Koneksi Lambat Hambat Adopsi Komputasi Awan di Indonesia

KOMPAS.com — Saat ini, komputasi awan sedang mengalami peningkatan adopsi pada sektor publik di seluruh penjuru dunia. Amerika Serikat merngambil inisiatif dan beralih ke strategi “Cloud First”, dengan kondisi bahwa transisi negara tersebut berlangsung cepat, yang dimulai dari penggunaan Google Mail dan Google Documents dan bermigrasi ke Recovery.com. Ini menjadikan Pemerintah Amerika Serikat sebagai government-wide system pertama yang beralih ke sistem awan pada April 2010.

Selain Amerika Serikat, negara-negara lain juga melakukan sejumlah investasi secara signifikan untuk komputasi awan atau cloud computing dan memetakan luasnya penyebaran adopsi lintas fungsi sistem komputasi awan. Pemerintah di negara-negara Asia juga mulai berusaha memanfaatkan layanan komputasi awan sebagai upaya efisiensi ICT mereka.

“Meskipun terdapat kekhawatiran, terutama terkait masalah privasi dan keamanan data yang dapat menghambat penerapan komputasi awan, nilai proposisi untuk beralih ke komputasi awan bagi pemerintah terlalu menarik untuk diabaikan,” ungkap Iwan Rachmat, Senior Consultant ICT Practice, Frost & Sullivan Indonesia.

Saat ini negara-negara di Asia Pasifik berada pada tahapan yang berbeda dalam membentuk strategi dan implementasi sistem komputasi awan. Menurut hasil riset terbaru Frost & Sullivan di kawasan Asia Pasifik, 21 persen dari responden instansi pemerintah telah mengadopsi komputasi awan dalam aplikasi yang berbeda-beda. Selain itu, hasil riset tersebut juga menunjukkan bahwa dengan mempertimbangkan kekhawatiran pemerintah atas keamanan data dan lokasi pusat data, komputasi awan privat dan hibrida mengalami peningkatan adopsi yang signifikan di kawasan ini.

Baca Juga :  CD rusak tergores? Selamatkan dengan 5 cara ini!

Sementara itu di Indonesia, ketersediaan konektivitas internet yang cepat dan dapat diandalkan (sebagai persyaratan utama adopsi sistem komputasi awan) ternyata masih rendah. Hal ini menjadi faktor penghambat penerapan komputasi awan di Indonesia menurut analisis Frost & Sullivan Indonesia.

“Masalah lainnya adalah rendahnya tingkat kesadaran tentang komputasi awan sehingga manfaat nyata dari penerapannya masih belum jelas bagi kebanyakan pihak. Dua hal tersebut merupakan faktor penghambat bagi Pemerintah Indonesia untuk berinvestasi dalam komputasi awan,” tambah Iwan.

Padahal, pembicaraan hangat seputar komputasi juga telah mendorong pemerintah negara lain untuk mengevaluasi cara terbaru dalam pengiriman. Dengan adanya dorongan pemerintah di negara-negara besar untuk menerapkan komputasi awan, terutama di Amerika Serikat, pemerintah di negara-negara kawasan Asia Pasifik juga memiliki kepercayaan diri dan secara intensif mengevaluasi komputasi awan. Untuk itu, menurut Iwan, diperlukan edukasi, baik ke pasar maupun instansi pemerintah, dalam penerapan sistem cloud ini, terutama dari sisi manfaat, efisiensi yang dihasilkan, dan keamanan yang terjamin.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*