KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU (Bagian – 2)

MUSIK TRADISI MANDAILING
MUSIK TRADISI MANDAILING

Oleh: Edi Nasution

Baca Juga Bagian Sebelumnya…

Musik, etika dan sistem sosial
Suku-bangsa Mandailing yang bermukim di Kabupaten Tapanuli Selatan memiliki sistem nilai budayanya sendiri yang biasa mereka sebut sebagai ”adat dohot ugari” (tradisi dan aturan adat). Sedangkan untuk mengoperasionalkan adat-istiadat itu sebagai penata aktifitas kehidupan masyarakatnya berdasarkan nilai-nilai luhur yang dipedomani, mereka menciptakan satu sistem sosial yang disebut Dalian Na Tolu (Tiga Tungku Sejarangan). Mekanisme adat Mandailing ini disebut Dalian Na Tolu (tiga tumpuan dasar) karena sistem itu menumpukan kehidupannya kepada tiga unsur fungsional, yaitu tiga kelompok kekerabatab yang masing-masing dinamai mora (pemberi anak dara), kahanggi (saudara semarga) dan anakboru (penerima anak dara).

terwujudnya tiga kelompok kekerabatan fungsional ini karena adanya hubungan perkawinan (affinal relation) dan hubungan darah (blood ties) diantara orang-orang Mandailing yang bernarga Pulungan, Lubis, Nasution, Daulae, Rangkuti, Parinduri, Matondang, Batubara dan sebagainya. Mereka mengatur sistem kekerabatannya melalui pengelompokan orang-orang yang mempunyai satu kakek bersama yang disebut marga (clan) dan didasarkan kepada garis keturunan ayah (patrilineal). Sedangkan tradisi perkawinan sesama mereka adalah ”eksogami marga”, artinya setiap orang harus kawin dengan orang yang diluar clan-nya dan cenderung mengambil ”boru tulang” sebagai isteri (cross cousin sepihak). Inisiatif peminangan datang dari pihak kaum kerabat laki-laki, dan setelah kawin kedua mempelai umumnya menetap di kampung pengantin pria (virilokal), oleh mereka tradisi ini disebut ”adat manjujur”.

Sebagai suatu sistem, adat Dalian Na Tolu mengandung paradigma keseimbangan untuk mempertahankan kesatuannya. Karena itu ia (Dalian Na Tolu) memiliki landasan normatif yang terdapat dalam ungkapan tradisional: sangap marmora, elek maranakboru, manat-manat markahanggi (menghormati dan memuliakan mora, menyayangi anakboru, bersikap hati-hati antara sesama kahanggi). Dengan adanya tradisi eksogami marga itu memungkinkan status dan peranan dari setiap orang Mandailing itu adakalanya sebagai mora, kahanggi dan anakboru. Sehingga apabila sistem kekerabatan itu diteliti pada semua huta di Mandailing akan memperlihatkan kepada kita bahwa sistem itu tidak ubahnya seperti jaring-jaring jala, yang semakin mengecil ke atas dan semakin melebar serta panjang ke bawah. Simbolik dari realitas ini terpatri dalam dekorasi tutup ari yang ada pada sopo godang dan bagas godang, berupa ratusan bentuk ”segitiga sama sisi” yang tersusun rapih dan indah dengan komposisi warna: merah, putih, dan hitam yang bermakna dalam bagi masyarakat Mandailing.

Semua realitas dan aktifitas budaya masyarakat Mandailing kemungkinan bersumber dari dan ditata oleh sistem nilai budayanya yaitu adat Dalian Na Tolu atau adat Markoum Sisolkot (adat berkaum kerabat), sehingga tradisi musik Mandailing pun sebagai sub-unsur kebudayaannya tidak lepas dari dominasi adat-istiadat mereka itu. Maka dalam konteks penggalian nilai-nilai budaya tradisional dalam konteks kebudayaan musik orang Mandailing sekaligus juga merupakan upaya pelestariannya. Sebab nilai-nilai budayanya berguna untuk memberi arah dan orientasi di dalam kehidupan mereka. Kehidupan sosial orang Mandailing diwarnai oleh tata krama pergaulan yang disebut baso dan sangko. Setiap individu harus menghormati dan menghargai orang lain demi tercapainya keharmonisan hidup sesama mereka. Dua anggota masyarakat yang dikenai etika sosial baso harus saling memperhatikan dan melaksanakan norma-norma adat yang berlaku. Misalnya kita (ego pria) tidak boleh bertatapan dan berbicara lama-lama dengan isteri dari adik laki-laki kita, dan berbicara hanya seperlunya. Untuk mengurangi kontak antara mertua pria (disebut amangboru) dengan menantu (disebut parumaen)nya diciptakan pula tradisi manjae atau mangasing, dimana sebulan setelah menikah kedua mempelai biasanya pindah ke rumah baru mereka di kampung yang sama, atau bisa juga masih dekat dengan rumah orang tua si laki-laki. Sejalan dengan ini, menantu pria (disebut babere) pun tidak akan mau berlama-lama di rumah mertua (disebut tulang)nya yang tiada lain karena menyangkut masalah baso itu juga.

Baca Juga :  Aek Najaji, Desa Kecil Yang Mandiri Di Sudut Kota Padangsidimpuan

Jika etika sosial baso dilanggar bisa mendatangkan hahaila (malu) dan aib, yang
dapat menurunkan harkat dan martabat seseorang. Umumnya baso ini berlaku untuk jenis kelamin yang berbeda (pria dan wanita) karena adanya hubungan perkawinan.

Adapun parbasoan seseorang (ego) antara lain:
1. Ego (pria) terhadap adik/abang dari isteri ego, dan begitu pula sebaliknya yang disebut maripar-marlae.
2. Ego (wanita) terhadap adik/abang dari suami ego, dan begitu pula sebaliknya
3. Ego (pria) terhadap mertua pria/wanita (tulang/nantulang).
4. Ego (wanita) terhadap mertua pria/wanita (amangboru/namboru).
5. Ego (pria/wanita) terhadap adik/abang masing-masing yang disebut mariboto atau samarga.

Kata “sangko” dalam konteks etika social ini kurang lebih berarti “seseorang itu dianggap sebagai …”. Misalnya kita harus memiliki sangko terhadap orang tua kita sendiri (amang-inang), orang-orang yang sudah tua (tobang-tobang) karena mereka seharusnya dianggap sebagai orang tua kita juga; demikian juga kita harus memiliki “sangko” terhadap namora-mora (kaum bangsawan) dan natoras-toras (kaum cendekia pemimpin kelompok marga), dan lain sebagainya.

Diawal karangan ini sudah dipaparkan bahwa setiap orang dewasa terlarang menyanyikan ende sitogol ataupun ungut-ungut di dalam kampung di depan umum. Karena isi syair kedua jenis ende itu umumnya melukiskan harapan-harapan ataupun kegagalan-kegagalan tentang cinta dan penghidupan si parende itu sendiri. Kandungan syair ende itu adakalanya syairnya juga mengandung rayuan terhadap anak gadis. Begitu pula halnya dengan memainkan alat-alat musik tiup seperti tulila, sordam, salung, suling, atau pun membunyikan genggong (jaw’s harp). Karena di samping biasa dipakai untuk merayu kaum wanita, juga dapat digunakan untuk ”melepas” gundah-gulana (arsak ni roha) si peniupnya. Ia mungkin sedang dirundung ”cinta tak sampai” atau mengeluhkan penghidupannya yang kurang beruntung. Singkatnya, kepentingan pribadi tampaknya tidak boleh diungkapkan sembarangan di depan publik. Meskipun beberapa alat musik di atas sering dipakai sebagai alat bantu di waktu markusip oleh seorang pemuda, namun dalam tradisi markusip (tradisi berkencan antara muda-mudi secara berbisik-bisik dengan dibatasi dinding rumah) yang berlangsung pada malam hari itu selalu dimulai lewat tengah malam dan mempunyai aturan permainan tersendiri.

Dalam tradisi markusip, pada waktu tengah malam biasanya warga desa telah tidur lelap dan alat musik (tulila atau gengong)) dibunyikan dengan volume sekecil mungkin. Dan keberadaan kegiatan markusip ini pun ternyata tidak boleh digembar-gemkan kepada masyarakat luas, karena dianggap tidak etis oleh orang Mandailing.

Seorang dara yang memainkan uyup-uyup bulung tarutung pada waktu siang ari di dalam kampung, akan melakukannya apabila ia sudah merasa yakin bahwa semua warga desa (yang sudah dewasa) telah pergi bekerja ke sawah dan ladang masing-masing, sehingga tidak seorang pun mengetahui perbuatannya itu, bagi seorang dara sangatlah tabu mengungkapkan perasaan emosional di tengah-tengah warganya. Ia akan melakukannya seorang diri secara sembunyi-sembunyi pula. Ide mengungkapkan perasaan cinta lewat nyanyian dan beberapa alat musik di atas tabu bagi orang Mandailing melakukannya di tengah-tengah masyarakat banyak. Karena masalah cinta dan seks menurut mereka tidak etis diungkapkan dan dibicarakan secara terbuka bagi umum. Di dalam komunitas desa itu terdapat orang-orang yang harus dihormati dan dihargai yaitu “baso” dan “sangko” setiap orang. Apabila seorang pemuda sudah tiba masanya untuk berumah tangga, maka ia dapat mendiskusikan keinginannya itu kepada orang tertentu biasanya amangboru. Lalu kedua orang tua dan kahanggi (suhut) serta anak borunya berrembuk untuk meminang si gadis kepada orang tua dan pihak kaum kerabatnya. Upacara-upacara selanjutnya dilakukan secara formal yang telah diatur adat mereka hingga sampai kepada selesainya upacara adat perkawinan. Dari sisi lain, kandungan teks ende sitogol dan ungut-ungut cenderung berkarakter sedih karena mengkeluh-kesahkan kemelaratan hidup. Menurut mereka alunan melodi yang dihasilkan lewat permainan salung pun misalnya dapat merefleksikan hal-hal yang sama. Sementara orang yang berstatus sosial sebagai menantu pria (babere), sangatlah enggan untuk menyatakan keadaan hidupnya yang melarat kepada mertua atau tulang meskipun secara formal tanpa lewat nyanyian atau alat musik.

Baca Juga :  KETA KU SIPIROK (bag-6): SIMBOL PENYATUAN?

Lain halnya apabila si mertua sendiri yang berkenan mengulurkar tangan. Karena setiap babere umumnya sangat menjaga dan mempertahankan harga dirinya. Selain itu kedudukannya sebagai menantu haruslah marbaso dan sangko kepada mertuanya. Barangkali keadaan yang seperti ini pulalah yang membatasi keinginan setiap individu dalam masyarakat Mandailing untuk mengungkapkan kesengsaraan secara terbuka kepada orang banyak. Dan sesama orang Mandailing merasa berkewajiban untuk saling mengingatkan tentang baso dan sangko di dalam kehidupan sosial mereka.

Dalam hubungan ini, apabila seseorang ingin melepas segala sesuatu ganjalan hati (arsak ni roha) lewat “musik”, maka ia akan pergi ke suatu tempat yang sunyi di dalam hutan, di sawah, di ladangnya atau ke pinggir sungai. Kita dapat mendengar kedua jenis ende tersebut dan atau tiupan alat musik dari tempattempat sepi itu, namun sosok dari orang yang melakukannya tidak pernah kelihatan. Ketika perbuatannya kepergok orang lain biasanya “musik” pun berhenti karena ada rasa malu.

Baca Kelanjutannya…..

Biography Penulis:

hails from Gunung Tua-Muarasoro, Kotanopan – Mandailing Julu, where he was born on 13 March 1963. He obtained his bachelor degree in Ethnomusicology in 1995 from the University of North Sumatra (USU) in Medan, Indonesia. He is the author of Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, a study of Mandailing courtship music, published in 2007 by Areca Books (www.arecabooks.com) Penang, Malaysia.

http://bayosuti.blogspot.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*