Ketika Pasar Dibawa ke Kampung-kampung

Oleh: Budi Hatees *)

%name Ketika Pasar Dibawa ke Kampung kampung

Mesin Colt Diesel T-100 itu menuruni jalan kampong yang membelah dua Desa Situmba Batangmiha, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan. Kemiringan jalan itu 70 derajat, memaksa sopir memasukkan perseneling pada gigi satu, memperlambat gulir roda yang mulai gundul di atas jalan onderlag. Sekali-sekali rem diinjak mendadak menghindari bongkah batu yang mencut di tengah badan jalan, membuat Halimatussandiyah (39) yang duduk di samping sopir terjengkang. “Hati-hati, Bang! Jangan sampai semua ini jadi sia-sia,” katanya perempuan itu sambil memperbaiki letak jilbab warna coklat yang sempat tersingkap di bagian dada.

Sopir itu, suaminya, berusaha bercanda untuk menghalau ketegangan yang sempat memucat di wajahnya. Upaya suaminya membuat Atus, begitu Halimatusaddiyah dipanggil, terlihat lebih rileks. Dia menoleh ke belakang, isi truk yang dibawa, berupa tumpukan keranjang rotan warna coklat tua. Keranjang-keranjang itu masih utuh pada tempatnya, tak terganggu laju mobil yang menghentak-entak. “Kita sampai,” kata sopir, bersamaan dengan rem diinjak perlahan, dan mobil berhenti di tengah-tengah Desa Situmba Batangmiha di tempat sejumlah ibu-ibu berkumpul.

Rabu (20-4-2013) lalu, sekitar pukul 16.00 Wib, ketika mesin mobil itu dimatikan, warga Desa Situmba Batangmiha belum sejam lamanya menerima uang hasil penjualan getah karet. Aroma busuk dari getah karet masih tercium di udara, padahal truk pengangkut getah milik pedagang pengumpul yang datang dari Pargarulatan, Kecamatan Angkola Timur,–sekitar 30 km dari desa tersebut– sudah tak terlihat lagi.

Dua kali dalam sepekan, Rabu dan Minggu, petani karet tradisional di desa tersebut menghadapi musim panen. Pedagang pengumpul datang ke desa itu membawa truk, lalu menunggu petani pulang dari kebun. Rata-rata kepemilikan lahan para petani tak sampai 0,5 hektare, dengan tingkat produksi maksimal 10 kg sampai 20 kg. Bila harga mencapai Rp15.000 –Rp20.000 per kg, hasil penjualan getah yang dikantongi setiap warga mencapai Rp300.000,—Rp500.000,-.

Baca Juga :  Pengumuman Lelang Dinas PUD Padangsidimpuan Tidak Transparan

“Harga getah Cuma Rp15.000 per kg,” kata Armen (40), salah satu petani karet. “Ini termasuk bagus.”

Setiap kali warga selesai panen, situasi itu sudah berlangsung selama lima tahun terakhir, sejak tanaman karet yang mereka budidayakan mulai dipanen, para pedagang selalu datang ke desa tersebut. Atus, pedagang berbagai kebutuhan sehari-hari rumah tangga, salah seorang pedagang yang mampu mengendus peluang ekonomi lain dari kebiasaan panen warga Desa Situmba Batangmiha.

Begitu mesin truk Colt Diesel T-100 dimatikan, Atus, yang datang dari Kampung Pasar Bolakang, Kelurahan Pasar Sipirok—sekitar enam kilometer dari desa tersebut—langsung menyapa ibu-ibu yang berkumpul. Senyum sumringah, tawa yang renyah, dan tegur sapa yang ramah identik pada diri Atus. Mengenakan kerudung warna coklat tua, serasi dengan warna jubah yang dikenakannya, Atus membuka terpal dan pintu bak truk.

Keranjang-keranjang rotan yang ditumpuk, ditata di dalam bak truk atas, memperlihatkan isinya: mulai dari ikan asin, tomat, ragam sayur-mayur, dan berbagai bahan kebutuhan rumah tangga lainnya. Ibu-ibu yang sudah menunggu, langsung memilih-pilih bahan-bahan kebutuhan sehari-hari untuk keperluan memasak.

Desa Situmba Batangmiha, sebuah perkampungan yang dihuni sekitar 500 keluarga, tak lagi sunyi. Kesunyian yang biasa membekap desa yang terletak sekitar 1,5 km dari Jalan Lintas Sumatra Sipirok-Padangsidempuan itu, berubah jadi keriuhan proses tawar-menawar antara ibu-ibu dengan Atus. Sura tawa, sering meledak ketika Atus melempar canda.

“Saya harus membangun suasana kekeluargaan. Ini butuh proses yang tak mudah,” kata Atus.

Keluar masuk perkampungan membawa bahan-bahan kebutuhan masak sehari-hari, dan menghidupkan pasar di kampong-kampung. Awalnya tidak banyak yang meminati, tapi pada akhirnya para pelanggan merasa terbantu.

“Mereka tidak perlu lagi ke pasar. Selama ini, warga ke pasar sekali sepekan, selalu pada hari pasar, yakni hari Kamis,” katanya.

Untuk sampai ke pasar setiap hari Kamis, warga di kampong-kampung harus mengeluarkan ongkos sekitar Rp5000 pulang pergi. Biaya ongkos itulah yang dipotong Atus dengan membawa pasar ke kampong-kampung.

Baca Juga :  Target Peserta KB Baru Di Padangsidimpuan Melebihi 100 Persen

“Saya dan suami sengaja memilih hari Rabu. Pada hari itu semua warga kampong akan panen, karena mereka menyesuaikan masa panen dengan hari pecan setiap Kamis,” katanya.

Belum setahun Atus melakoni pekerjaan ini bersama suaminya. Sebelumnya, Atus menyewa los di Pasar Sipirok selebar 1,5 meter x 2 meter seharga Rp350.000 per bulan. Tapi, persaingan yang tinggi sesame pedagang membuat pendapatan Atus sangat minim. Lalu gagasan untuk mendatangi para pembeli muncul, kemudian dikembangkan.

“Banyak warga kampong yang tidak mau lagi ke pasar pada hari pasar. Semua kebutuhan yang ingin dibelanjakan sudah didapatkan,” katanya. *

budihatees 776944024 Ketika Pasar Dibawa ke Kampung kampung

*) Budi Hatees, Penulis adalah peneliti di Matakata Institut – lahir dengan nama Budi Hutasuhut, 3 Juni 1972 di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Pengajar komunikasi di Fisipol Universitas Bandar Lampung (UBL) ini banyak menulis masalah komunikasi di berbagai media dan jurnal. Tahun 2009, memutuskan berhenti mengajar dan bekerja sebagai Direktur Program untuk MatakaInstitute, lembaga konsultasi komunikasi dan pencitraan yang terlibat dalam program peningkatan citra di lingkungan Divisi Propam Mabes Polri.

Budi Hatees dapat dihubungi pada telepon 083170148555 atau 087881228876. Email: budi.hatees@gmail.com.

Sumber: thevoiceofsipirok.blogspot.com
CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*