KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU (Bagian – 1)

MUSIK TRADISI MANDAILING
GORDANG SAMBILAN - MUSIK TRADISI MANDAILING

Oleh: Edi Nasution

”Leluhur kita menyadari betapa pentingnya sopan-santun dalam hidup bermasyarakat, sehingga mereka telah menciptakan tata cara pergaulan antar sesama individu yang khas yakni ”baso” dan ”sangko”. Itu kiranya dapat berguna untuk memelihara harmoni kehidupan sosial-budaya orang Mandailing”.

Barangkali anda merasa heran apabila dikemukakan bahwa ”bersiul” saja ”pantang”

bagi orang Mandailing melakukannya di dalam rumah. Ketika anak-anak mereka bertanya: ”Aso?” (Mengapa?), jawaban dari orang tuanya: ”ro naron ulok!” (nanti ular datang!). Selalu pula para remaja tanggung yang ketahuan bersiul-siul di muka umum mendapat ”ledekan” dari orang-orang dewasa: ”Amang, naposoma ilala ho, lian!”  (Waduh, yang genitlah kau, lian!), sekalian diberi hadiah jitakan ”tuk” pada kepala si  remaja, yang kemudian menghindar pergi sambil meringis kesakitan.

Seorang pemuda yang menyanyikan ende sitogol atau ungut-ungut, begitu pula memainkan alat musik tiup tulila misalnya di dalam huta (kampung) akan mendapat teguran. Bisa jadi sebuah ”tamparan keras” mendarat di wajahnya oleh orang-orang

tertentu yang merasa tersinggung. Ditambah pula dengan cercaan: ”narumo” (banyak tingkah) atau ”naso marbaso” (tidak sopan), dan lebih ekstrim dengan dakwaan ”naso maradat” (tidak beradat atau tidak bermoral). Namun lain halnya dengan tradisi margondang, dimana memainkan ensembel musik gordang sambilan dan gondang boru dalam konteks upacara adat perkawinan (horja siriaon) misalnya selalu berlangsung meriah di dalam kampung.

Tentu saja, gambaran ringkas di atas menarik minat kita untuk mengetahui lebih jauh mengapa leluhur orang Mandailing membuat larangan-larangan yang demikian itu dalam konteks beberapa musik tradisionalnya.

Baca Juga :  Harimau Dimata Orang Mandailing

Si (da) lian dan si ta (tar) ing

Perkataan taing adalah sebutan yang diberikan orang Mandailing kepada “anak perempuan”, sedangkan dalian atau lebih sering dipanggil dengan lian saja diperuntukkan bagi “anak laki-laki”. Semenjak kecil kepada mereka sudah mulai ditanamkan nilai-nilai budaza Mandailing. Meskipun terkadang “cara” yang dipakai oleh orang-orang tua mereka dalam menerapkan nilai-nilai budaya itu bagi kita (out sider) mungkin terasa agak aneh (ganjil). Seperti bila seorang anak bersiul-siul di dalam rumah selalu ditakut-takuti dengan ancaman: “nanti ular datang”.

Larangan bersiul-siul ini sangat ditekankan kepada anak-anak mereka, terlebih-lebih bagi anak perempuan. Setiap orang tua akan merasa malu apabila anak gadis mereka nantinya disejajarkan anggota masyarakat lainnya sebagai “anak gampang”, sebutan bagi anak yang lahir tanpa perkawinan yang sah yang dianggap hina oleh orang Mandailing.  Mungkin tindakan bersiul-siul secara kognitif adalah suatu pengungkapan emocional yang mengarah kepada gejala awal perilaku seksual. Kenyataan bahwa masalah seks Sangat “tabu” diungkapkan dan dibicarakan secara terbuka dalam masyarakat. Maka upaya untuk menakut-nakuti si anaks ejak dini diharapkan bisa menghilangkan atau paling tidak meredam kelakuan buruk itu agar tidak membuahkan hahaila (malu) atau bala (malapetaka) kelak dikemudian hari.

Relevan dengan ungkapan “dari kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa, sudah tua terobah tidak”, tentu orang Mandailing tidak menghendaki keturunannya terbiasa dengan perilaku-perilaku yang dipandang tidak etis. Termasuk, bersiul-siul di dalam rumah pada hakikatnya adalah suatu sikap yang tidak menghargai dan juga tidak menghormati para orang tua serta saudara-saudaranya. Sebaliknya apabila direnungkan lebih dalam diketahui bahwa larangan bersiul-siul di dalam rumah sebenarnya juga untuk memelihara dan menegakkan eksistensinya. Sebagai calon generasi penerus, maka tindak-tanduknya dalam hidup bermasyarakat kelak haruslah berpedoman kepada dan mencerminkan nilai-nilai budaza luhur, yang senantiasa mereka pelihara dan junjung tinggi.

Baca Juga :  Pro kontra pusat perkantoran Pemkab Tapanuli Selatan

Baca Kelanjutannya…..

KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU (Bag-2)
KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU (Bag-3)

Biography Penulis:

hails from Gunung Tua-Muarasoro, Kotanopan – Mandailing Julu, where he was born on 13 March 1963. He obtained his bachelor degree in Ethnomusicology in 1995 from the University of North Sumatra (USU) in Medan, Indonesia. He is the author of Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, a study of Mandailing courtship music, published in 2007 by Areca Books (www.arecabooks.com) Penang, Malaysia.

http://bayosuti.blogspot.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Dalam tor2 naposo bulung dipantangkan menentang muka seorang gadis (boru tulang) bandingkan dgn jaipongan, dan tdk jarang penonton terbawa emosi menangis menyaksikan tor2 jadi bukan sekedar hiburan, syair onang2 itu adalah nasihat2 serta perjalanan hidup. Yg namanya pesta pasti adalah hiburan2, tetapi dalam horja lebih dominan nasihat2 dari orang tua dan tangisan2 dari pengantin pengungkapan syukur dan terima kasihnya. Jadi HORJA bukanlah pesta yg ada horja+pesta. Karena org mandailing percaya dengan adanya “manggora naso tarida (kualat)”

  2. Saya rasa itu lebih mencerminkan budaya ketimuran yng lebih santun, pengeksperian rasa dan emosional yg terlalu bebas dpt membuat org lain merasa tdk nyaman, filsafat timur adalah kepatuhan lain halnya filsafat barat yg menjunjung kekebasan dlm bts tertentu, Tdk jauh berbeda dgn org Jepang memberi rasa hormat dgn sifat membungkuknya. Gordang sambilan adalah musik yg sakral, itu adalah musik perang, penyambutan tamu, dan pemberian gelar begitu halnya dengan tor2. Ada tor2 raja, tor2 suhut, dll. akan halnya tor2 naposo nauli bulung biasanya orang tua atau raja terlebih dahulu beranjak dari gelanggang supaya enak dimainkan krn ada istilah ” Inda pade ilala adong ompung niba, iboto niba, dht uda niba ” begitulah tingginya rasa sopan org Mandailing

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*