KETA KU SIPIROK (bag-1): LUKISAN SEORANG SENIMAN

keta tu sipirok
Img By : Sipirok Nasoli Banua Nasonang

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)
Bagian #1 dari 7 Tulisan

Lajang tua mendiang Guru Nahum Situmorang pernah mengingatkan sesuatu yang amat menarik tentang Sipirok. Kala itu, melalui sebuah lagunya yang mendunia, ia tak cuma mengapresiasi beberapa tempat yang mestinya orang harus tahu, seperti Baringin, Parau Sorat, “dolok na timbo” Simago-mago, Sialagundi, Batuolang, Batuhorpak, dan lain-lain. Kekencangan angin mapaspas (mendera) yang membuat bukan saja kekayaan hasil hutan seperti hotang (rotan) dan hulim (kulit manis), tetapi juga budaya margobak-gobak (membungkus diri dengan kain sarung) meski di siang bolong. Ia juga mengingatkan  sisuan salak Boru Enggan (gadis bermarga Siregar yang telaten bertani salak), yang untuk mendapatkannya harus tahu markusip (media sosial remaja dalam menali kasih). Tetapi kita boleh heran terhadap Nahum Situmorang. Dimana kebun salak di Sipirok, bukankah cuma tanaman keras dan beberapa tumbuhan liar haromonting?

Digarisbawahinya watak calon sang mertua bermarga Siregar itu. Malo-malo ma ho mambuat roha ni tulang mi (Pandai-pandai saja mengambil hati calon mertuamu itu), kata Situmorang yang mungkin juga pernah patah hati di sini hingga sampai akhir hayatnya melajang. Tetapi meskipun begitu, putrinya si boru Enggan na jogi (jelita) belum tentu mau dipersunting. Si Boru Enggan itu memang terkenal punya pendirian, ya punya sikap dan pandangan yang biasanya amat rasional (selalu lebih rasional dari suaminya? ha ha). Paling susah jika perasaan aestetika si boru Enggan ini sama tinggi-menjulangnya dengan pandangan politik, pandangan ekonomi dan pandangan keningratannya yang membuatnya semakin tak terdekati oleh pemuda manapun. Secara simplistis si boru Enggan na bekbek (garang) kata orang menggambarkan karakter unik itu.

Baca Juga :  “Boroe Tapanoeli”, Trompet Kepoetrian dari Padang Sidempuan

Nahum Situmorang, sang pencipta lagu yang mendapat kesempatan “bertanding” membuat lagu Kebangsaan Indonesia itu, memang lahir di Sipirok, tahun 1908. Ia anak seorang guru bernama Kilian Situmorang. Karena itu ia dapat melukis dengan baik Sipirok, dari sudut pandangan seorang seniman.

Terlepas benar atau tidak, baru-baru ini kita bisa melihat data di internet yang menyebutkan salah seorang bermarga Siregar begitu penting kedudukannya dalam jaringan Alqaeda. Menantang bahaya, meneruskan iktikad, dan connect dengan Alqaeda? Ha ha, tak mudah membayangkan itu ya. Dia Siregar Sipirok. Jangan sekali-sekali ada yang ingin tak mengakuinya (sekali lagi, jika informasi itu benar). Dharma Indra Siregar, The Crown Prince from Sipirok Bagas Godang, memastikannya tanpa rasa penyesalan sedikitpun: Dia Siregar Sipirok, tegasnya.

Dapatkah seseorang di negeri ini melupakan bahwa Lafran Pane pendiri HMI itu berasal dari Sipirok? Terkait dengan nama besar Sutan Pangurabaan Pane, sebutlah juga Armiyn Pane dan Sanusi Pane. Bukan main, kata Prof.Dr.Agussalim Sitompul, guru besar Al-kalam dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang oleh kalangan aktivis HMI sering dijuluki pustaka berjalan. Saya anggap ada sesuatu yang sama sekali tak terkait dengan magis yang menjadi faktor pendorong munculnya tokoh-tokoh besar dari Sipirok, yang paling tidak kita harus memeriksa akar budaya dan pandangan hidup serta interaksinya dengan dunia luar, katanya. (Bersambug )

Baca Juga :  Kajian Teoritis Onang-Onang Mandailing

Baca kelanjutannya:

*)Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS
sohibul KETA KU SIPIROK (bag 1): LUKISAN SEORANG SENIMANn’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

4 Komentar

  1. saya cenderung memahamkan bahwa keterangan di atas malah memperkuat bhw di Sipirok pernah ada kerajaan.
    Terimakasih.

  2. Keta Tu Sipirok, bukan Keta Ku Sipirok? Ha ha. Entahlah pula ya. Marilah sama-sama kita periksa kembali soal ini atau mungkin kita perlu “mulak ku sipirok” “sanga ku dia pe marsapa-sapa”.

    “Ku” untuk “tu” tampaknya digunakan orang mulai dari perbatasan dengan Tapanuli Utara (Simajambu) atau bahkan oleh orang-orang di Pahae yang memiliki pertautan kekerabatan ke Sipirok.

    Pada bagian 6 “Simbol Penyatuan” dengan sebuah tanda tanya telah dititipkan seberkas keraguan. Tetapi itu tidak pernah bisa menafikan bahwa di sana ada sebuah kerajaan tempo dulu. Termasuk dengan mengatakan bahwa semua orang Batak itu raja. Ha ha, apakah tidak sama dengan analogi: manusia itu disebut juga khalifatan fil ardh, tetapi tentu saja hal itu tidak untuk menafikan adanya khalifah yang mengurusi pemerintahan? Ha ha.

    Tentu tidak untuk maksud membangun sebuah bayangan pemerintahan, atau memirip-miripkan tuntutan dengan apa yang sedang digaungkan dari Yogyakarta, tetapi faktanya secara subjektif kerabat yang terkait dengan kerajaan itu sudah melakukan sesuatu yang meski sekecil apa pun tetapi tetap dapat bisa dimaknai. Kristalisasi mereka sudah menambah energi perjuangan mengibukotakan SIpirok untuk Tapsel. Itu yang saya saksikan, dan memang hanya itu yang ingin diungkapkan.

    Membandingkan kerajaan-kerajaan di sini dengan di lain tempat (Yogyakarta misalnya) adalah sebuah kesalahan yang lazim dilakukan oleh banyak orang. Padahal itu tentu tidak mungkin. Ukurannya akan sangat berbeda.

    Terimakasih.

    • Kerajaan Narobi di Sipirok

      Kerajaan adalah sistem negara, tata pemerintahan. Sebagai sistem, ada kepala negara (raja) ada strukturnya juga, termasuk para menteri sampai hulubalang. Ketika kolonialisme Belanda masuk Sipirok, yang diawali dengan kehadiran zending yang kemudian membangun gereja di Parau Sorat (masih ada gereja itu dan tidak pernah dipugar oleh pemda Tapsel untuk menjaga nilai sejarahnya), kerajaan Bagas Na Godang (yang penganut Islam dan dipengaruhi Islam yang menyebar dari Samudra Pasai (Melayu lama), lihat pada bentuk arsitektur bangunan (bagas) kerajaannya yang penuh ukiran bunga (tradisi Arab)–itu berada dalam tekanan kolonialisme Belanda. Sang Raja, sempat berpindah-pindah agama, karena tekanan yang didapat dari Belanda dan Serikat Islam (SI) sama-sama kuat. Belanda menekan dengan menghilangkan pengaruh kerajaan, lalu mengangkat orang lain untuk menandingi kekuasaan sang raja (tentu digaji dan seluruh nasibnya ditanggunmg Belanda). Sedangkan pengaruh SI menekan dengan perlawanan terhadap Belanda, berjuang secara politis untuk merebut perhatian publik dengan menguasai sistem pemerintahan bentukan Belanda. Sang raja kehilangan kekuasaan dan memutuskan berpihak ke Belanda. Bacalah buku Keresidenan Tapanoeli.

  3. Menarik sekali tulisan tulisan bersambung Keta Ku Sipirok (mestinya KETA TU SIPIROK). Data-datanya sangat umum, tapi pada tulisan SIMBOL PENYATUAN saya berharap ada semacam kapital sosial masyarakat Sipirok (Angkola) yang coba dibangkitkan. Ternyata, saya tidak menemukannya. Kalau cuma Bagas Godang (kerajaan), masih harus dikaji lagi apakah sistem kerajaan di lingkungan Batak itu sama seperti di Jawa atau tidak. Sebab, semua orang Batak itu raja. Kalau semua raja, kerjaan sulit dijadikan simbol penyatuan. Memugarnya pun tak akan banyak membawa keuntungan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*