Klaim Indonesia di Piala Dunia

Oleh: Fadil Abidin *)

Indonesia secara de facto adalah negara Asia pertama yang pernah menjadi peserta Piala Dunia, tepatnya pada Piala Dunia 1938 di Prancis. Tapi hal tersebut belum diakui FIFA hingga sekarang. Alasannya, tim yang ikut berpartisipasi pada Piala Dunia 1938 adalah Nederlandcshe Indische atau Hindia Belanda.

[adsense]Kita bangsa Indonesia khususnya PSSI sebagai induk organisasi sepakbola seluruh Indonesia harus berjuang agar Indonesia diakui sebagai peserta Piala Dunia 1938. Nama Nederlandcshe Indische atau Hindia Belanda pada hakikatnya adalah Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Jadi ‘pewaris’ nama Nederlandcshe Indische atau Hindia Belanda adalah Indonesia. Hal tersebut dapat diajukan sebagai dasar klaim Indonesia. Contohnya, Rusia yang mengklaim sebagai ‘pewaris sah’ Uni Sovyet. Rusia mewarisi sejarah dan prestasi Uni Sovyet di pentas Piala Dunia.

Uni Sovyet bubar menjadi 15 negara yang masing-masing berdaulat pada 26 Desember 1991. Negara-negara tersebut meliputi Rusia, Armenia, Azerbaijan, Belarusia, Estonia, Georgia, Kazakhstan, Kyrgistan, Latvia, Lithuania, Moldova, Turkmenistan, Tajkistan, Ukraina, dan Uzbekistan.

Uni Sovyet telah tujuh kali ikut serta dalam pentas Piala Dunia, dan semuanya diklaim dan ‘diwarisi’ oleh Rusia ketika Uni Sovyet bubar. Sementara Rusia sebagai negara mandiri lolos menjadi peserta Piala Dunia sebanyak 3 kali yaitu Piala Dunia 1994, 2002, dan Piala Dunia 2014 di Brasil. Dan totalnya Rusia (ditambah dengan Uni Sovyet) diakui sebagai peserta Piala Dunia sebanyak 10 kali. Pemain sepakbola Uni Sovyet pada masanya memang didominasi oleh orang-orang dari Rusia. Satu-satunya negara pecahan Uni Sovyet yang berhasil lolos ke Piala Dunia adalah Ukraina tahun 2006.

Lain Rusia Lain Yugoslavia

Tapi untuk kasus bubarnya Uni Sovyet tidak berlaku untuk Yugoslavia. FIFA telah menyatakan bahwa tidak ada ‘pewaris sah’ untuk sejarah dan prestasi Yugoslavia di pentas Piala Dunia. Yugoslavia bubar pada tahun 2003 menjadi negara-negara Slovenia, Kroasia, Makedonia, Bosnia Herzegovina, dan Serbia-Montenegro. Serbia-Montenegro pernah mengklaim secara sepihak sebagai ‘pewaris’ sejarah Yugoslavia. Tapi pada tahun 2006 Serbia-Montenegro pecah menjadi dua negara yaitu Serbia dan Montenegro. Bahkan pada tahun 2008, Kosovo memisahkan diri dari Serbia.

Yugoslavia memiliki sejarah dan prestasi yang lebih cemerlang di Piala Dunia ketimbang Uni Sovyet pada masa lalu. Yugoslavia tercatat 8 kali lolos ke Piala Dunia, prestasi tertinggi mereka di Piala Dunia adalah mencapai babak semi final dan finish di urutan ke 4 pada Piala Dunia 1930 di Uruguay dan Piala Dunia tahun 1962 yang berlangsung di negara Chili. Piala Dunia 1998 di Prancis menjadi saksi kehebatan terakhir mereka, mereka berhasil menahan imbang Jerman 2-2, melumat Amerika Serikat dan Iran. Namun perjuangan mereka di Piala Dunia ini dihentikan oleh Belanda di babak 16 besar.

Yugoslavia dan negara-negara pecahannya memang selalu melahirkan pemain-pemain sepakbola hebat dan berbakat di Benua Eropa. Dalam Rangking FIFA, prestasi negara-negara pecahan Yugoslavia ini bisa dibilang luar biasa untuk ukuran negara-negara yang baru merdeka dan jumlah penduduk yang sedikit. Bahkan beberapa pemainnya merupakan tulang punggung dari klub-klub sepakbola elite Eropa. Dari negara-negara pecahan Yugoslavia yang pernah lolos ke Piala Dunia adalah Kroasia, Slovenia, Serbia-Montenegro, Serbia, dan Bosnia Herzegovina. Hebat bukan?

Baca Juga :  Mewujudkan Akses Pendidikan Yang Meluas, Merata Dan Berkeadilan Oleh Taufik Akbar Hasibuan Guru SMP N 1 Aek Nabara Barumun

Ada satu lagi negara dengan sejarah dan prestasi gemilang di Piala Dunia yang negaranya ikut bubar yaitu Cekoslovakia. Pemecahan Cekoslovakia menjadi Republik Ceko dan Republik Slovakia pada 1 Januari 1993. Berbeda dengan perpecahan di Uni Sovyet yang diawali dengan krisis, konflik politik, dan konflik bersenjata. Bahkan perpecahan di Yugoslavia lebih mengerikan lagi dengan perang antar suku bangsa dan pembunuhan massal. Perpecahan di Cekoslovakia justru berlangsung damai. Untuk prestasi di Piala Dunia mereka juga tampaknya berbagi, Republik Ceko berhasil lolos di Piala Dunia 2006, maka Slovakia lolos di Piala Dunia 2010.

Klaim Indonesia

Indonesia seharusnya bisa klaim kepada FIFA sebagai ‘pewaris’ nama Hindia Belanda. Hindia Belanda adalah negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia 1938 di Prancis. Tetapi gaya permainan serta seluk-beluk tim sepak bola ini tidak banyak tercatat dalam sejarah. Salah satu catatan sejarah keikutsertaan Hindia Belanda adalah laporan koran Prancis L’Equipe, edisi 6 Juni 1938 (pertandingannya 5 Juni 1938) yang terarsip di museum.

Dalam laporannya L’Equipe menulis,”Gaya menggiring bola pemain depan Tim Hindia Belanda, sungguh brilian. Tapi pertahanannya amburadul, karena tak ada penjagaan ketat.” Hasilnya, seperti tercatat dalam sejarah, tim sepakbola Hindia Belanda dicukur 6-0 oleh tim Hungaria, sekali bertanding, kalah, dan langsung gugur. Piala Dunia 1938 menggunakan sistem gugur. Artinya, tim Hindia Belanda harus angkat kopor lebih awal.

Dan ternyata laporan pandangan mata pertandingan tersebut diterbitkan juga oleh surat kabar The Times, London. Tapi, apa istimewanya berita itu? Informasi tentang “gaya permainan tim Hindia Belanda” belum banyak dipublikasikan oleh media-media yang terbit di Indonesia.

Sejauh ini nyaris tidak ada catatan tertulis seperti apa isi pertandingan yang digelar di Stadion Velodorme, Reims, Prancis, 5 Juni 1938, kecuali laporan-laporan yang hanya menyoroti nama-nama pemain yang terdiri dari suku Jawa, Maluku, Tionghoa, Indo-Belanda, serta pelatihnya yang asal Belanda, Johannes Christoffel van Mastenbroek.

Laporan-laporan media di Indonesia juga semata menyebutkan bahwa keberangkatan tim ini didukung NIVU, Nederlandcshe Indische Voetbal Unie – organisasi sepakbola di bawah naungan pemerintah kolonial Belanda, tetapi tidak “direstui” PSSI. PSSI yang didirikan 8 tahun sebelumnya (1930), dilaporkan tidak mengirimkan para pemainnya. FIFA sendiri lebih mengakui NIVU ketimbang PSSI.

Walaupun akhirnya mengatasnamakan NIVU, toh kehadiran Tim Hindia Belanda pada ajang Piala Dunia 1938, akhirnya dicatat sebagai kehadiran pertama kalinya wakil dari benua Asia. Semula Jepang yang ditunjuk, namun karena kendala transportasi, negara itu mengundurkan diri. Hindia Belanda akhirnya menggantikannya – tanpa melalui ajang kualifikasi Piala Dunia, yang seperti dipraktekkan sekarang.

Baca Juga :  Mengurai Krisis Listrik di Sumatera Utara

Dalam buku sejarah piala dunia terbitan London, disebutkan bahwa para pemain Hindia Belanda, didominasi para pelajar. “Kapten timnya adalah seorang dokter, yang menggunakan kacamata,” ujar wartawan The Times, saat meliput pertandingan itu. Pemain Hindia Belanda mengenakan seragam oranye, celana putih dan kaos kaki biru muda. Informasi ini berbeda dengan laporan yang sudah lama sebelumnya, yang menyebutkan mereka adalah para pegawai yang bekerja untuk pemerintah kolonial.

Disebutkan pula, sebagian besar para pemain berukuran tubuh pendek (“Bien trop petits,” kata reporter koran Prancis L’Equipe , yang dikutip The Times). Meski tergolong pendek, imbuhnya, para pemain depan Hindia jago menggocek bola. “Gaya menggiring bola pemain depan Tim Hindia Belanda, sungguh brilian…,” begitulah laporan koran Prancis L’Equipe, edisi 6 Juni 1938.

Pantas Kalah Pantang Menyerah

Perjalanan tim Hindia Belanda menuju Piala Dunia di Prancis memang sungguh berat. Sebelum berangkat telah terjadi ‘perseteruan’ organisasi sepakbola antara NIVU (yang dibentuk oleh orang-orang Belanda) dan PSSI yang dibentuk oleh orang-orang Indonesia yang dipelopori R.Soeratin.

Tim Hindia Belanda berangkat pada tanggal 18 Maret 1938 menggunakan Kapal MS Johan van Oldenbarnevelt dari Tandjong Priok, Batavia menuju Belanda. Tim Hindia-Belanda pun akhirnya tiba di Pelabuhan Rotterdam setelah terombang-ambing oleh badai petir selama 3 bulan. Untuk memulihkan kondisi fisik dan mental, mereka melakukan beberapa pertandingan ujicoba dengan klub Liga Belanda. Ketika di Belanda tim Hindia Belanda ini disebut sebagai “tim Indonesia” oleh para pelajar Indonesia di Belanda yang kemudian banyak dikutip oleh media-media Eropa.

Walaupun Hindia Belanda melawan Hungaria- salah satu tim terkuat di Eropa, Hindia Belanda tidak menerapkan sistem bertahan, mereka justru menyiapkan formasi ultra menyerang 2-2-6! Alhasil, perjuangan tim Hindia-Belanda berakhir setelah digilas 6-0 oleh Hungaria, tim tangguh yang akhirnya menjadi Juara 2 setelah kalah 4-2 oleh Italia di Final. Meskipun demikian, surat kabar Prancis Le Figaro memuji semangat juang kesebelasan Hindia-Belanda, The Sunday Times memuji fairplay mereka, dan pada edisi 7 Juni 1938, Sin Po menampilkan headline nan heroik: “Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Sasoedahnja Kasi Perlawanan Gagah” – Indonesia-Hungaria 0-6, Kalah Sesudahnya Kasih Perlawanan Gagah. ***/analisadaily.com

* Penulis adalah pemerhati masalah sosial-kemasyarakatan.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*