Keanehan Perilaku Merapi

Ini adalah pemandangan detik-detik meletusnya Gunung Merapi yang mengeluarkan debu vulkanik serta awan panas (wedus gembel) yang terjadi unutk kesekian kalinya, Senin (1/11/2010). Akibat letusan tersebut membuat para pengungsi yang berada di tenda-tenda pengungsian di bawah Gunung Merapi panik dan mencoba menyelamatan diri. (tribunnews)

Meletus tanpa henti selama dua hari tidak menguras energi Gunung Merapi. Dari Kamis tengah malam hingga kemarin dinihari, gunung paling aktif di dunia itu menyemburkan debu hingga ke ketinggian 8 kilometer dan mengirim awan panas sejauh 15 kilometer.

Akibatnya, sekurang-kurangnya 72 orang tewas, 77 orang menderita luka bakar parah, dan lebih dari 100 ribu orang mengungsi. Sebanyak 32 desa di Magelang, Sleman, Klaten, dan Boyolali menjadi zona maut. Pemerintah memutuskan memperluas zona rawan menjadi 20 kilometer dari puncak Merapi.

“Ini sangat luar biasa. Pada erupsi 2006, luncurannya hanya 6 kilometer,” kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kemarin.

Luncuran awan panas itu tercatat sebagai kiriman terbesar Merapi sejak meletus 26 Oktober lalu. Jangkauan awan panas kian jauh karena debu bersuhu 500-600 derajat Celsius itu mulai meluncur tanpa hambatan akibat sungai-sungai di wilayah tersebut telah penuh material vulkanik dan permukaan gunung sudah gundul.

Menurut Igan Sutawijaya, peneliti gunung api dari Badan Geologi Bandung, aktivitas Merapi yang tak kenal istirahat ini merupakan anomali dari perilakunya selama ini. “Merapi punya siklus yang baik sekali, tapi kini tampaknya kelakuannya berubah,” kata dia.

Siklus letusan Merapi yang teratur bahkan menjadikan nama gunung ini diabadikan sebagai nama salah satu tipe khas gunung api, yakni tipe Merapi. Gunung api tipe Merapi akan menggugurkan kubah magma yang terbentuk di puncak gunung setiap 4-8 tahun sekali.

Baca Juga :  Tsunami Mentawai - Korban Tewas 108, Hilang 502 Orang

Dalam sepekan ini, aktivitas Merapi sudah menggerus habis kubah magma di permukaan gunung. Hancurnya kubah pelindung itu menyebabkan letusan Merapi vertikal dan membentuk kolom asap yang terlihat seperti pohon beringin di puncak gunung. “Abu dari kolom asap inilah yang tertiup angin dan menyebar ke mana-mana,” ia menjelaskan.

Dengan hancurnya kubah Merapi, seharusnya energinya sudah berkurang karena sebagian besar tenaganya telah digunakan untuk menghancurkan kubah. Namun getaran hebat yang terasa
hingga sejauh 25 kilometer pada kemarin dinihari mengindikasikan tekanan magma yang sangat dalam, 6-8 kilometer, padahal tekanan magma pada 2006 kedalamannya hanya 1-2 kilometer. “Apa yang terjadi sekarang kantong fluida yang begitu dalam, tekanan magma mencapai 6-8 kilometer,” kata Surono. Tekanan inilah yang membuat letusan Merapi jauh lebih besar dibanding pada 2006.

Surono menyatakan amuk Merapi kali ini bisa disetarakan dengan letusan pada 1930, yang menciptakan hujan kerikil hingga ke Madura.

Berdasarkan informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), volcanic explosivity index Merapi kini mencapai angka 3 hingga 4. Erupsi normal Merapi biasanya sekitar 1 hingga 2. Indeks yang merusak berkisar antara 5 dan 6.

Merapi pernah mencapai indeks 5 hingga 6, yang menyebabkan hancurnya Kerajaan Mataram kuno dan mengubur candi-candi di sekitar Yogyakarta. Candi tersebut mengandung abu vulkanik walaupun jaraknya jauh dari Merapi.

Baca Juga :  Terima Kasih Obatnya, Pak Tentara...

Pengamat gunung api, Mas Ace Purbawinata, memperkirakan erupsi Merapi tak akan berhenti dalam waktu dekat. “Tidak seperti biasanya yang hanya satu atau dua hari,” kata mantan Kepala BPPTK Yogyakarta ini.

Subandrio, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta, menyatakan aktivitas Merapi sudah agak mereda. “Tetapi bukan berarti sudah tidak ada erupsi. Sebab, tekanan magma dari dalam masih kuat,” katanya.  Tempointeraktif.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*