Kejam! Untuk Melunasi Biaya Perawatan di RS Banjarbaru, Pasien Kanker Dijadikan Office Boy Rumah Sakit

Kasus seorang pasien penderita kanker otak yang disuruh bekerja sebagai office boy (OB) untuk melunasi biaya perawatan di RS Banjarbaru mengagetkan anggota DPRD setempat.

“Jika terbukti benar maka dari segi kemanusiaan itu tidak etis dan jelas itu sudah keterlaluan,” ujar anggota komisi I DPRD kota Banjarbaru, Ririk Sumari, Sabtu (2/10/2010).

Seperti diberitakan, Novel Budi Pratama (23), pasien penderita kanker otak, harus menjadi OB di RS Banjarbaru sekitar sebulan untuk melunasi utang sebesar Rp 750 ribu. Selama bekerja sebagai OB pihak rumah sakit ‘menahan’ ijazah milik Novel. Selasa (28/9/2010), pihak rumah sakit mengembalikan ijazah Novel. Rabu (29/9) malam, Novel kabur ke Banjarmasin.

Menurut Ririk, patut dicurigai kemungkinan adanya oknum yang bermain dari pihak rumah sakit. “Keterlulan jika sampai mengeluarkan kebijakan semacam itu,” tegasnya.

Dia mengatakan jika kondisinya benar seperti itu, jelas melanggar hak asasi manusia. “Jelas melanggar hak asasi manusia, orang mau sembuh dan setelah sembuh kok disuruh kerja. Perlu diusut,” tegas Ririk.

Secara terpisah, Kepala TU RSUD Banjabaru Muhammad Noor, membantah Novel pernah terdaftar menjadi pasien dan bekerja di rumah sakit itu.

“Tidak ada nama yang dimaksud, baik di tenaga kerja kontrak atau tetap. Pun dicari ke tiap kamar jika memang benar terdaftar sebagai pasien, tidak ada dalam daftar buku pasien atas nama tersebut,” ujarnya

Baca Juga :  Citigold Dibekukan, Citibank Kehilangan Rp 12 Miliar per Hari

Namum, menurut dia, bila benar apa yang diceritakan Novel benar terjadi, hal itu jelas melanggar dan tidak benar.

“Prosedurnya jika seorang pasien kehabisan uang tapi harus melunasi pembayaran. Betul harus ada jaminan berupa identitas diri. Lalu, membuat surat pernyataan. Bukan disuruh bekerja,” katanya.

Di satu sisi, kata Muhammad Noor, pasien tentu berkewajiban melunasi biaya perawatan. Dan semua itu harus dilaporkan ke Pemko Banjarbaru dalam bentuk berita acara. .

Muhammad Noor mengatakan,  pihaknya telah mencari sampai ke database pasien dan nama Novel tak ditemukan. “Jika benar ada, pengawainya akan diberi sanksi,” pungkasnya.

Hal yang sama diungkapkan Aji, OB yang dua tahun terakhir bekerja di RS Banjbaru. “Wah, saya tidak mendengar pekerja atas nama Novel. Tapi bisa saja ada permainan,” katanya.

Senada, Kepala cleaning services (CS) Mahdin menuturkan, dalam setahun terakhir jumlah karyawan di bagian CS hanya 17 orang dan tak pernah ada penambahan.

“Semua di bawah pengawasan saya. Jika ada yang baru harus sepengetahuan dan persetujuan saya. Tapi ya di satu sisi apa yang diberitakan itu bagus dan saya mendukung. Tidak benar jika memberlakukan prosedur seseorang harus menggantinya biaya pelunasan dengan bekerja,” katanya.

Hingga Sabtu (2/10/2010) malam, Novel tidak bisa dihubungi. Upaya BPost mengkonfirmasi ulang soal dirinya menjadi OB, tak berhasil karena dua nomor HPnya tidak diaktifkan.

Baca Juga :  "Quick Count" Sementara LSI: Jokowi-JK 55,91 Persen, Prabowo-Hatta 44,09 persen

Sebelumnya, Jumat (1/10/2010) dia mengaku pernah jadi pasien dan bekerja sebagai OB di rumah sakit tersebut.

“Ah masa, jelas-jelas saya bekerja kok di rumah sakit tersebut. Sebulan kurang sembilan hari. Sebelum akhirnya saya kabur,” katanya.

Sumber: http://www.tribunnews.com/2010/10/03/kejam-pasien-kanker-dijadikan-office-boy-rumah-sakit

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*