Kecil Peluang di 2014, Parpol Baru Masih Bisa Berjuang

Jakarta – Peluang partai politik baru yang akan berlaga di tahun 2014 dinilai kecil. Berbagai macam hambatan menghadang, namun masih ada yang bisa dilakukan. Apa saja?

Koordinator Nasional Komite Pemilih Indonesia Jeirry Sumampow memaparkan beberapa hambatan. Secara administratif saja, menurut UU 2/2011 tentang Partai Politik, parpol harus memenuhi presentase kepengurusan parpol dari daerah ke pusat dan parliamentary threshold (PT) yang makin meningkat.

Hingga saat ini, masih ada 4 parpol yang baru mendaftarkan diri di Kemenkum HAM. Partai-partai yang suaranya signifikan namun tidak lolos PT juga diperkirakan akan mendaftar kembali.

“Salah satunya PDS, yang akan berjuang untuk dapat posisi signifikan di 2014. Ada juga PBB, PKNU, PBRN beberapa partai yang cùkup besar suara tapi tidak lolos PT,” ujar Jeirry.

Hal itu disampaikan Jeirry dalam diskusi Prospek Partai Baru dalam Pemilu 2014 di Galeri Cafe, Jalan Cikini Raya, Minggu (1/5/2011).

Selain hambatan administratif, ada juga hambatan sosial, yaitu apatisme publik pada parpol. Kemudian citra parpol yang di mata publik makin buruk.

Di tingkat parpol sendiri juga memiliki problem. Yaitu minimnya figur yang mengangkat parpol.

“Lihat pengalaman sebelumnya, figur penting untuk dapat suara signifikan,” jelas Jeirry.

Kemudian pengorganisasian parpol. Jeirry memberikan contoh Gerindra dan Hanura yang konsolidasinya tidak sesemangat ketika akan pemilu.

Baca Juga :  Markus Pajak Rp 25 M Gayus Kabur, Polri Tidak Profesional

“Di kantor-kantornya cenderung tidak ada apa-apa. Artinya pengorganisasian belum cukup profesional,” jelasnya.

Jeirry menyebut masalah lain yang tak kalah penting yaitu keterbatasan dana parpol.

Sementara pendiri Formappi, Tommy Legowo, mengakui bahwa peluang partai baru kecil. Namun ada beberapa peluang yang masih bisa dilakukan.

“Masih ada 3 tahun memberi peluang partai-partai baru,” kata Tommy.

Setidaknya ada 4 hal yang bisa dilakukan, yaitu mengumpulkan dana dari sekarang. Bisa dari iuran-iuran anggota dan kader-kadernya.

Kedua, memperkuat jejaring di 33 provinsi seluruh Indonesia. Ketiga, perilaku pemilih yang masih mengandalkan tokoh membutuhkan figur parpol yang kuat.

“Seperti Gus Dur dengan PKB, tapi saya mempunyai 3 tokoh yang kuat yakni Surya Paloh, Sultan dan JK,” jelasnya.

Terakhir, parpol baru harus memiliki isu yang kuat untuk diangkat. “Seperti Nasdem dengan isu restorasinya,” tutur Tommy. (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*