Kehadiran PT Sorik Mas Mining di Madina Perlu Ditinjau Ulang

Sorikmarapi Kehadiran PT Sorik Mas Mining di Madina Perlu Ditinjau Ulang
Gunung Sorik Marapi

Medan, Anggota DPRD Sumut Tiaisah Ritonga mengatakan, keberadaan PT Sorik Mas Mining di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) perlu ditinjau ulang. Karena perusahaan penambangan emas itu, lebih banyak membawa mudarat ketimbang manfaat bagi masyarakat.

“Kehadiran PT SMM di Madina telah merusak ekosistem lingkungan, karena selama proses eksplorasi mereka tidak mempertimbangkan dampak lingkungan. Malah menyisakan kerusakan ekosistem yang kasat mata”, kata politisi Partai De-mokrat yang baru saja melakukan reses di Madina kepada wartawan di gedung dewan, Jum’at (14/5).

Anggota Komisi B DPRD Sumut dari Dapil Sumut 6 meliputi Tapsel, Palas, Paluta, Padangsidimpuan dan Madina itu mengatakan, pihaknya sudah pernah membahas kasus PT SMM ini di komisi.  Bahkan kepada Badan Investasi Sumut sudah dimintakan agar memperlihatkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AM DAL) PT SMM, namun sampai kini tak kunjung diserahkan walau sudah dijanjikan akan diserahkan kepada dewan.

Dalam reses kemarin, Tiaisah menerima laporan dari warga Madina yang mengaku resah atas kehadiran PT SMM di daerah itu. Apalagi ternyata dalam operasionalnya, PT SMM juga melakukan ekplorasi di kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). “Kita minta operasional PT SMM di areal TNBG distop dan operasional/ ekplorasi di luar kawasan TNBG ditinjau ulang. Perusahaan asal Australia itu harus memperhatikan dampak lingkungan”, katanya.

Bencana alam

Tiaisah mengatakan, jika operasional PT SMM di TNBG tak dihentikan bukannya tak mungkin bencana alam tinggal menunggu waktu di Madina. Kawasan TNBG adalah kawasan resapan air strategis di Madina yang meliputi luas 386.455 hektare atau sekitar 58,8 persen total luas kabupaten itu.

Baca Juga :  Kejari Panyabungan Dalami Dugaan Korupsi di DKP Madina

Kawasan resapan air ini sangat berharga untuk menjaga ketersediaan air bagi 360 ribu warga di seantero kabupaten Madina, sebab mengaliri lebih dari 34.500 hektare sawah, dan 43 ribu hektare perkebunan kopi dan karet rakyat.

”Operasi pertambangan ini jelas akan sangat mengancam kawasan tangkapan air dan penduduk yang bergantung hidupnya pada kelestarian TNBG,” tutur dia. Informasi diperoleh Tiaisah Ritonga, lahan potensial tambang emas SMM hanya 200 hektar dengan nilai deposit sebanyak 15 ton emas. Namun perusahaan menguasai lahan mencapai 1.000 ha, termasuk di antaranya malah masuk wilayah TNBG.

Selain itu, laporan dia terima selama beroperasi di Madina enam tahun lebih dengan biaya sekitar US$ 20 juta, perusahaan ini dikabarkan hanya memberikan pemasukan bagi Pemkab Madina sebesar Rp 27 juta setiap tahunnya dengan areal eksplorasi seluas 60 ribu hektar.  “Jumlah tersebut relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan kerusakan alam yang ditimbulkannya. Maka kita mengatakan mudaratnya lebih besar ketimbang manfaatnya”, ujar Tiaisah.

Walau Kabupaten Madina membutuhkan sumber PAD guna memacu pembangunan, namun Tiaisah Ritonga mengatakan, tidak mesti mengorbankan kelestarian hutan. Ka-rena sektor pertambangan tidak menjadi satu-satunya suber PAD bagi Madina, malah masih banyak sektor lain yang dapat dilirik seperti sektor wisata, agrobisnis dan lainnya. Tiaisah juga menyoroti kinerja PTPN IV di Madina yang berencana membuka areal kebun dengan pola plasma. Sistem yang dibangun PTPN IV dia nilai cenderung merugikan rakyat, karena PTPN malah menyuruh rakyat mencari lahan untuk kebun plasma. (di)

Baca Juga :  Kerusakan Jalinsum Sosopan Makin Parah - Badan Jalan Terbelah

Sumber: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=55010:kehadiran-pt-sorik-mas-mining-di-madina-perlu-ditinjau-ulang&catid=31:umum&Itemid=143

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*