Kemana Sampah Elektronik Berakhir?

TEMPO.CO, Jakarta – Perangkat keras seperti ponsel, komputer, konsol game, atau perangkat lainnya yang sudah rusak sering berakhir ke tempat sampah. Namun, pernahkah Anda tahu kemana akhir perjalanan perangkat keras tersebut? Sampah-sampah elektronik atau e-waste itu terkumpul menjadi satu di Agbogbloshie, Ghana, sebagai tempat pengumpul terbesar di dunia.

Sampah elektronik akan dikumpulkan di sebuah lahan yang luas. Situs Fox News menulis, para pekerja menghancurkan berbagai perangkat keras itu dengan menggunakan palu besar. Setelah menjadi potongan kecil, barulah mereka bakar.

Pada 2012, dunia ini menghasilkan sekitar 49 juta ton limbah elektronik. Jumlahnya diperkirakan akan mencapai 65 juta ton per tahun pada 2017 mendatang.

Melihat peningkatan jumlah sampah elektronik tersebut, berdasarkan undang-undang baru yang dibuat Uni Eropa yang berlaku 14 Februari 2014, tertulis bahwa negara-negara penghasil sampah harus mendaur ulang setidaknya 45 persen dari sampah elektronik per tahun. Hal ini dilakukan agar meminimalisir ekspor ilegal sampah elektronik tak terpakai ke negara lain.

Menurut laporan, negara di Asia Tenggara dan Afrika Barat menerima sampah elektronik ilegal dari Ghana.  Namun, kebanyakan dari mereka memilih bagian sampah perangkat keras yang justru sudah tak layak pakai untuk kembali diproses dalam pembuatan perangkat keras baru lainnya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  2011, Akhir Era PC

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*