Katong Samua Basodara

Oleh: Kolom Djoko Suud *)

Jakarta – Ambon membara. Itu setelah puluhan tahun lewat saling bertikai dan reda. Hanya gara-gara tabrakan lalin dan diprovokasi SMS, pertikaian itu tersulut lagi. Adakah perlu meniru langkah Pak Harto meramu penyatuan antar-etnis dan agama yang kini menguatkan kerukunan sepanjang jalan Trans Timor?

Tak dinyana Ambon kembali bergolak. Kecelakaan lalulintas yang menewaskan seorang tukang ojek berbuntut keonaran. Warga bentrok. Saling melempar batu, mengasah parang, menembakkan senjata rakitan, dan bakar-bakaran.

Menurut Muspida Maluku, aksi itu menelan korban jiwa 6 orang, luka berat 31 orang, dan luka ringan 139 orang. Aparat yang tanggap berhasil melokalisasi aksi. Jika tidak, maka tragedi tahun 1999 kemungkinan kembali terulang. Sebab aksi ini mirip embrio kejadian yang merambah hampir seluruh Maluku kala itu.

Secara geopolitik, Ambon memang paling rawan. Kota dan pulau ini merupakan mozaik Maluku. Di pulau ini berbagai etnis kumpul, dengan pemeluk keyakinan yang kekuatannya setara. Ditambah silang budaya, banyaknya ‘warga Belanda’ (mantan KNIL) dan ‘budaya Jakarta’ yang intens hilir mudik ke wilayah ini, maka mereka menyatu, tetapi sayang ‘belum’ kunjung bersatu. Ini yang sering menjadi pangkal gesekan.

Disebut ‘menyatu, tetapi ‘belum’ bersatu, karena tata pemerintahan di Maluku memang berbeda. Di banyak desa di pulau-pulau keyakinan warga homogen. Di Pulau Haruku, misalnya, terdapat duabelas desa yang terbagi dalam lima desa beragama Islam, dan tujuh desa beragama Kristen.

Di Pulau Saparua mayoritas Kristen, Kepulauan Kei mayoritas Kristen, Pulau Ina mayoritas Islam, Pulau Geser mayoritas Kristen, Pulau Seram mayoritas Islam (karena tambahan warga transmigran dari Jawa, Suku Laut Sawai, dan pendatang dari Buton Sulawesi Tenggara), Pulau Buru mayoritas Islam, Pulau Yamdena mayoritas Kristen, dan Pulau Sanana, Bacan, Tidore, serta Ternate mayoritas Islam. Sedang di Pulau Halmahera, Jailolo ke bawah beragama Islam, ke atas hingga Morotai beragama Kristen.

Kondisi seperti itu memudahkan warga diprovokasi. Makin sensitif lagi pasca tragedi tahun 1999 yang membuat warga trauma. Mereka telah kehilangan kepercayaan terhadap tradisi panaspela yang mewajibkan melindungi ‘saudara’ beda agama jika diserang lain agama. Dan mungkin saja sejak itu basodara yang beda keyakinan tidak saling kunjung membina kekerabatan akibat perbedaan itu.

***

Jika surut ke belakang, hakekatnya mereka memang bersaudara. Moluko Kie Raha sebutan empat Kerajaan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo, di Ambon Kerajaan Hitu, di Pulau Haruku Amarima Hatuhaha, lima kerajaan, di Pulau Seram kerajaan Hoamoal, dan di Saparua Kerajaan Iha dan Honimoa. Semua kerajaan beragama Islam, yang dipeluk sejak abad XIV.

Baca Juga :  Hanya Orang Gila Mau Peduli Dengan PSSI

Jejak Islam itu kian mengental dengan melekatnya idiom itu pada salahsatu suku asli daerah ini, Alifuru. Suku ini malah mengklaim diri sebagai manusia pertama (alif = pertama, uru = manusia) yang berasal dari India belakang. Juga tempatnya tinggal, yaitu Pulau Seram. Tak salah juga jika seorang peneliti asing menyebut pulau ini kepurbaannya menyamai India dan disebutnya sebagai The Son of the Sun. Dan ini terkadang yang membuat kita percaya dengan sigi Prof Arysio Santos yang bukunya pernah buming di Indonesia, Atlantis The Lost Continent Finally Found.

Namun bagaimana kebesaran masalalu itu bisa luluhlantak dan kini warganya ‘gampang’ diadu? Itu memang karena kolonialisme. Pelaut Spanyol dan Portugal berburu cengkeh berlabuh di Teluk Halmahera, belakangan Belanda di jantung Ambon. Mereka berkelahi antar-mereka, imbasnya anak negeri diprovokasi, diberi senjata untuk baku-tembak, dan basodara itu saling memusuhi.

Memang itu karena kekayaan rempah-rempah Maluku di abad-abad yang menjadi buruan. Apalagi karakter bangsa Eropa beda dengan bangsa China. Bangsa Eropa meningkatkan hegemoni perdagangannya dengan menjajah, bertolak belakang dengan China yang melakukannya dengan akulturasi budaya (baca : the silk road). Maka sampai kini, kalau mau mengitari wilayah ini, kita seperti melihat miniatur bangsa-bangsa di dunia. Berbagai bangsa ada di kawasan ini, berbagai peristiwa melatari, dan mereka anak-cucu peradaban masalalu yang sekarang menjadi warga Indonesia. Terus bagaimana agar damai terjaga di Maluku?

Pertama adalah kesadaran warga Maluku untuk kembali menelisik asal-muasal, bahwa ‘katong samua basodara’. Ini membutuhkan totalitas akal dan batin untuk saling sadar diri tidak emosi dan tidak terprovokasi pihak lain. Sebab senjata itu pula yang digunakan penjajah untuk merongrong kekuatan dan harmonisasi di Maluku.

Jika itu dirasa sulit dilakukan akibat trauma yang belum sembuh, gagasan yang direalisasi Pak Harto di Pulau Timor layak untuk diterapkan di kawasan ini. Dalam menyatukan ratusan etnis yang karakternya hampir sama dengan Maluku akibat penjajah yang menerapkan politik adu-domba, Pak Harto mendatangkan tiga suku untuk ditransmigrasikan ke daerah ini.

Baca Juga :  Kepentingan Di Atas Kepentingan

Suku Jawa, Suku Bali, dan Suku Flores dibangunkan rumah dan lahan di sepanjang jalan Trans-Timor yang terbentang dari wilayah Timor Tengah Selatan (TTS) hingga mendekati Kota Dili (yang sekarang milik Timor Leste). Mereka secara pseudo jadi mentor untuk bercocok-tanam dan hidup rukun sesama. Ini sangat penting. Sebab dalam pemahaman kebanyakan suku-suku di daerah ini, suku yang lain itu adalah ‘musuh’. Itu pula yang menjadikan bukit atau jurang sebagai tempat tinggal. Takut membangun rumah dekat jalan raya.

Selain sebagai mentor (melalui kegiatannya sehari-hari), para transmigran itu juga dipakai sebagai bridger, jembatan komunikasi dan sosialisasi. Rumah dan lahan itu letaknya disilang-silang. Setelah rumah Suku Jawa, dibangunkan rumah Suku Kemak, rumah Suku Bali, rumah Suku Bunak, rumah Suku Flores, rumah Suku Tetun, dan seterusnya. Berkat itu, salahsatunya, ‘perang suku’ minim terjadi, dan sepanjang Trans Timor terbentang ladang subur dan perumahan yang social ekonominya bagus. Bagaimana dengan Ambon?

Saya berdoa dalam tangis ketika melihat saudara-saudara saya saling bertikai. Saya bersyukur kini Ambon mulai mereda. Sebab biar bukan kelahiran Maluku, saya punya banyak saudara di tiap pulau wilayah ini. Berbeda-beda agama dan etnis, tetapi mengisi lubuk hati saya yang terdalam.

Saya trenyuh menyaksikan para tetua adat dan pemangku agama saling rangkul dan mengikat ikrar untuk berdamai. Saya berdoa damailah selamanya. Itu agar kebesaran masalalu tidak hanya menjadi artefak, tetapi kebesaran Maluku itu adalah kebesaran masa depan. Sebab hakekatnya katong samua basodara, tamang ! (detik.com)

* Djoko Suud, budayawan tinggal di Jakarta

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*