Komisi VII DPR Soroti Perusahaan Tambang Madina

Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu
Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu

Medan. Ketua Komisi VII DPR-RI Gus Irawan Pasaribu menyoroti tentang keberadaan tambang emas di Madina (Mandailing Natal) dan eksplorasi panas bumi di kawasan Gunung Sorik Marapi yang kemudian mengambil korban masyarakat setempat.
Hal itu disampaikan Gus Irawan Pasaribu dalam siaran pers yang diterima MedanBisnis, Minggu (21/8), setelah berkunjung ke Mandailing Natal dalam proses reses anggota dewan dan langsung meninjau keberadaan dua perusahaan di daerah itu.

Gus mengaku heran atas keberadaan tambang emas SMM dan perusahaan eksplorasi gas PT SMGP yang sudah diakuisisi perusahaan lain.

“Ini yang saya tidak habis pikir. Dua perusahaan itu hadir di bumi Mandailing Natal. Belum menghasilkan apa-apa tapi korban sudah berjatuhan,” ujarnya

Seperti diketahui, kata Gus, keberadaan dua perusahaan itu diprotes masyarakat setempat. Intinya mereka tidak bisa mengakomodasi dan mendengar keluhan rakyat. “Akibatnya apa? Yang terjadi adalah bentrokan antar masyarakat dan antara masyarakat dengan aparat keamanan. Jadi sebenarnya mereka belum menghasilkan apa-apa tapi masyarakat sudah jadi korban.

Bentrok sesama masyarakat terjadi karena ada yang membela perusahaan dan ada yang menolak. Kemudian bentrok masyarakat dengan aparat keamanan yang terjadi senjata dari uang rakyat digunakan untuk mengintimidasi masyarakat,” tuturnya.

Bahkan, jelas Wakil Ketua Fraksi Gerindra di DPR-RI ini, kehadiran tambang emas dan perusahaan eksplorasi gas di Sorik Marapi sudah merusak kearifan lokal. “Kita tahu kearifan lokal dan kekerabatan di Mandaling Natal itu sangat kuat karena saling mendukung. Namun kehadiran perusahaan tambang memecah belah kearifan lokal itu,” tuturnya.

Baca Juga :  Bupati Tapsel Meresmikan Dua SDN di Kecamatan Angkola Sangkunur

Gus menyatakan semua yang dijelaskannya merupakan temuan reses. Bahkan SMM sudah berdiri lama tapi tidak jelas apa yang dilakukan di sana.

“Begitu juga dengan SMGP. Kalau kondisinya begitu saya menyarankan cabut saja izinnya. Jangan tambah korban berjatuhan. Hasil tak ada tapi korban berjatuhan,” jelas Gus.

Desakannya agar izin perusahaan itu dicabut karena hingga saat ini tidak jelas progress apa yang sudah dilakukan SMM dan SMGP. “Masa mereka tidak menjelaskan ke publik apa saja yang sudah mereka lakukan. Bagi saya ini sangat aneh. Saya mempertanyakan kesiapan investor. Jangan-jangan mereka ini makelar saja itu. Faktanya hari ini belum ada apa-apa action di lapangan,” ungkapnya.

Gus menyatakan kunjungannya ke perusahaan itu sebenarnya terkait juga kedatangan tim Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan membuat instalasi pengolahan air limbah di pesantren Purba Baru.

Kecurigaan Gus Irawan terkait perusahaan di sana hanya menjadi agen perizinan sebenarnya sudah kian terbukti. Setelah mendalami data dan berbicara dengan masyarakat seperti yang disampaikan Komunitas Mandailing Perantauan. (hisar hasibuan/ril)

SUMBER: MEDANBISNIS.COM

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 3 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*