KDH Se Tabagsel Harus Sikapi Kabut Asap

METROSIANTAR.com, SIDIMPUAN – Kepala Pemerintah Daerah (KDH) se-Tapanuli Bagian Selatan diminta mengambil tindakan tegas untuk menuntaskan permasalahan kabut asap. Sebab hal itu sangat berdampak terhadap kondisi kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak di bawah umur yang rentan terinfeksi ISPA.

“Banyak penyakit yang akan diderita masyarakat akibat kabut asap yang terus menyelimuti di sekitar kita. Salah satunya gangguan pernafasan yang dapat mengakibatkan batuk-batuk dan sakit kepala. Kabut asap ini juga sangat berbahaya bagi anak di bawah umur, karena mereka sangat rentan terkena penyakit,” ujar Direktur LSM Paladam Subanta Rampang Ayu, Kamis (6/3).

Dia mengatakan, pada dasarnya sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, setiap daerah mempunyai kewenangan untuk menyelesaikan permasalahan kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayahnya.

Akan tetapi, jika kerusakan lingkungan tersebut terjadi di wilayah lain atau di luar daerahnya, maka kepala daerah berhak menyurati pemerintah daerah yang bersangkutan untuk menyelesaikan permasalahan kerusakan lingkungan, dikarenakan berdampak terhadap wilayah lain.

“Namun kita melihat belum ada upaya-upaya yang dilakukan kepala daerah untuk menyikapi permasalahan kabut asap ini. Karena permasalahan ini akan mempunyai dampak yang fatal jika dibiarkan secara terus menerus oleh setiap daerah. Salah satunya dampak penyakit ISPA yang dirasakan oleh masyarakat. Oleh sebab itu kita meminta agar KDH se Tabagsel melaksanakan perintah Undang-undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan baik,” ujarnya.

Baca Juga :  Penggunaan dana BOS perlu diaudit

Kabut asap sudah hampir tiga minggu menyelimuti Tabagsel. Setidaknya ada upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut, baik itu ke tingkat gubernur maupun menteri. Sehingga dapat ditindaklanjuti oleh daerah yang bersangkutan atau daerah yang terjadi kerusakan lingkungannya.

“Apa kita terus-terusan diam dan tidak ada tindak lanjut dari KDH untuk mengantisipasi permasalahan ini? Berikan surat tertulis kepada pemerintah atasan, sehingga permasalahan ini dapat ditangani dengan baik,” jelasnya.

Sementara Kepala Bidang Pelayanan Data dan Informasi BMKG Sumut Hendra Suwarta mengatakan, memang waktu yang paling sering terjadi kebakaran hutan berada di musim kemarau atau bulan Februari hingga Maret. Berdasarkan data yang diperoleh, sampai saat ini arah angin masih dari timur, sehingga kabut asap yang menyelimuti Tabagsel sebagian berasal dari Provinsi Riau serta wilayah Madina dan Tapsel, atau tepatnya dari kebakaran hutan yang terjadi.

“Sampai saat ini belum ada perubahan dan masih tetap terjadi kabut asap di Tabagsel. Sedangkan arah anginnya masih tetap dari timur, artinya asap berasal dari Riau serta Madina dan Tapsel yang baru-baru ini terjadi kebakaran hutan. Kabut Asap akan hilang setelah semua api padam,” ujarnya. (bsl)

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  30 Anggota DPRD Palas Priode 2014-2019 Diambil Sumpah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*