Kepala BLHSU: Lingkungan Tambang Hutabargot Sudah Rusak – Tercemar Mercury, Penyakit Minamata Dikhawatirkan “Serang” Madina

(Analisa/istimewa) Barak-barak darurat para penambang yang tidak miliki izin (Peti) didirikan di lokasi tersebut oleh para penambang. Tadinya, kawasan ini merupakan hutan yang masih ditumbuhi pohon dan kini sudah gundul hingga rentan menimbulkan bencana longsor.
Medan, (Analisa). Penambangan yang dilakukan masyarakat tanpa izin (peti) di kawasan Hutabargot, Kabupaten Madina yang belum lama ini longsor serta menimbun 50 penambang yang saat itu sedang menambang emas merupakan bukti telah terjadinya kerusakan lingkungan di kawasan yang termasuk hutan lindung tersebut.

“Penambangan tanpa izin yang dilakukan masyarakat di Hutabargot itu telah menyebabkan penurunan tanah di kawasan itu. Selain itu, dampak dari penambangan yang tidak melalui prosedur itu juga telah merusak keragaman hayati hutan di sekitarnya,” tegas Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumut Dr Ir Hidayati MSi memaparkan hasil tinjauannya ke Desa Hutabargot belum lama ini yang longsor serta menelan korban jiwa para penambang.

Dikatakan Hidayati, penambangan itu tidak hanya merusak hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Bahan mercury yang digunakan oleh para penambang untuk mencuci emas hasil tambang mereka diduga kuat telah mencemari air maupun tanah di kawasan yang dijadikan area pencucian emas.

“Lokasi yang sudah termasuk dalam kontrak karya oleh berbagai perusahaan itu yang salah satunya Sorikmas Minning kondisi lingkungan sudah benar-benar rusak. Soalnya, mereka tidak hanya menebangi pohon-pohon yang ada di sekitarnya, kemudian membuat lobang-lobang besar untuk mencari emas. Namun, mereka juga menggunakan mercury untuk mencuci emasnya,” tegas Hidayati.

Baca Juga :  Jualbeli Jabatan Rezim Hidayat Batubara Terungkap, Pejabat Madina Sudah Setor Minta Uang Kembali

Penyakit Minamata

Dalam pencucian emas yang menggunakan mercury, lanjut Hidayati, masyarakat sama sekali tidak mengikuti prosedur yang ada.

Akhirnya dengan penambangan yang mereka lakukan itu sangat merugikan masyarakat itu juga. Para penambangan itu tidak tahu bahwa dampak penggunaan mercury yang kemudian mencemari air dan tanah, dan airnya dikonsumsi masyarakat dapat menyebabkan penyakit Minamata yang pernah terjadi di Jepang maupun seperti di Teluk Buyat, Sulawesi yang tercemar mercury atau logam berat.

“Memang, penyakit disebabkan racun merkury ini tidak bersifat langsung menyerang pengonsumsi air atau ikan yang tercemar merkury. Namun akan berproses dalam waktu lama,” katanya sembari menambahkan jika kandungan mercury di dalam tubuh seseorang sudah melebihi baku mutu, maka akan menyebabkan gatal-gatal, kelumpuhan, kegilaan, jatuh koma bahkan meninggal.

Menurut Hidayati, masyarakat penambang di kawasan itu hanya sebagai pekerja yang diupah Rp50 hingga Rp100 ribu per hari. “Mereka cuma mengorek saja, menebangi hutan. Sementara emasnya untuk si pemilik yang merupakan pendana tanpa izin itu,” ucap Hidayati.

Nah, setelah mereka mengorek lobang, menebangi pohon masyarakat itu tidak bisa mereklamasi hutan itu dan mereka tidak tau juga apa dampak yang mereka kerjakan itu.

Hidayati menambahkan, berdasarkan informasi yang didapatkannya di lokasi, hingga kini jumlah penambang rakyat di Madina itu mencapai 4.000 hingga 5.000 orang. Mereka itu penambang tanpa izin baik dari luar Madina maupun masyarakat sekitar. (mc)

Baca Juga :  Mengunjungi Situs-situs Peninggalan Sejarah di Tapsel

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*