Kekeringan, Sawah di Binjai Tak Berfungsi

(Analisa/wardika aryandi) KERING: Kondisi areal persawahan di Kelurahan Jati Makmur Kecamatan Binjai Utara terlihat mengering, Jumat (25/4). Kondisi itu terjadi menyusul rendahnya curah hujan di Kota Binjai dalam lima bulan terakhir hingga membuat sebagian besar areal persawahan di kawasan itu tidak dapat difungsikan.

Binjai, (Analisa). Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah pertanian di Kota Binjai akibat menurunnya curah hujan sejak lebih lima bulan terakhir menyebabkan sebagian besar areal persawahan di kawasan itu tidak berfungsi. Tidak hanya sawah tadah hujan, kekeringan juga dialami sawah irigasi.

Kondisi itu membuat banyak petani padi di empat kecamatan di Kota Binjai mengurungkan niat mereka mengelola lahan persawahannya dan lebih memilih menunda masa tanam padi atau menggantinya dengan tanaman lain, sembari menunggu curah hujan kembali normal.

Seperti diungkapkan Suprapto (43) salah seorang petani warga Kelurahan Sumber Mulioredjo Kecamatan Binjai Timur, Jumat (25/4). Menurutnya, kekeringan secara langsung merubah pola tanam padi para petani. Sebab dengan tidak adanya pasokan air kebutuhan pengairan sawah membuat seluruh petani padi di tempat tinggalnya justru memilih menunda masa tanam, yang biasa dimulai sejak Maret hingga Mei.

Untuk mencukupi kebutuhan pangan ataupun sekadar mencari penghasilan tambahan, ia dan beberapa petani lain berinisiatif mengganti jenis tanaman mereka dengan beberapa jnis tanaman pangan semusim lainnya, seperti jagung, kacang-kacangan, umbi-umbian, maupun sayuran.

Baca Juga :  Samosir Harus Jadi Tujuan Wisata yang Aman

Bahkan, kondisi lahan persawahan yang terbengkalai karena cenderung dibiarkan kering dan ditumbuhi semak belukar membuat beberapa petani maupun pemilik lahan memilih memanfaatkannya sebagai areal penggembalaan hewan ternak alternatif.

[iklan size=’kiri’]”Tidak mungkin kita tetap paksakan tanam padi, kalau memang tidak air. Yang ada nantinya malah dapat rugi. Kalau pun mau ya kita pilih tanami sayuran atau dijadikan tempat angon (menggembalakan) lembu. Hitung-hitung menunggu hujan datang,” tutur Suprapto.

Di sisi lain, menurunnya curah hujan juga berdampak terhadap penurunan ketersediaan sumber air tanah pada beberapa kawasan pemukiman. Kondisi tersebut tentu saja mulai dikeluhkan warga, terutama bagi mereka yang menggantungkan kebutuhan air bersihnya dari air sumur.

Rukmini (52), salah seorang warga Kelurahan Jati Makmur Kecamatan Binjai Utara, misalnya. Akibat kekeringan panjang, volume air sumurnya maupun aliran sungai di sekitar kawasan tempatnya tinggal, juga ikut menurun hingga nyaris kering.

Guna memenuhi kebutuhan air bersih terutama untuk minum dan masak, ia terpaksa membeli air kemasan. Sedangkan untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), ibu beranak tiga ini memilih memanfaatkan air sumur yang masih tersisa, karena tidak tersedianya alternatif sumber air lain.

“Walau air (sumur)-nya keruh dan mulai berlumpur, mau tidak mau ya harus tetap dipakai. Soalnya di sini tidak ada sungai. Kalau pun mau ambil air dari sungai, malah makin repot. Soalnya jarak sungai dari sini juga jauh,” ujar Rukmini. (wa)

Baca Juga :  Rahudman - Sofyan Tan; 2 - 2

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*