Kebakaran Hutan Tanggung Jawab Siapa?

api membakar hutan florida Kebakaran Hutan Tanggung Jawab Siapa?Oleh : Lori Mora *)

Kebakaran hutan seolah menjadi peristiwa rutin kita setiap tahunnya. Hal itu kebanyakan terjadi saat musim kemarau yang membawa dampak El Nino. Dan lagi-lagi Riau memberitakan kabar bahwa hampir seluruh wilayahnya terkepung oleh asap tebal akibat dari kebakaran hutan beberapa waktu yang lalu.

Fenomena kebakaran hutan di Indonesia memang sudah dianggap lazim. Diantaranya beberapa kota yang rentan dengan kebakaran ini seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Lampung, Jambi dan Riau. Pengaruh hutan produksi yang banyak berpotensi sebagai lahan baru atau landing clearing sangat besar. Oleh karena itu, acapkali persoalan yang cukup memprihatinkan ini terjadi.

Namun tampaknya kita sedang lalai dengan persoalan yang justru menyangkut keberlangsungan ekosistem hutan serta kehidupan manusia ini. Maka kamus “Bertindak Setelah Kejadian” pun kerapkali dikumandangkan. Apa yang salah?

Lagi-lagi peribahasa “Sedia Payung Sebelum Hujan” itu pun tampaknya sudah basi dan enggan dipraktekkan. Beberapa waktu yang lalu beragam berita dalam berbagai peristiwa dikumandangkan lewat media, namun berita tentang Riau dikepung oleh asap dan kabut tebal menjadi sorotan utama saya. Entah mengapa rasanya hal itu sangat vital bagi kehidupan, tak hanya ekosistem hutan – besar kemungkinan adalah spesies langka – yang sedang terancam namun kehidupan manusia. Seperti asap yang menyelubungi seluruh atmosfer dan berdampak pada kesehatan. Apakah itu masih belum penting?

Ini tak hanya sekedar persoalan Nasional namun juga telah merambat hingga dunia Internasional karena negara tetangga seperti Singapore dan Malaysia pun kecipratan asap oleh dampak kebakaran hutan di Riau.

Masifnya kebakaran hutan yang terjadi sejak tahun 1997 – 2011, menobatkan Indonesia sebagai pelanggan kebakaran hutan setiap tahunnya. Meskipun dunia Internasional menghunjuk Indonesia sebagai salah satu paru-paru dunia dengan luas hutan yang dimilikinya berkisar hingga 133.4 juta ha (data tahun 2009). Saat ini pernyataan itu sudah kehilangan makna karena faktanya kekayaan itu sudah dibabat habis oleh kita sendiri sebagai manifestasi rasa ketidakpedulian akan hak milik bangsa yang harus dilestarikan.

Luasnya hutan Indonesia ternyata hanya sekedar angka. Hampir separuh dari total hutan kita dinyatakan sudah rusak baik akibat kebakaran, illegal loging, dan pembukaan lahan baru (land clearing), dan konservasi lahan Perkebunan Sawit oleh swasta.

Sebagai peristiwa berulang, kebakaran hutan harusnya menjadi hal yang sangat serius. Miris rasanya ketika Pemprov tertentu hanya mengurusi pembagian masker kepada masyarakat tanpa bertindak tegas terhadap peristiwa yang terjadi secara langsung dan membiarkan beberapa orang Polisi Hutan saja yang bertanggung jawab dalam proses pemadaman dan pengawasan.

Baca Juga :  Dihempas Cobaan Bertubi-Tubi, Siapa Yang Tahu Kapan Semua Susah, Sedih, Dan Derita Ini Akan Berakhir…?!

Sepertinya undang-undang kehutanan tidak lagi menjadi patokan utama dalam hal bertindak tegas dan benar untuk melindungi aset-aset vital negara seperti hutan. Hampir tidak pernah terdengar penindaklanjutan terhadap pihak yang melakukan pembakaran, baik sengaja maupun tidak sengaja. Benarkah perundang-undangan tidak menetapkan hukum yang berlaku terhadap pelaku pembakaran hutan tersebut?

Konservasi Hutan

Adalah bijak bila kita sudah siap sedia sebelum sesuatu terjadi diluar dugaan. Kekurangan itulah yang masih melekat dalam lembaga-lembaga pemerintahan saat ini. Beruntunnya kejadian yang terjadi baru-baru ini tak juga menjadikan kita untuk lebih berbenah diri demi keselamatan berbagai aset vital negara. Pemerintah haruslah sigap dalam mengembangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi serta maksimal dalam pelaksanaannya.

Demikian halnya peristiwa kebakaran hutan di Riau yang diberitakan oleh media bahwa hampir sekitar 227 titik api yang ada di provinsi itu. Tingginya titik api atau hot spot tersebut menjadi sebuah tanda tanya besar terhadap lembaga penanggung jawab kehutanan atas pencegahan terhadap ancaman kelestarian hutan.

Konservasi hutan harusnya terus dilakukan mengingat baik hutan lindung, hutan konservasi (taman nasional, cagar alam, taman wisata), hutan produksi dan sebagainya sebagai paru-paru dunia. Keseluruhan kategori hutan tersebut tetap dibawah tanggung jawab pemerintah provinsi maupun daerah. Sebagai tindakan nyata perlindungan terhadap paru-paru dunia itu dari berbagai ancaman seperti pembukaan lahan dengan sistem bakar, illegal logging, serta pengelolaan yang tidak berkelanjutan, konservasi harus dititikberatkan pada perlindungan ekosistem hutan dari berbagai gangguan yang menyebabkan kerusakan.

Pengamanan seluruh kawasan hutan jauh lebih penting melalui pengawasan dengan patroli oleh Polisi Hutan yang cukup. Serta dengan pemberdayaan masyarakat sekitar dengan memberi pengarahan seputar pentingnya hutan sebagai penyangga hidup.

Konservasi hutan tidak hanya penting untuk menghindari ancaman kebakaran namun jauh lebih penting untuk melestarikan segala makhluk yang terdapat di dalamnya serta mengingat fungsi hutan sebagai sumber air. Demikian pula dengan perizinan bagi para pengusaha swasta yang akan membuka lahan, kiranya lebih memberikan pengawasan ekstra terkhusus dengan sistem bakar lahan yang seringkali dilakukan.

Pembaharuan Kerusakan Hutan

Apabila kebakaran hutan masih terus berlangsung, maka bank Dunia memperkirakan hutan Indonesia akan habis dalam kurun waktu 10 – 15 tahun lagi. Akibat kerusakan atau gangguan terhadap kelestarian hutan akan menyebabkan gangguan terhadap keseimbangan alam seperti erosi, banjir dan tanah longsor, krisis oksigen (O2), peningkatan global warming serta musim kemarau yang berkepanjangan.

Baca Juga :  Nasionalisme yang Terancam

Kecenderungan penyebab kerusakan hutan umumnya disebabkan oleh illegal logging, perambahan pertanian, pertambangan dan kebakaran akibat pembukaan lahan.

Kerusakan hutan itu harus diberi perhatian tidak malah membiarkan begitu saja dan berharap akan mampu memperbaharui dirinya sendiri. Seperti peristiwa klise kebakaran hutan diserahkan kepada 13 lembaga terkait dalam hal pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Inpres No 16/2011).

Dua masalah kehutanan terbesar Indonesia yang selalu berulang dan paling besar merugikan negara adalah kebakaran hutan dan Illegal loging. Kebakaran hutan menyebabkan seluruh ekosistem hutan mati. Seperti kebakaran di Riau, dengan tingginya suhu udara serta kemarau yang panjang menjadi pemicu terjadinya kebakaran akibat pembakaran lahan pertanian baik oleh masyarakat dan pengusaha swasta yang membuka lahan.

Pengawasan berkonsentrasi tinggi harus dilakukan bagi pengusaha swasta. Dan kabar baik yang beredar bahwa pemerintah Provinsi Riau telah mengadakan pelatihan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) kebakaran dan lahan terhadap masyarakat dan mudah-mudahan itu merupakan jalan baik untuk mencegah kebakaran hutan kembali.

Untuk masalah illegal logging yang seringkali dilakukan oleh pihak tak berwajib, harus ditindak tegas oleh pemerintah sesuai dengan hukum perundang-undangan. Baik pemerintah daerah yang tetap menjalankan tanggung jawabnya untuk melindungi kelestarian hutan, bukan malah melanggar ketetapan yang ada, menjadikan hutan sebagai lahan produksi kayu yang dapat ditebang hingga di luarbatas kuantitas. Untuk hutan yang telah gundul dibutuhkan reboisasi kembali.

Dengan demikian, pemerintah diharapkan lebih berbenah diri dan keikutsertaan masyarakat menjadi sangat vital dalam hal kerja sama dengan pemerintah. Kesadaran pentingnya hutan sebagai paru-paru dunia atau sumber oksigen (O2) dan air merupakan manifestasi terciptanya keseimbangan alam. Semoga berbagai daerah rawan bencana tersebut diingatkan kembali melalui kebakaran Hutan di Riau*** (sumber: analisadaily.com)

*) Penulis adalah Anggota Komunitas Peduli Sosial dan Berdomisili di Medan.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*