Komisi D DPRD Sumut: Proyek Tambang Emas Martabe Bom Waktu Bagi Masyarakat Tapsel

Tapanuli Selatan, (Analisa)

Kekhawatiran akan dampak lingkungan yang begitu besar bagi masyarakat Tapanuli Selatan dan Sumatera Utara, DP RD Sumut akan menemui Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Sumber Daya Mineral, guna mempertanyakan berbagai ijin menyangkut proyek eksplorasi emas di Batang Toru Tapsel.

” Dalam waktu dekat kita akan berupaya menemui dua menteri bersangkutan, guna meneliti apakah benar seluruh ijin menyangkut eksplorasi emas dengan nama Proyek Martabe yang dikelola oleh perusahaan asal Honglong Agincourt Resources, sudah sesuai dengan aturan dan mekanisme yang berlaku”, kata Ketua Komisi D DPRD Sumut Maratua Siregar kepada Analisa, disela-sela kunjungan kerjanya ke Tambang Emas Batang Toru Tapsel, baru-baru ini.

Maratua didampngi Sekretaris Komisi D DPRD Sumut Tunggul Siagian serta beberapa anggota komisi H. Ajib Shah, Marahalim Harahap SAg, Mhum, Imam Nasution, M.Nasir, Amsal Nasution, Efendi Napitupulu, Hamamisul Bahsan, Jamaluddin Hasibuan dan Restu Serumaha menye-butkan, kekhawatiran ini muncul setelah melihat begitu dahsyatnya penghancuran hutan akibat proyek tersebut.

” Saya sangat yakin, pasti akan terjadi dampak lingku-ngan yang begitu besar bagi masyarakat disekitar lokasi proyek.

Apalagi menurut data dan informasi yang kita peroleh, daerah Tapsel berada pada jalur patahan Sumatera, sehingga sangat rawan terjadi gempa bumi.

Ini harusnya menjadi perhatian serius pihak yang berkompeten. Kita tidak mau hanya untuk kepentingan bangsa asing, masayarakat kita yang menjadi korban”, kata politis dari Fraksi PAN ini.

Hal senada juga diungkap-kan Politisi dari Fraksi Demokrat H.Marahalim Harahap. Menurutnya, keberadaan Agincourt Rersources dengan proyek Martabenya, bagaikan Bom Waktu bagi masyarakat Tapsel yang sewaktu-waktu pasti akan meledak.

Dugaan ini kata Marahalim sangat beralasan. Sebelum ada proyek penambangan saja, daerah Taspsel sering kali digun-cang gempa bumi, banjir bandang dan tanah longsor. Konon lagi saat ini, sudah ada dua proyek tambang emas raksasa di Tapsel dan Mandailing Natal yang dengan tehnologi tercanggihnya mampu mengobok-obok hutan di daerah itu.

Kalau kita berbicara tentang dampak positif yang ditimbulkan akibat keberadaan Proyek Martabe ini, mahasiswa Pasca Sarjana S3 Doktor USU ini mengatakan, jumlahnya sangat tidak sebanding, antara yang mereka ambil, dengan yang me-reka beri.

Baca Juga :  Rahmad, Penderita Tumor Butuh Bantuan Dana - Benjolan Membesar Tutupi Separuh Wajah

” Sangat tidak masuk akal, proyek yang menguras kekayaan alam kita dengan triliunan rupiah, kita hanya memperoleh lima persennya saja, kalaupun ada dana CSR dan bantuan sosial lainnya, jumlahnya pasti sangat kecil bila dibandingkan dengan keuntungan yang mereka (Agincourt Resources-Red) peroleh”, kata Marahalim yang juga Ketua Dzikir SBY Sumatera Utara.

Dalam kaitan proyek Martabe ini, sebenarnya masih banyak dampak-dampak negatif lain yang harus dipertimbangkan secara matang oleh pihak yang berkompeten dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Mine ral, termasuk Pemprovsu dan Pemkab.

Kita tidak ingin, kalau sesuatu hal sudah terjadi semua pihak saling menyalahkan dan saling melempar tanggung jawab, kata Marahalim sesaat usai melakukan pertemuan di lokasi Proyek Martabe Batang Toru.

Hentikan Sementara

Sementara Tunggul Siagian yang juga dari Fraksi Demokrat mengatakan, kekhawatiran dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh Proyek Martabe ini, sebaiknya pemerintah menghentikan sementara proyek Tambang Emas Martabe, menunggu hasil kajian yang lebih komprehensif. Dan sebagai partai pemerintah, kita akan menyampaikan masalah ini kepada Fraksi Demokrat yang ada di DPR-RI, kata Tu-nggul Siagian.

Lain halnya dengan politsi dari Fraksi PDI Perjuangan Efendiu Napitupulu yang mengatakan, sebaiknya proyek Martabe yang dikelola Agincourt Resources dihentikan saja. Karena kelihatnnya kata Efendi, keberadaan proyek ini lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya.

Bupati Tapanuli Selatan Syahrul Pasaribu yang ikut mendampingi Rombongan Komisi D meninjau Proyek Martabe di Batang Toru me-ngatakan, sejauh ini belum ada kompensasi yang diterima Pemkab atas keberadaan peru sahaan tambang ini, dengan alasan, mereka masih dalam tahap eskplorasi.

Ketika singgung kebijakan apa yang akan dilakukan Pemkab terkait proyek tambang ini, meskipun ini merupakan wewenangnya peme-rintah pusat Syarul Pasaribu mengatakan, kita akan coba melakukan sharing dengan pihak terkait, sehingga keberadaan perusahaan ini benar-benar ada manfaatnya bagi pembangunan di Tapanuli Selatan.

Baca Juga :  Pemerintah AS "Tutup", Siapa yang Paling Terdampak?

Menyikapi berbagai kek-hawatiran tadi Direktur Operasional Agincourt Resources Tim Duffy dihadapan Komisi D mengatakan, kekahwatioran itu sangatlah berlebihan. Pihaknya bersama instansi yang berwenang telah melakukan kajian terkait dampak lingkungan yang akan ditimbulkan, sehingga kami mendapatkan ijin untuk memulai pertambangan ini, kata Tim Duffy.

Ia juga menuturkan, sejauh ini seluruh prosedur telah kita penuhi, baik itu menyangkut berbagai ijin dan aturan lainnya. Di samping itu, sebagai bentuk keperdulian dengan masyarakat sekitar, manajemen juga telah melakukan berbagai kegiatan sosial, baik itu dari sektor kesehatan, pendidikan dan kemasyarakatan.

Terkait dengan realisasi Proyek Martabe ini didampingi jajaran manajemen PT Agincourt Resources Linda Siahaan dan Stevi Thomas, Tim Duffy menuturkan, sesuai dengan agenda kerja kita pada akhir 2011 ini, kita sudah mulai mem-produksi emas batangan de-ngan nilai jumlah produksi mencapai 250 ribu oz pertahun.

“Seluruh sarana infrastruktur, baik itu jalan, pabrik dan berbagai sektor pendukung lainnya sedang kami persiapkan.

Sebagaiman anda lihat karyawan kami bekerja siang malam, agar harapan produksi akhir 2011 ini dapat tercapai. Kami mohon dukungan semua pihak”, kata Tim Duffy. (di) (analisadaily.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

6 Komentar

  1. Menyikapi berbagai kek-hawatiran tadi Direktur Operasional Agincourt Resources Tim Duffy dihadapan Komisi D mengatakan, kekahwatioran itu sangatlah berlebihan. Pihaknya bersama instansi yang berwenang telah melakukan kajian terkait dampak lingkungan yang akan ditimbulkan, sehingga kami mendapatkan ijin untuk memulai pertambangan ini, kata Tim Duffy.

    Ia juga menuturkan, sejauh ini seluruh prosedur telah kita penuhi, baik itu menyangkut berbagai ijin dan aturan lainnya. Di samping itu, sebagai bentuk keperdulian dengan masyarakat sekitar, manajemen juga telah melakukan berbagai kegiatan sosial, baik itu dari sektor kesehatan, pendidikan dan kemasyarakatan.

    Terkait dengan realisasi Proyek Martabe ini didampingi jajaran manajemen PT Agincourt Resources Linda Siahaan dan Stevi Thomas, Tim Duffy menuturkan, sesuai dengan agenda kerja kita pada akhir 2011 ini, kita sudah mulai mem-produksi emas batangan de-ngan nilai jumlah produksi mencapai 250 ribu oz pertahun.

    “Seluruh sarana infrastruktur, baik itu jalan, pabrik dan berbagai sektor pendukung lainnya sedang kami persiapkan.

    Sebagaiman anda lihat karyawan kami bekerja siang malam, agar harapan produksi akhir 2011 ini dapat tercapai. Kami mohon dukungan semua pihak”, kata Tim Duffy. (di) (analisadaily.com). ( PERSOALANNYA APA SEBENARNYA ????? ). KALAU ADA MASALAH YA MARI DUDUK SAMA , JANGAN PANAS – PANAS TAIK AYAM !!!!!!. KALAU PT. AR UNTUNG YA LINGKUNGAN JUGA UNTUNG DAN KALAU PT. AR RUGI APAKAH LINGKUNGAN MAU RUGI DAN TENGGELAM ?????. INI SAJA MASALAHNYA . KALAU MARTABE YANG SAAT INI DAPAT LANJUT LEBIH BAIK DARI PADA STOP , KALAU STOP HANCURLAH BATANGTORU ITU , SEDANG YANG MASIH TERTUTUPPIN HUTANNYA MASIH RAWAN BANJIR APALAGI TELAH GUNDUL , HANYUTLAH BATANGTORU ITU , GIMANA BIAR BISA JALAN DAN SALING MENGUNTUNGKAN , RAKYAT INDONESIA PENDATANG DAN RAKYAT INDONESIA LOKAL ADALAH BANGSA INDONESIA , HANYA KALAU PANDATANG SEDIKIT SAJA BEDANYA DENGAN LOKAL , KALAU TERJADI BENCANA DI BATANGTORU DIA PULANG KAMPUNGNYA DAN SELAMAT TINGGAL BATANGTORU , ITU SAJA BEDANYA , TAK USAH BANYAK CERITA !!!!!!.

  2. Komisi D DPRD Sumut: Proyek Tambang Emas Martabe Bom Waktu Bagi Masyarakat Tapsel.

    Tapanuli Selatan, (Analisa)
    Kekhawatiran akan dampak lingkungan yang begitu besar bagi masyarakat Tapanuli Selatan dan Sumatera Utara, DPRD Sumut akan menemui Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Sumber Daya Mineral, guna mempertanyakan berbagai ijin menyangkut proyek eksplorasi emas di Batang Toru Tapsel. ( SIAPKANLAH ILMU YANG SEBAIK – BAIKNYA , SELAGI MANUSIA TIDAK MENGHARGAI ILMU YANG BAIK ITU , MAKA HANCURLAH DIA !!!! ).

    Maratua didampngi Sekretaris Komisi D DPRD Sumut Tunggul Siagian serta beberapa anggota komisi H. Ajib Shah, Marahalim Harahap SAg, Mhum, Imam Nasution, M.Nasir, Amsal Nasution, Efendi Napitupulu, Hamamisul Bahsan, Jamaluddin Hasibuan dan Restu Serumaha menye-butkan, kekhawatiran ini muncul setelah melihat begitu dahsyatnya penghancuran hutan akibat proyek tersebut.. ( SETELAH MELIHAT SAAT SUPERVISI / MONITORING DAN EVALUASI , YA SIAPKANLAH ILMU UNTUK MENINDAKLANJUTI ATAS KEKHAWATIRAN TERSEBUT !!!!! ).

    Kalau kita berbicara tentang dampak positif yang ditimbulkan akibat keberadaan Proyek Martabe ini, mahasiswa Pasca Sarjana S3 Doktor USU ini mengatakan, jumlahnya sangat tidak sebanding, antara yang mereka ambil, dengan yang me-reka beri. ( BUAT TULISANNYA / GAMBARAN KONDISINYA , DIBIAYAI OLEH PEMERINTAH = UANG RAKYAT DAN DIDUKUNG OLEH DPRD SUMUT , GIMANA DIA MAU MENULIS WALAU DIA S3 DOKTOR KALAU BIAYANYA UNTUK ITU TAK ADA , TINGGAL CERITA SAJALAH NANTINYA , KULIHAT – KULIHAT – KULIAHAT DAN KHAWATIR – KHAWATIR – KHAWATIR , KAN GITU SAJALAH NANTI ???? ).

  3. Tidak ada kata terlambat.Saya rasa masih bisa di perjuangkan persen pembagian.
    Tidak masuk akal pembagian 5 % buat daerah.
    Hitungan kasar : Hanya untuk Emas saja :
    Modal G.Resource Ltd : US $ 440 jt sama dgn Rp.3.8 T.
    Cadangan emas 6.5 Juta ons.
    Harga emas hari ini US $ 1625/ons.
    Total nilai jual 6.500.000 x $ 1625 (sumber KITCO)= US $ 10.562.500.000 = Rp 90.837.500.000.000 = Rp 90.3 T.
    Jatah Pemkab 5 % dari 90.3 T = 4.55 T.
    Jadi dengan modal Rp 3.8 T + Rp 4.55 T = Rp 8.35 T, pihak asing mendapatkan keuntungan
    sebesar Rp 81.95 T. Ini baru dari emasnya.belum peraknya.
    SANGAT FANTASTIS…..BISA UNTUK MENYEKOLAHKAN SELURUH PENDUDUK INDONESIA SAMPAI S1 (SARJANA).
    Apakah pemerintah kita tidak bisa berhitung????hah….malu dan sedih aku….pengen marah…pengen nangis….kepada rumput yg bergoyang…..

  4. Biasanya, anggota dewan yg terhormat datang ke lokasi proyek untuk menanyakan jatah buat partainya, bukan untuk kepentingan masyarakat, Kalau bisa semua masyarakat yg disekitar lokasi harus protes, jangan mau daerahnya dirusak, bagi hasil yg di dapatkan saya rasa tidak sesuai, kalaupun proyek ini tetap harus jalan maka bagi hasilnya seharusnya 40 % buat warga Tapsel, 20 % buat pemerintah pusat dan sisanya 40 % untuk perusahaan yg menjalankannya. JANGAN MAU JADI BUDAK DI NEGERI SENDIRI……

  5. Gertak sambal………..yang acapkali berujung nego untuk dapat Lui alias Fulus alias Hepeng alias Duit.. Hai kawan-kawan yang di Tapsel….lihat itu Newmont…lihat itu Freeport……warganya ibarat tikus yang mati diatas beras.

  6. buat anggota DPRD : anda terlambat datang meninjau, selama ini anda kemana ? Proyek sdh hampir produksi baru anda komentar. Payah deh …

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*