KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU (Bagian – 3 Habis)

KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU
Tari Tor Tor

Oleh: Edi Nasution

Baca Juga Bagian Sebelumnya …

Gondang, resiprositas dan olong

Ketika kita menyaksikan ensembel musik Gordang Sambilan dan Gondang Boru dibunyikan pada suatu upacaradat perkawinan di sebuah huta di Mandailing, maka tidaklah sulit untuk menebak bahwa orang yang menyelenggarakan pesta’ perkawinan itu pastilah keturunan raja-raja. Misalnya pesta perkawinari anak ni raja yang bisa saja berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dan gondang pun terus berbunyi. Ternyata gondang ini pulalah yang membedakan horja (pesta perkawinan) antara keturunan raja-raja dan orang kebanyakan (alak najaji).

Begitupu, kekuasaan seorang raja di Mandailing tidaklah absolut. Karena yang berperan besar dalam menentukan segaIa sesuatu yang menyangkut kepentingan rakyat adalah Namora Natoras sebagai Kepemimpinan Tradisional Mandailing yang mewakili rakyat (DPR ?). Segala keputusan dan kebijaksanaan raja selalu bertolak dari hasil musyawarah dan mupakat dengan Namora Natoras di Sopo Godang yang tidak berdinding, agar rakyat secara langsung dapat mendengar dan melihat proses serta mengetahui hasilnya, jelas sangat terbuka dan demokratis.

Seorang raja diumpamakan sebagai “ayu ara nagodang parsilaungan” (pohon beringin tempat berlindung), “partalaga naso hiang” (berkecukupan dan ringan tangan), dan “parsaba na bolak” (pemilik areal sawah yang luas). Karena itulah rakyatnya selalu mendapat perlindungan raja, yang setiap saat bisa dimintai pertolongannya. Sedangkan areal sawah yang luas miliknya itu pada hakekatnya juga milik bersama karena dikerjakan secara bersama-sama oleh rakyat, yang kemudian hasil panenn dikumpul pada lumbung padi raja. Apabila rakyat kekurangan bahan makanan, maka seorang raja setiap saat siap membagikan isi lumbung padinya kepada rakyat, karena bagaimanapun ”ada raja karena diangkat oleh rakyat yang mengangkat raja” (marsomba di balian).

Prilaku seorang raja selalu merakyat, melindungi dan mengayomi rakyat. Sebaliknya rakyat menyayangi, menghormati, memuliakan dan menjunjung tinggi harkat dan martabat raja mereka (nai pagodang sahalana nai jujung-jujung tondina). Sehingga dengan demikian upacara adat perkawinan seorang anak raja itu sekaligus dengan segala atributnya termasuk gondang adalah cerminan sikap kebersamaan mereka yang saling membantu dan membutuhkan, yang kesemuanya itu berorientasi kepada holong arumbukan dohot domu (saling menyayangi, seia sekata dan bersatu-padu).

Baca Juga :  Ketika Pasar Dibawa ke Kampung-kampung

Penutup

Tidak sedikit orang berasumsi bahwa nilai-nilai budaya Mandailing sekarang banyak yang bersumber dari dan dipengaruhi agama Islam. Juga bagi etnomusikolog Fumi Tamura (Dosen jurusan Etnomusikologi pada Tokyo National University of Fine Arts & Music di Jepang) menjadi bahan pemikiran setelah beliau merekam dan mendata beberapa musik tradisional Mandailing di Tamiang dan Sayurmaincat, Kecamatan Kotanopan baru-baru ini. Kita sering mendengar orang berujar: “membicarakan Mandailing akan menyangkut Islam”. Bertolak dari pemikiran karena mayoritas warganya pemeluk agama Islam yang taat. Kenyataan ini memang tidak dapat dipungkiri karena ajaran Islam telah mengakar kuat di seluruh aspek kehidupan mereka. Konsekuensinya berbagai aktivitas budaya tradisi sebagai warisan leluhur telah mereka tinggalkan sebab dipandang bertentangan dengan ajaran Islam; menghanyutkan sistem religi lama (sipelebegu) mereka yang menyembah roh-roh atau mahluk-mahluk halus. Begitu juga dengan tradisi ”eksogam marga” kian “melonggar” karenanya, sehingga sudah banyak terjadi “perkawinan semarga” di antara orang-orang Mandailing. Namun bukankah “kebudayaan” itu suatu “proses”, “sistem pemikiran” dan bersifat “dinamis”?

Nilai-nilai budaya tradisional Mandailing sesungguhnya tidaklah semua berbenturan dengan Islam. Bahkan agama Islam itu lebih memperjelas kegunaan dan hakekat nilai-nilai tradisi itu sendiri. Misalnya, keberadaan etika sosial sangko dan baso itu, mungkin bukanlah berasal dari ajaran Islam. Karena apabila seseorang melanggar tatakrama itu tidaklah pernah kita dengar tuduhan ”naso martuhan” (tidak bertuhan) atau “naso mengingot tuhan” (tidak mengingat tuhan), tetapi selalu dengan dakwaan “naso marbaso” atau “naso maradat”. Oleh karena banyaknya nilai-nilai budaya tradisional Mandailing yang seiring sejalan dengan ajaran agama Islam, maka tidaklah mengherankan apabila di tengah-tengah masyarakatnya kita menemukan ungkapan: “adat ombar dohot ugamo”. Ooooo

Baca Juga :  Sipirok, Kota Kecil yang Melahirkan Orang Besar

Informan:

1. Budayawan Drs.Z.P. Lubis ~ Medan
2. Mangaraja lelo (Lubis) ~ Medan
3. Zulkifli Matondang ~ Medan
4. Lukman lubis, BA ~ Medan
5. Sutan Guru Panusunan (Lubis) ~ Tamiang
6. Burhanuddin lubis ~ Huta Pungkut
7. Supri lubis ~ Huta Pungkut
8. Mangaraja Lobi (lubis) ~ Huta Padang
9. Sutan Singasoro (lubis) ~ Huta Godang
10. Sutan Baringin (lubis) ~ Habincaran
11. Drs. Chairul S. Nasution ~ Panyabungan
12. Ir.M. Hafiz Nasution ~ Panyabungan
13. Mangaraja B. Pandapotan (Nst) ~ Maga
14. Jatumaya (lubisl ~ Maga
15. Bayosege (Parinduri) ~ Sayurmaincat
16. Duski Tanjung ~ Pasar Kotanopan
Dimuat dalam Harian Waspada Medan, 1991

SELESAI

Biography Penulis:

hails from Gunung Tua-Muarasoro, Kotanopan – Mandailing Julu, where he was born on 13 March 1963. He obtained his bachelor degree in Ethnomusicology in 1995 from the University of North Sumatra (USU) in Medan, Indonesia. He is the author of Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, a study of Mandailing courtship music, published in 2007 by Areca Books (www.arecabooks.com) Penang, Malaysia.

http://bayosuti.blogspot.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*