Kemegahan Candi Portibi Semakin Hilang

Candi Bahal 1 yang berdekatan dengan Bahal 2 dan 3 terletak di Desa Bahal, Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), keberadannya kurang diperhatikan. Padahal, candi peninggalan sejarah ini ramai dikunjungi wisatawan pada hari-hari libur atau hari-hari besar keagamaan (terutama umat Hindu dan Buddha). Objek wisata sejarah ini jika dikembangkan akan mendatangkan PAD bagi Paluta.

Candi Portibi yang merupakan peninggalan Agama Hindu di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatra Utara, tidak lagi semegah namanya pada ribuan tahun yang silam.

Tetapi, nama Candi Portibi yang dulunya pernah diagung-agungkan di Sumatra Utara dan memiliki nilai sejarah cukup tinggi itu, sekan-akan tampaknya kelihatan hilang ditelan zaman yang semakin terus berkembang seperti di era globalisasi.

Bahkan, bisa jadi benda atau peninggalan bersejarah yang ada di negeri tercinta ini akan semakin “terpuruk”, karena tidak lagi diperhatikan, dirawat dan dilestarikan oleh pemerintah.

Nah, lantas yang menjadi pertanyaan, mau dikemanakan Candi Portibi yang sangat autentik, bahwa di wilayah Pantai Barat Sumatra ini dulunya ada berdiri sebuah Kerajaan Hindu dari India.

Peninggalan nilai religius (agama,red), yakni berupa Candi Portibi itu, bisa jadi hanya satu ini yang terdapat di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) yang dulunya masuk ke dalam wilayah Pemerintahan Kabupaten Tapanuli Selatan sebelum dilakukan pemekaran.

Bangunan Candi Portibi tersebut tidak hanya kelihatan agak kumuh, tetapi juga kurang terawat dan tidak dilestarikan oleh pemerintah.

Salah seorang warga Desa Aek Godang, Sadin Siregar (48) mengatakan sore ini,  kondisi Candi Portibi itu, terlihat seperti terkesan seperti ditelantarkan atau kurang mendapat perawatan dari pemerintah atau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di kabupaten itu.

Akan tetapi, katanya, jalan atau infrastruktur menuju ke lokasi Candi Portibi itu juga mengalami kerusakan yang cukup parah, yang sampai saat ini belum kelihatan adanya perbaikan dari pemerintah.

Baca Juga :  Mau Lawan Siapa, Pacquiao?

“Seolah-olah jalan menuju lokasi Candi Portibi seperti sengaja dibiarkan, tidak diketahui apa sebabnya. Apa mungkin dana APBD Pemkab Paluta untuk perbaikan infrastruktur itu yang belum ada. Kita tunggu sajalah kebijakan yang akan dilakukan pemerintah setempat,” kata Siregar yang mengaku sering berkunjung ke candi tersebut.

Ia mengatakan, jalan-jalan yang rusak dan berlobang-lobang itu, kelihatan sejak dari Gunung Tua, Ibukota Kabupaten Paluta menuju Kecamatan Portibi sepanjang lebih kurang lima kilometer dari panjang jalan seluruhnya mencapai 20 Km.

Candi Portibi itu adalah salah satu aset budaya dan peninggalan sejarah. Candi itu didirikan oleh Raja Rajendra Cola yang menjadi Raja Tamil Hindu Siwa, di India Selatan, yang diperkirakan sudah berusia ribuan tahun.

Kerajaan Portibi merupakan kerajaan yang sangat unik. Keunikan pertama dari segi namanya yaitu portibi, Portibi dalam bahasa Batak artinya dunia atau bumi. jadi dapat diartikan kerajaan portibi merupakan kerajaan dunia.

Bahkan, kata Siregar, kerusakan infrastruktur menuju lokasi Candi Portibi itu, menyebabkan minat kunjungan wisatawan mancanegara dan nusantara semakin berkurang.

“Coba bayangkan, bagaimana wisatawan atau orang dari luar kota mau berkunjung ke lokasi Candi Portibi itu, kalau jalan untuk menuju ke sana rusak parah, berlobang, serta penuh lumpur. Ini perlu menjadi perhatian bagi Pemkab Paluta,” katanya.

Menurut dia, biasanya jalan-jalan menuju objek peninggalan bersejarah itu, harus mulus, serta tidak ada hambatan seperti terjadi sekarang. “Yang namanya tempat-tempat objek wisata, lokasinya juga harus aman dan tidak ada gangguan terhadap wisatawan.K alau tidak terjamin keamanan bagi turis maupun pengunjung yang datang kesana, jelas orang takut masuk ke lokasi tersebut,” katanya.

Baca Juga :  Menpan RB Imbau Tak Lakukan Kegiatan di Hotel, Bappeda Palas Tidak Peduli

Oleh karena itu, ia mengharapkan kepada Pemkab Paluta harus menyediakan petugas keamanan khusus di lokasi objek wisata Candi Portibi tersebut. Ini perlu dipikirkan agar semakin menarik minat wisatawan berkunjung ke lokasi candi bersejarah peninggalan Agama Hindu itu.

“Kalau petugas pengamanan ini tidak disediakan, dikhawatirkan Candi Portibi itu hanya tinggal sebagai kenangan saja, wisatawan takut, tidak akan mau datang le lokasi tersebut,” katanya. (waspada.co.id)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. ass ww ?

    menurut saya candi bahal portibi bisa maju kita harus memperbaiki Infrastruktur nya , utama nya jalan ke candi bahal I , II , & III .

    DALAM HAL INI PEMERINTAH HARUS MENDUKUNG dan MEMFALITASINYA .
    dan juga jangan ketinggalan pihak swasta,
    Atau Jalan Provinsi yang menghubungkan Desa Bahal dengan Desa Sihaborgoan di pindahkan ke jalan Desa yang menghubungkan Desa Bahal dengan Candi I ,II & III dan Desa Sihaborgoan , nah disini jalan desa diangkat status nya menjadi jalan provinsi , di situlah peran dan ikut serta yang kami butuhkan dari pemerintah ,

    dan ketika itu semuanya telah terlaksana ,pasti setiap kenderaan yang melewati jalan desa yang diangkat statusnya menjadi jalan Provinsi akan singkah dan menikmati suasana Prawisata di candi I, II maupun III .
    Nah para pengunjung candi bahal portibi akan membutuhkan yang namanya makanan dan minuman maupun ole- ole ,di situ masyarakat atau penduduk di sekitarnya merasa terpanggil untuk mebuka kios-kios disekitarnya dan Rumah makan ,dalam hal itu pemerintah daerah akan mendapatkan pajak dari sekitara candi bahal portibi .

  2. Seputar perbaikan / pemugaran candi portibi baik itu jalan atau pun candinya, menurut saya jangan selalu menyalahkan pemerintah karena masyarakat desa potibi saja yang berada disekitar lokasi candi tidak perduli dengan candi milik desanya sendiri. Misal : Pada hari Lebaran banyak pengunjung yang datang dengan membawa kenderaan , dimana setiap kenderaan dikutip biaya parkirnya. Biaya Parkir tersebut bisa dimanfaatkan untuk perbaikan jalan ke candi dan mungkin juga untuk perbaikan candi itu sendiri. Nah lantas uang pendapatan parkir tersebut kemana perginya ?? Anda yang membuat postingan ini pasti tahu jawabannya. Bagi-bagi cukanya dong. Thanks.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*