. Yang jelas, susu formula yang sekarang beredar, kan, aman,” ungkap Herry dalam pesan singkat kepada KOMPAS.com, Minggu (13/2/2011).

Herry menjelaskan, penelitian tentang bakteri E sakazakii yang dilakukan oleh Dr Sri Estuningsih itu bertujuan untuk isolasi bakteri dan kajian virologi, sebagai bagian dari kontribusi terhadap ilmu pengetahuan.

Baca Juga :  Penghematan! Ikan Bawal, Sate, dan Sayur Oyong Jadi Menu Jokowi-Kalla

“Selanjutnya, kita jadi dapat mengembangkan standar mutu pangan. Penelitian pengawasan keamanan pangan yang mengungkap merek susu formula yang aman dan tidak bukan kewenangan IPB, melainkan BPOM,” ujarnya.

Dalam hal bakteri E sakazakii, lanjut Herry, justru penelitian IPB menjadi salah satu rujukan standar mutu keamanan susu formula dengan keterlibatan Sri Estuningsih dalam sidang-sidang badan standar pangan tingkat dunia atau Codex Alimentarius Comission (CAC).

“Untuk keberpihakan kepada kepentingan masyarakat, jangan ragukan concern IPB karena salah satu tridharma perguruan tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat dan IPB punya sejarah panjang dalam hal ini,” tuturnya menegaskan.

Ditanya apakah IPB akan memenuhi kewajiban untuk melaksanakan putusan kasasi MA jika sudah menerima surat pemberitahuan dari pengadilan, Herry tidak menjawabnya secara pasti.

“Kami memang sudah memikirkan beberapa alternatif langkah. Akan kami pilih alternatif terbaik untuk masyarakat dan bangsa. Saya berharap akan ada jalan keluar yang berlandaskan hukum agar kami tak perlu melanggar etika akademik,” paparnya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*