Khawatir Aksara Mandailing Punah, Aplikasi Anroid Direalise.

Manuscript_in_Mandailing-Batak_language - id.wikipedia.org
Manuscript_in_Mandailing-Batak_language – id.wikipedia.org

Panyabungan, 1/9 (Antarasumut) – Para penggiat kesenian dan budaya yang tergabung dalam sebuah lembaga Tympanum Novem Multimedia merilis produk baru mereka yakni sebuah aplikasi Android bernama “Latin tu Aksara Mandailing”.

Aplikasi ini merupakan modifikasi aplikasi “Latin to Aksara Mandailing”, aplikasi berbasis windows yang juga dikembangkan Tympanum Novem beberapa tahun yang lalu.
Aplikasi “Latin tu Aksara Mandailing” ini dikembangkan dengan basic pemerograman Android. Cara menggunakannya mudah. Masukkan entri kata latin melalui tombol QWERTY. Memasukkan kata harus berdasarkan penggalannya, karena aksara Mandailing seluruhnya berbentuk vocal kata Ahmad Syukri Lubis yang mengembangkan action script untuk aplikasi ini menjawab Antara, Kamis.

“Mengingat penggunaan media mobile semakin luas, menyaingi fungsi internet dan pengajaran klasikal sekaligus mendorong penggunaan media pembelajaran seperti yang diharapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan” ujarnya.

Sementara itu, Askolani Nasution yang merupakan Ceo Tympanum Novem Multimedia menyebutkan pengembangan aplikasi ini dibuat selain kekhawatiran atas kecenderungan aksara ini dapat punah juga memenuhi rasa haus masyarakat terhadap pembelajaran Aksara Tulak-Tulak.

Dikatakannya, dari sebanyak 746 bahasa nusantara, hanya belasan suku yang punya aksara sendiri, dan itu termasuk Mandailing. Karena itu tragis kalau dilakukan upaya pelestariannya.

“Untuk itulah kami dari Tympanum mengambil peran pelestarian itu, memelihara khazanah budaya kita, meski tanpa dukungan” ujarnya.

Baca Juga :  Perlu Gerakan Rakyat Perubahan Palas

Dengan digunakan dan dikenalkannya aplikasi ini berarti sudah membantu melestarikan budaya itu karena tidak semua suku bangsa memiliki aksara sendiri harap Budayawan Mandailing Natal ini.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 3 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*