KETA KU SIPIROK (bag-2): SEJUTA NAMA BESAR

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)
Bagian #2 dari 7 Tulisan
Baca bagian sebelumnya:

  • KETA KU SIPIROK (bag-1): LUKISAN SEORANG SENIMAN
Mantan Gubernur BI, Arifin M. Siregar (ikatanbankir.com)

Sewaktu mahasiswa tahun 1970-an saya pernah bergabung dengan tim peneliti kerukunan umat beragama yang salah satu daerah samplenya ialah Bunga Bondar di sekitar Sipirok. Saya bertemu dengan seorang anak muda yang amat gagah, tampan dan tak bisa berbahasa apa pun selain bahasa Inggeris. Ia kelahiran London, sampai dewasa dan mendapat pendidikan tinggi di sana. Oleh kerinduan orangtuanya dan kecintaannya kepada sejarah nenek-moyangnya, anak muda ini pulang kampung. Kampung yang tak lain sebuah sudut terpencil di negara berkembang yang tak mengenakkan dalam pandangan peta dunia. Dia bermarga Siregar dari Sipirok.

Arifin Maskut Siregar (Arifin M Siregar), seorang mantan Gubernur Bank yang menandatangani uang resmi Indonesia (rupiah) pernah menggerutu: Di Eropa dan Amerika banyak sekali orang bermarga Siregar yang amat sukses. Jika kalian melihat saya orang sukses dan kaya, ternyata masih nomor urut terakhir bila dijejerkan berdasarkan kekayaan dengan mereka itu. Itu pengakuan Arifin Maskut Siregar, salah seorang ikon marga Siregar yang belakangan ini (ada yang) menyebut diri dengan cara “sipanggaron” (penuh kebanggaan berlebih) yakni dengan sebutan Siregar se-dunia.

Saya ingin menguji memori saya tentang sejarah dengan harapan dapat dikoreksi terutama oleh tokoh-tokoh besar dari Sipirok di mana pun mereka berada. Semua orang tentu masih ingat seorang bermarga Pane, yang pernah menjabat Ketua Bappeda Sumatera Utara. Masih ingatkah Mr Luat yang pernah menjadi residen Sumatera Timur? H Muda Siregar yang pernah menjadi Walikota Medan (kelima), Abdul Firman gelar Mangaraja So Angkupon yang menjadi anggota volksraad, Abdul Rasjid (Batavia Centrum), belum lagi dr Ildrem (Ibu Lain daerah) Raja Ela Mora yang tak mudah melupakannya jika berfikir tentang USU? Dr Gindo Gubernur Militer Sumatera Timur Selatan bermarkas di Padangsidempuan sekitar tahun 1947? Bankir Omar Abdalla, Ir alfred Mangaraja Onggang Parlindungan pembuat buku heboh yang menjadi semacam ”pegangan suci” bagi orang Batak Toba kontemporer? Hariman tokoh Malari 1974 yang “menginterupsi” Soeharto dalam singgasana Orde Baru-nya yang didukung habis oleh militer dan Amerika? Masih ada Raja Inal mantan Pangdam Siliwangi yang kemudian menjadi Gubsu, dan meninggal saat menjabat anggota DPD-RI? Jauh di atas yang disebut terakhir ini masih ada Tunggal Harun Parlindungan yang menjadi pejabat nomor satu dari kalangan pribumi di lingkungan perusahaan perkebunan milik Belanda di Sumatera Timur RCMA (Rubber Cultuur Maatschapijj Amsterdam). Masih banyak yang lain.

Baca Juga :  Harimau Dimata Orang Mandailing

Itulah sekedar contoh bahwa Sipirok itu bisa amat tak identik dengan achievement berdasarkan faktor-faktor non prestasi tangguh, apalagi oleh faktor given. Tidak heran seorang anthropolog dari Barat yang lama meneliti di Sipirok akhirnya minta dinobatkan menjadi boru Regar. Dialah Susan Rogers (Siregar).

Mereka, para pemilik success story itu bukan pula tokoh-tokoh yang berlindung di balik solidaritas kesemargaan yang dangkal atau tokoh-tokoh yang sibuk membentuk panitia pemugaran tambak (tugu) dalam simbolisme yang amat ketinggalan zaman. (bersambung)

Baca kelanjutannya:

  • KETA KU SIPIROK (bag-3): KEMISKINAN STRUKTURAL
  • KETA KU SIPIROK (bag-4): KRISTALISASI PERLAWANAN
  • KETA KU SIPIROK (bag-5): PERANG PERNYATAAN
  • KETA KU SIPIROK (bag-6): SIMBOL PENYATUAN?
  • KETA KU SIPIROK (bag-7): APA KATA BIROKRAT (release: 04 Januari 2010)

*)Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS
sohibul KETA KU SIPIROK (bag 2): SEJUTA NAMA BESARn’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.

<span style=”color: #ff0000;”><em>Baca kelanjutannya</em></span>:
<ul>
<li> KETA KU SIPIROK (bag-3): <strong>KEMISKINAN STRUKTURAL </strong>(release: <em>07 Desember 2010</em>)</li>
CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  BOLANG - Ornamen Tradisional Mandailing

1 Komentar

  1. Artikel yang mantaf… saya sudah baca bagian 1 dan 2 nya saya dah tak sabar tunggu bagian selanjutnya.. salut buat Pak anshor Siregar dan apakabarsidimpuan yang mau memunculkan tulisan-tulisan berkualitas macam ni… mauliate…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*