Kisah Pilu Korban Longsor Batang Toru

Foto: Illustrasi

Selasa, 22 Desember 2009 . www.metrosiantar.com

Suami Elus Kaki Istri, Sang Anak Panggil Nama Ibu
Musibah longsor di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) yang terjadi, Rabu (16/12) sekitar pukul 18.30 Wib lalu dan menewaskan Ibrahim Gea (28) bersama dua anaknya, Julpandi (2,5) dan Lisna (10 bulan) menyimpan kenangan yang cukup dramatis dan tak mungkin terlupakan oleh sang istri, Aisyah.

Aisyah yang ditemui METRO, Minggu (20/12) di ruang Irna I RSUD Sipirok, Kabupaten Tapsel menceritakan, saat kejadian yang diluar perkiraan itu, mereka sekeluarga sedang istirahat di gubuk ukuran 4 x 3 meter yang terdapat di perkebunan karet milik Surya Siregar (36) yang mereka jaga selama ini.

“Ketika itu saya dan suami belum tidur. Saya mengayun si bungsu Lisna dibuaian sebelah kiri saya, sedangkan Jelita dan Julpandi yang terdapat di sisi kanan saya sudah terlelap. Dan secara tiba-tiba kami mendengar suara gemuruh dan seperti bumi bergoyang, suaranya cukup nyata mirip air bah. Lalu kami berupaya keluar menyelamatkan diri. Dan suami saya (Ibarahim Gea) sudah sempat membuka pintu, namun ia balik untuk memapah anak-anak kami tidur untuk keluar, tetapi secara tiba-tiba gubuk kami tertimbun reruntuhan tanah.

Sambil menangis, Aisyah membeberkan kisah terakhir bersama suami dan kedua anaknya yang menjadi korban. Sebelum meninggal, Lisna Gea sempat mengucapkan satu kalimat untuk terakhir kalinya, ‘mak’. Lalu tak ada suara lagi dari si bungsu. Sedangkan si sulung Jelita, baru berteriak histeris setelah terjaga dari tidurnya dan adiknya Julpandi sama sekali tak ada suara karena terlelap. Sementara sang suami yang letak jatuhnya tepat di kaki Aisyah sempat mengelus kakinya seolah mengucapkan selamat tinggal.

Baca Juga :  Puskesmas Pintu Padang (kec. Batang Angkola) Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Warga Kurang Mampu

“Reruntuhan menimpa tubuh saya sehingga kepala tertunduk (mirip duduk telentang dan mencium lutut). Si bungsu yang saya ayun sempat mengucapkan kata ‘Mak’, namun seolah suaranya terhenti (gantung, red), sedangkan ayahnya anak-anak yang tergeletak ditimbun bebatuan dan tanah persis dekat kaki kiri saya, dan anak laki-laki saya sama sekali tak ada suaranya. Hanya si Jelita yang menjerit-jerit,” tuturnya sedih.

Kemudian dirinya dan putrinya Jelita mulai dirawat di RSUD Sipirok mulai hari Kamis (17/12) sore setelah suami dan dua anaknya dimakamkan di pemakaman umum masyarakat sekitar. Di mana kondisi Aisyah menderita luka gores dan memar disebagaian tubuhnya, kepala bagaian kanan membengkak sehingga pendengarannya berkurang. Sedangkan Jelita satu-satunya buah hati yang selamat kondisinyapun tidak terlalu parah, hanya saja kaki kiri terlihat luka robek akibat tertembus sesuatu benda keras dan runcing.

Sejak dirawat di RSUD, Aisyah ditemani kakak iparnya, Aminullah Gea (35).

Aminullah menuturkan, saat ini kendala mereka adalah biaya hidup sehari-hari untuk menjaga Asyiah dan Jelita terutama biaya makan. “Memang kami dibantu pemilik kebun untuk biaya sehari-hari sebanyak Rp300 ribu, namun saat ini sudah habis,” tuturnya.

Terlihat kondisi kedua korban masih lemas dan terbaring di rumah sakit. Sementara, Jelita sering menangis jika mengingat kejadian tersebut dan orang-orang yang dicintainya telah meninggal.

Seperti yang diwartakan sebelumnya, hujan yang mengguyur menjadi penyebab longsornya perbukitan di Kampung Mandailing, Kelurahan Wek I, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Rabu (16/12) sekitar pukul 18.30 Wib. Longsor itu menimbun satu rumah yang didiami 5 saudara kandung. Tiga orang meninggal dunia yakni bapak dan dua orang anaknya Ibrahim Gea (28) dan Julpandi (2,5) serta Lisna (10 bulan). Sementara istri Aisyah dan anaknya Jelita berhasil selamat. (ran)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  ANEH...! Kelas Dipakai Rapat, Siswa Belajar di Bawah Pohon

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*