Kemlu: RI Tak Hadiri Penyerahan Nobel Bukan Karena Tekanan China

Ketidakhadiran Dubes RI di Norwegia Esti Andayani dalam acara penyerahan Nobel Perdamaian bagi aktivis HAM China, Liu Xiaobo, menimbulkan spekulasi adanya tekanan dari China. Sebab di waktu yang sama, China mengirim surat ke sejumlah kedutaan besar agar menghindari acara tersebut. Kementerian Luar Negeri dengan tegas membantahnya.

“Saya kira tidak ada kaitannya. Karena kita sudah menjadwalkan Bali Democracy Forum itu jauh-jauh hari. Tidak tahu kalau akan bareng dengan penyerahan nobel,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Michael Tene, saat dikonfirmasi detikcom, Sabtu (20/11/2010).

Menurut Michael, acara Bali Democracy Forum akan digelar pada tanggal 9-10 Desember 2010. Acara rutin itu akan dihadiri oleh Presiden SBY dan sejumlah kepala negara dan menteri dari negara sahabat.

Tidak hanya itu, sejumlah duta besar RI di beberapa negara pun akan diminta hadir. Salah satunya, Dubes RI di Norwegia.

“Dalam Bali Democracy forum, ada duta besar yang diminta hadir. Termasuk duta besar RI di Norwegia,” lanjutnya.

Michael menerangkan, pihaknya sejak awal tak memperkirakan ada upacara penyerahan nobel pada tanggal yang sama, yakni 10 Desember 2010. Yang jelas, acara Bali Democracy Forum dianggap memiliki kepentingan nasional yang lebih besar. Khususnya bagi Indonesia.

Dia juga mengaku tidak tahu soal surat yang disampaikan oleh pemerintah China agar menghindari penyerahan nobel tersebut. Dubes RI di Norwegia juga tak akan memberikan penjelasan resmi soal ketidakhadiran mereka.

Baca Juga :  Van Bommel Kecewa, Tapi Pahami Sikap Yudhoyono

“Saya kira kita tidak perlu memberikan penjelasan resmi. Kita diundang, dan tidak bisa hadir. Soal ancaman China itu, saya tidak tahu, yang jelas tak ada hubungannya,” tutup Michael.

Ketua DPP PAN, Bara Hasibuan, menyayangkan sikap Indonesia yang tak menghadiri acara penyerahan nobel tersebut. Seharusnya, Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, bisa menghargai penyerahan nobel itu dan mengirimkan perwakilan ke Oslo, Norwegia.

“Kita seharusnya menghormati. Panitia nobel dalam memberikan hadiah pasti berdasarkan pertimbangan yang matang. Dan kita sebagai negara yang demokrasi yang penting datang saja,” jelasnya.

Bara juga meminta Indonesia tak perlu mengkhawatirkan ancaman dari China. Jika benar surat itu ada, Bara yakin tak akan banyak mempengaruhi hubungan dagang Indonesia dan China.

“China masih butuh Indonesia, tak mungkin begitu saja memutuskan hubungan. Kita jangan takut,” pintanya.

Sebelumnya Reuters memberitakan, China sudah mengirim surat ke sejumlah kementerian luar negeri dan kedutaan besar agar menghindari upacara penyerahan nobel bagi Liu Xiaobo pada 10 Desember 2010 . Bahkan ada ‘ancaman’ secara ekonomi bagi negara yang mendukung aktivis pro demokrasi tersebut.

Ada enam negara yang sudah dipastikan menolak undangan untuk hadir di acara penyerahan nobel tersebut. Mereka adalah Rusia, Kazakhstan, Kuba, Maroko, Irak dan China.

Selain enam negara di atas, Indonesia juga dikirimi surat serupa. Tidak ada keterangan resmi kalau Indonesia mematuhi arahan China itu, tetapi Dubes Indonesia di sana juga dipastikan tidak bisa menghadiri acara penyerahan nobel itu karena berada di Bali. (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Konflik Dua Korea Wartawan Diminta Tinggalkan Yeonpyeong

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*