Keluhan Paragat Nira di Desa Batang Miha; Kayu Bakar Sulit, Hasil Produksi Turun

AMRAN POHAN-SIPIROK

Nira merupakan salah satu bahan baku untuk membuat gula merah atau gula aren. Sedangkan para penyadap aren biasanya disebut paragat. Dan saat ini, paragat di Kecamatan Sipirok mulai kesulitan kayu bakar untuk memasak nira menjadi gula aren. Seperti apa keluhan para paragat itu?

Salah seorang paragat yang tinggal di Desa Batang Miha, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel)Abdul Wahab (39), mengaku kepada METRO sudah menggeluti pekerjaan maragat selama 15 tahun terakhir. Dan hasil yang didapat dari pekerjaan tersebut menjadi andalan untuk menghidupi anak dan istri, mulai dari kebutuhan sehari-hari sampai biaya sekolah.

“Saya sudah 15 tahun menakuni maragat, karena tak ada pekerjaan waktu itu. Ini merupakan andalan saya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,” ujar bapak 3 anak ini, Rabu (31/3).

Dijelaskannya, selama 15 tahun terakhir memang hasil dari pekerjaan yang digelutinya tersebut hanya pas untuk kebutuhan sehari-hari dan keperluan sekolah ketiga anaknya.

Keluarga ini hanya memiliki 1 ladang sawah yang hanya menghasilkan 80 kaleng gabah per tahun (sekitar 1 ton), memiliki kebun karet yang tanamannya sudah tua dan hanya menghasilkan 15 kilogram getah tiap minggu. Jadi pekerjaan maragat masih andalan keluarga dalam memenuhi kebutuhan.

“Memang hanya pas-pasan, namun kalau tidak membuat gula mungkin ekonomi akan berat, apalagi anak saya sekarang 2 orang duduk di bangku SMK satu lagi di SD,” katanya yang mengaku dalam seminggu rata-rata menghasilkan 50 kilogram gula aren.

Baca Juga :  Kejari Kabulkan Penangguhan Penahanan - Kades Gunung Tua Jadi Tahanan Kota

Ditambahkannya, kendala yang dirasakan akhir-akhir ini adalah kayu bakar yang semakin sulit didapatkan, dan peremajaan pohon aren pun perlu diperhatikan agar generasi mendatang masih bisa memproduksi gula aren. “Dalam seminggu saya biasanya menghabiskan sekitar 1,5 kubik kayu, karena sudah sulit didapatkan terkadang harus membelinya dari orang lain,” ujarnya.

Untuk diketahui, perajin gula aren bisa memcetak gula aren diawali dengan menyadap air dari tandan pohon aren hingga menghasilkan air yang biasa disebut nira. Usai nira didapatkan lalu dimasak hingga kadar air yang terkandung dalam nira kering sampai mengental dan menjadikannya siap cetak dan menjadi gula.

Perajin gula aren salah satu aktivitas usaha rumah tangga warga di Kecamatan Sipirok, Arse dan sekitarnya selama ini. Pohon aren perlu dilestarikan dan dibudidayakan, agar ke depan bahan baku gula aren berupa air nira tetap ada.

Pekerjaan menyadap pohon aren di Tapsel ini dikenal dengan sebutan maragat, sedangkan orang yang melakukannya disebut paragat. Namun tidak semua tandan pohon aren bisa diragat hingga menghasilkan nira, karena sebagian tandanan yang merupakan buah aren yang biasanya getahnya gatal (halto) jarang menghasilkan nira kendatipun ada. Tandanan yang biasa menghasilkan nira adalah tandanan yang tumbuh setelah tandan buah ada, dan biasanya berada di bawah tandan buah, dengan model dan besar biji yang tandanan mirip selongsong peluru, dan akan akan tumbuh satu tandan satu ruas (pelepah daun aren) sampai ke bawah. (***)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Pendidikan Padang Lawas Perlu Berbenah, Perbaiki kesalahan Dimasa Lampau

1 Komentar

  1. Unang mangagat sajo binoto dongan da.Porlu do suanon bargot.Anggo na tasuan dongan aha dope agaton ni dakdanak parpudi.Anggo saba do madung maol aek.Porlu manamba parhepengon aso bisa pasikola dakdanak da.Suani hamu saba naso maraek i dohot hapea sangape bargot da.Horas.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*