Konflik God Bless – Wawancara Dengan Yockie Suryo Prayogo

Yockie Suryo Prayogo tampil dalam aksi seni dan renungan kebudayaan Indonesia Membaca Rendra, yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta, 29 Oktober 2009.

KOMPAS.com — Pada 20 Oktober 2011 dini hari, pemusik kawakan Yockie Suryo Prayogo, melalui wall akun pribadi Facebook-nya, membeberkan kepada publik konflik panjangnya dengan God Bless, band legendaris yang pernah dihuninya pada 1988-2003. Apakah yang menyebabkan Yockie tiba-tiba melancarkan aksinya itu? Silakan simak hasil wawancara yang dilakukan oleh Kompas.comterhadap Yockie di kediamannya di kawasan Serpong, Tangerang, Banten, 20 Oktober 2011 malam.

Ian Tak Melek Hukum

Mengapa tiba-tiba Anda membuka tabir konflik Anda dengan God Bless, termasuk kejadian tahun 2003 (menurut Yockie, ia sampai ditodong dengan senjata api genggam), yang selama ini menjadi rahasia God Bless?

Saya berbicara pascakejadian ya. Jadi, sebetulnya semenjak 2003 itu tentu saja bukan saya sendiri. Kami semua berusaha berpikir rasional ya. Kami kan bukan anak kecil lagi, bahkan sudah dewasa dan masuk ke usia tua ya. Jadi, tentu pertimbangannya tidak mau ribut-ribut.

Hanya saja, dunia terus bergerak, zaman bergerak. Kalau dulu, di zaman 1970-an, orang main musik dianggap hobi. Artinya, profesi musik hanya sambilan. Kami tidak mendapat legitimasi pengakuan bahwa itu suatu profesi yang cukup bisa menjadi sandaran. Karena itu, pada saat itu hukum dan aturan tidak ada sehingga banyak lagu saya yang tidak jelas di mana masternya. Proses itu yang melatarbelakangi saya di zaman yang mulai berubah dan membuat saya ingin melakukan pembenahan mengenai apa saja yang saya lakukan sepanjang hidup, yang dulu tidak terfasilitasi oleh undang-undang dan peraturan, oleh hukum dan mekanisme, banyak hal.

Bukan kasus ini saja, banyak pula lagu saya di Musica Studios yang saat saya rekaman ingin saya benahi semua. Banyak pula yang di luar studio, lagu-lagu saya ingin saya benahi semua. Dengan Dian Pramana Putera dan penyanyi lain yang enggak jelas juga ingin saya benahi semua.

Selama proses itu berjalan, khususnya lagu-lagu saya di God Bless itu, saya mencoba menempuh jalan yang agak berbeda. Okelah, saya tempuh cara-cara yang lebih bijaksana, persuasiflah, dengan harapan akan ada suatu komunikasi yang terjalin hingga akhirnya bisa disesuaikan baik-baik. Itu intinya.

Kejadian pertama setelah peristiwa itu (kejadian 2003), mereka (God Bless) main di sebuah acara di (panggung majalah) Rolling Stone (di Jakarta), ada acara pemberian anugerah. Mereka main di depan saya, juga tanpa ada suatu pernyataan bahwa apalah atau ada upaya menjalin komunikasi untuk lebih baik. Bahkan, saya yang harus menghampiri mereka dengan upaya marilah kita berkomunikasi dengan baik-baik agar usaha saya menginventarisasi lagu-lagu saya bisa dilakukan baik-baik.

Lagu saya kan banyak, saya tidak menyebutkan lagu A atau lagu B. Itu yang pengin saya benahi di God Bless. Lagu itu bukannya enggak jelas, semua jelas di God Bless, pencipta siapa, lirikus siapa, itu jelas. Hanya, semua hukum belum tertata zaman dulu, tetapi sekarang sudah tertata dengan baik.

Lalu bagaimana respons God Bless menanggapi usaha Anda itu?

Upaya persuasif secara pertemanan dan persaudaraan itu sudah saya lakukan, tetapi juga tidak mendapatkan respons dengan baik. Bahkan, di salah satu media pernah saya baca, Yockie keluar dari God Bless, itu jawabannya (God Bless) selalu menyakitkan hati saya. Antara lain, kalau boleh saya katakan, ‘Ya, sudah enggak butuh Yockie saja’ atau ada juga yang mengatakan, ‘Sama Yockie sudah enggak cocok, Yockie warnanya berubah, bukan warna God Bless lagi.’ Buat saya ini menyakiti hati saya karena bukan itu permasalahannya. Namun, saya diam saja. Saya tidak menuntut karena saya juga enggak mau ribut-ribut. Sampai beberapa kali saya singgung ke teman-teman, tetapi enggak ada tanggapan juga.

Sampai pada akhirnya mereka main di acara legenda kemarin (Let’s Have Fun with the Legends di Jakarta, 16 Oktober 2011), istri saya mengatakan, ‘Mereka itu gimana sih, kok enggak minta izin juga?’ Dari situ akhirnya saya tulis di Facebook saya, ‘Gimana sih orang-orang itu’. Padahal, ini sudah delapan tahun (dari 2003). Saya selalu mengajak mereka bicara baik-baik. Saya undang mereka ke acara konser saya, dengan harapan ketika mereka datang, kami bisa berbicara baik-baik. Tapi, mereka juga tidak datang. Yang datang hanya Donny Fattah Gagola.

Donny pun juga tidak bisa bilang apa-apa. Ia hanya bilang, ‘Yock, sebenarnya banyak yang bisa kita obrolin, tapi gue enggak ngerti harus ngomong apa.’ Jadi, Donny memang tahu banyak yang harus diobrolin, tetapi dia tidak bisa memutuskan apa-apa karena kan (God Bless) kolektif.

Saya sempat menanyakan ke Donny, ‘Mana Iyek (Achmad Albar)?’ Donny bilang, ‘Iyek macannya lagi sakit. Dia kan melihara macan.’ Terus, saya tanya lagi, ‘Ian ke mana?’ ‘Ian lagi rekaman,’ jawab Donny. Ya sudah, saya iya-iyain saja, meski saya kecewa. Sama sekali saya tidak menanggapi kalimat arbitratif yang menyakiti saya.

Apakah Anda merasa God Bless kurang memahami masalah undang-undang hak cipta?

Selalu saja ada obrolan yang saya dengar, ‘Lho lagu itu kan di grup. Kalau lagu sudah di grup, ya milik sama-sama dong!’ Nah, dari situ saya merasa ada missleading, ada yang salah mengerti mengenai aturan main, ada yang kurang mengerti masalah hukum.

Jangan dipikir sekarang ini tahun 1970-an. Ini 2011 nih, bukan zaman-zaman itu. Oh, ternyata mereka enggak tahu aturannya. Kalau mereka enggak tahu aturannya, jangan berbuat seenaknya dong. Ini yang membuat saya harus bergerak supaya mereka taat aturan, supaya mereka melek hukum.

Terlebih lagi, hari ini (20/10/2011), saya baca di media, yang merespons balik itu Ian Antono. Dia mengatakan persis seperti yang teman saya katakan di akun Facebook saya. Dia mengatakan bahwa, ‘Tidak ada larangan dalam sebuah grup menyanyikan lagu orang lain kecuali untuk rekaman.’

Nah, ini mereka enggak mengerti ya. Performing rights pun dilindungi. Ada undang-undangnya. Sejauh itu ada transaksi ekonomi, itu pasti dilindungi oleh hukum. Kecuali mereka mau main di acara sosial, bakti sosial, bencana alam, yang tidak ada uangnya, itu sah-sah saja. Tapi, kalau sudah masuk ke wilayah komersial, itu sama saja wilayah hukum, tidak bisa seenaknya. Artinya, Ian Antono sendiri tidak melek hukum.

Oleh karena itu, saya pikir, saya tidak bisa lagi sendiri. Ini wilayah hukum yang berbicara, ya kan? Saya, melalui biro hukum saya, meminta berbicara ke mereka, ini lho aturannya, agar jangan seenaknya menyanyikan lagu orang karena performing rights pun ada aturannya, dilindungi. Selama itu berhubungan dengan komersial, harus dilindungi.

Jadi, kalau pertanyaannya kenapa baru sekarang (diungkap), itu karena saya selama ini berusaha meredam. Mereka mau ngomong bahwa saya inilah, itulah, itu saya enggak mau tanggapi. Cuma, saya mendapat informasi bahwa ucapan mereka itu sudah kelewatan. Kesabaran saya bukannya habis, tapi sudah cukuplah waktunya.

Mereka mengklaim sudah beberapa kali berusaha meminta izin kepada Anda, tetapi sulit. Apakah benar seperti itu?

Tidak! Saya bantah itu. Saya bantah itu dengan tegas! Tidak ada pernah satu pun, entah itu Donny Fattah, Achmad Albar, Ian Antono, secara langsung meminta izin untuk merekam lagu “Kehidupan” atau “Menjilat Matahari” atau apapun itu untuk direkam. Tidak pernah sama sekali.

Apa ada upaya untuk saling berangkulan kembali?

Memang pernah, pada awal 2004, Ian Antono mengadakan pertemuan dengan saya, baik pertemuan secara langsung maupun telepon, sekali-dua kali untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan mengadakan reunian, bukan membicarakan masalah rekaman. Ibaratnya, Ian berusaha menjadi penengah. Ibarat kasarnya, ‘Sudahlah, kita kan sudah tua-tua. Sudahlah, kita baikan lagi.’

Saya pun menyambut iktikad baik dia. Saya pun punya iktikad serupa. Apalagi, yang mengajak dia ke God Bless itu kan saya. Dalam hati saya, ‘Sudahlah enggak usah mikir tua karena kita ini sudah pada tua.’ Tapi, saya katakan kepada Ian, ‘Apakah kamu bisa jamin yang bersangkutan sudah sembuh (dari narkoba)?’

Baca Juga :  Sumur Warga Huristak Keluarkan Minyak

Sejak Keluar, Tak Ada Sepeser Pun dari God Bless

Benar atau tidak, Anda jadi paling dominan dalam God Bless karena karya Anda? Tapi, ternyata, selama ini saya hanya dianggap pelengkap saja. Kalau mau mencari pelengkap, ya silakan cari orang lain, jangan cari saya. Bahasa apa pun mau dipakai, boleh-boleh saja. Tapi, intinya, dalam menyikapi bahasa mereka, ada kecurigaan mereka bahwa, “Saya ini ingin berkuasa, saya ingin mengatur God Bless, saya ini ingin otoritas lebih mengatur semuanya.”

Kalau kita bicara kerja kolektif itu, tidak ada istilah motor segala macam atau dominan. Ini dengan sendirinya akan eksis. Tapi, kalau suatu saat kemudian ada yang lebih dominan dalam hal kreativitas, dalam suatu ide, lalu kemudian dia menjadi inspirasi, itu automatically semua orang akan melihat.

Kemudian, kalau saya mencurahkan segala inspirasi saya di God Bless, itu bukan karena ingin dominan, tapi karena saya ingin berkarya. Kalau kemudian ada lagu “Kehidupan”, ada lagu “Menjilat Matahari”, yang kemudian diapresiasi banyak orang, itu bukan karena saya dominan, itu hanya karena kebebasan saya berekspresi. Tapi, kalau ini dianggap oleh dia mengganggu, kan justru celaka. Walah, ini kan repot. Apalagi kalau saya disuruh main organ (keyboard) saja, terus dia tidak usah ngomong (nyanyi), saya tinggal dikasih part-part saja untuk main begini, “Mending lo cari pemain lain saja.”

Saya hanya ingin membedakan, mereka harus paham apa yang disebut pergaulan kreatif dan pergaulan non kreatif. Kalau pergaulan non kreatif itu seperti saya dengan Anda, bersahabat ya ngguyu, itulah yang disebut pergaulan non kreatif. Ada logika-logika lain lagi di pergaulan kreatif. Kalau ada yang lebih kreatif, “Ya lo enggak bisa menghalangi kreativitas gue dong.” Tapi, kalau kreativitas saya ingin diperbaiki, ya hayu dibicarakan. Itu kan artinya dialektika kreativitas. Akhirnya, permasalahan pribadi dibawa ke kreativitas. Ini kan konyol.

Maaf ya, saya bukan mau melecehkan. Tapi, jelas saya mau mengatakan, mbok jangan goblok lah. Ini sudah 2011, bukan zaman dulu, yang bisa berdasarkan paternal feodalistic, hanya berdasar enggak enak lho, karena di lebih tua.

Sekarang enggak bisa gitu. Kalau salah, ya salah. Meskipun saya lebih tua, kalau saya salah, ya salah. Saya harus bisa menerima realita itu. Jangan mentang-mentang saya tua, tapi Anda lebih muda. Mengajar orang tua kan enggak begitu.

Kalau larangan dari Anda untuk membawakan lagu ciptaan Anda sebelum meminta izin dari Anda ditabrak dengan alasan permintaan penyelenggara konser, seperti apa tanggapan anda?

Itu kan lucu. Logika itu dibangun dari mana? Mereka berpikir seperti itu, logikanya seperti apa? Artinya, logika itu bisa dibenarkan seperti, “Lho saya enggak mau menyanyikan lagu itu, tapi saya terpaksa karena panitia yang memintanya.” Ini akan dijadikan alasan pembenaran. Ini logikanya dari mana? Ini kan hanya anak kecil yang berbicara seperti itu. Sama halnya seperti, “Kenapa kamu nakal? Ya, sebenarnya saya enggak nakal, hanya saja diajakin tetangga, jadi saya nakal.” Masak mau nyalahin tetangga sih? Ya enggak bisa dong. Ini tanggung jawab sendiri. Kalau mereka diminta main, kemudian pakai alasan diminta panitia, ya enggak bisa dong. Itu ya tanggung jawab mereka dong.

Apakah Anda sudah mulai membuat inventarisasi lagu-lagu ciptaan Anda?

Sudah, saya sudah menginventarisasi lagu-lagu saya. Tidak hanya sewaktu di God Bless saja, di (perusahaan rekaman) Musica (Studios) pun saya melakukannya, supaya lagu-lagu saya tertata dengan baik. Begitu pula lagu “Kesaksian” di Kantata. Sewaktu Hanung Bramantyo memakai lagu Kantata di film, saya langsung tegur dia, “Kenapa kamu enggak minta izin!” Gara-gara ini ada sedikit kesalahpahaman di Kantata. Padahal, semua bermuara di Hanung. Sebagai produser semestinya dia tahu etika, di lagu itu ada saya, ada Iwan Fals, ada Sawung Jabo. Tapi, kenapa Hanung minta izin ke Setiawan Djody. Ini masalah hak cipta, tapi dia keukeuh seperti itu, ini yang membuat saya kesal juga ke Hanung.

Masalah seperti ini kan harus kita hadapi. Bukan untuk tarik urat leher, tapi untuk diselesaikan baik-baik, gitu lho. Tapi, kalau enggak bisa secara baik-baik, ya harus secara hukum.

Apakah selama ini Anda mencicipi royalti lagu ciptaan Anda dari rekaman dan panggung God Bless?

Enggak ada, sepeser pun juga enggak ada. Kalau bicara God Bless, dari 2003 sampai hari ini saya tidak menerima sepeser pun. Cuma, bukan itu tujuan saya. Saya hidup di musik dari tahun 1970, bukan itu tujuan saya. Tapi, kalau dari musik saya bisa hidup, ya alhamdulillah.

Saya main musik bukan untuk hidup kok. Saya enggak butuh duit dari kalian. Cuma, kalau musik saya bisa kalian hargai sehingga orang bisa menghargai karya saya, dan orang membeli karya saya sehingga itu menjadi input materi buat saya, ya alhamdulillah.

Saya tidak mencari duit apalagi mencari popularitas. Paling tidak, apa yang saya lakukan itu yang kalian kaji. Menghargai lah, cukup menghargai saja.

Kalau ada alasan agak repot menentukan pencipta lagu dalam God Bless, apa pendapat Anda?

Enggak bisa seperti itu, karena di God Bless semenjak 1988, di saat rekaman “Semut Hitam” itu, pendataan itu jelas, siapa yang mencipta itu jelas. Artinya, paradigma di God Bless berbeda dengan paradigma sewaktu saya di Kantata Takwa membikin lagu.

Kalau di Kantata, saat saya membikin lagu “Kesaksian” atau lagu apa pun juga, saya workshop dengan Iwan Fals dan Sawung Jabo. Bertiga saya workshop di studio. Saya biarkan Mas Iwan bernyanyi, Jabo juga main sendiri, saya main sendiri, terus saya rekam. Pelan-pelan notasi spontanitas itu saya bangun, saya simpan dalam laptop sebagai raw material, bukan lagu. Kemudian, setelah selesai, saya bawa ke studio sendirian. Kemudian, raw material itu, ada ekspresi saya, Iwan, dan Jabo, saya rancang menjadi notasi yang terukur, menjadi refrain dan lagu. Setelah jadi refrain dan lagu, saya bikin aransemen musik dasar. Setelah selesai itu, saya telepon Rendra (almarhum WS Rendra). Saya minta lirik buat lagu “Kesaksian”. Itulah prosesnya. Jadi, proses sebuah lagu dalam Kantata semua bareng-bareng. Jadi, di lagu “Kesaksian” itu enggak bisa dibilang lagu Yockie sendiri atau lagu Iwan sendiri, tapi itu lagu Yockie, Iwan, Jabo, dan Rendra selaku penulis lirik.

Tapi, kalau di God Bless, tidak seperti itu. Di God Bless, selama rekaman, kami bergaul lebih intens hanya saat mau rekaman dan mau main. Di luar kegiatan itu kami tidak berhubungan. Artinya, di luar itu kami punya wilayah pergaulan berbeda. Jadi, kalau bicara rekaman, katakanlah kami akan rekaman tanggal 10, jauh-jauh hari sebelum tanggal 10 itu saya bikin lagu sendiri di rumah, kemudian masuk studio. Oke, setelah di studio mau lagu siapa duluan direkam, misalnya lagu Yockie duluan, setelah itu baru saya duduk di piano dan saya rekam lagu saya, lalu saya kasih guide untuk Donny (Donny Fattah Gagola) main bas, lalu untuk Ian (Ian Antono) main gitar, dan untuk Teddy Sudjaya main drum. Mereka lah yang merespon lagu saya. Jadi, prosesnya jelas, siapa komposer, siapa arranger, karena yang lain menyesuaikan, sesuai apa yang saya inginkan. Tapi, kalau kemudian mau nyoba yang lain sih terserah, asal jangan keluar dari pattern yang saya ciptakan atau pattern yang Ian dan Donny ciptakan.

Kalau kemudian ada lagu “Rumah Kita”, yang Ian ciptakan, itu dia bikin sendiri, saya enggak ikut-ikutan. Dia main sendiri dengan gitar, saya dan yang lainnya menyesuaikan isi piano, isi bas, isi drum.

Jadi, di God Bless itu, enggak bisa diklaim itu lagu sama-sama. Tidak bisa seperti itu lah, karena memang tidak pernah bikin lagu sama-sama. Kalau pun ada, itu berdua. Seperti saya sama Donny di lagu “Semut Hitam”, yang bermula dari gagasan Donny, terus saya yang bikin liriknya. Jadi, jelas itu bikinan Donny Fattah dan Yockie. Nah, kalau “Kehidupan” dan “Menjilat Matahari”, itu bikinan saya. Apalagi, lagu “Raksasa”.

Baca Juga :  Polisi Vs KPK - Presiden akan Ambil Alih Kisruh KPK-Polri

Kalau dibilang repot menentukan siapa penciptanya, mungkin itu kasus Ian sendiri di God Bless sekarang ini, bukan kasus saya. Bisa saja itu kasus God Bless selama ini, yang sudah tanpa saya. Ini bukan terjadi di kasus saya.

Kalau sudah begini, apakah Anda dan God Bless bisa duduk bareng atau malah terpaksa melangkah ke wilayah hukum?

Seperti yang saya tulis di Facebook saya, saya ini motivasinya bukan untuk mempermalukan mereka atau bukan juga untuk memperebutkan masalah ekonomi royalti, bukan itu juga. Saya ini hanya ingin menegakkan etika, karena setelah bergaul di musik, saya juga bergaul di budayawan. Saya banyak belajar mengenai etika, bagaimana etika kita morat-marit. Ketika saya kembali ke dunia musik, ternyata etika kita ini sudah mulai kacau. Bukan mengenai mempermalukan orang atau mencari popularitas, tapi ini masalah etika.

Sudah sulit bagi saya untuk memakai cara-cara yang biasa, tapi ternyata mereka tidak paham, mereka tidak taat hukum. Kalau sudah tidak taat hukum, ya pantas saja mereka di mata saya sudah tidak tahu etika.

Jadi, God Bless masih bisa membawakan lagu ciptaan Anda?

Ya, itu dia etika. Ketika mereka sudah menyadari kekeliruan mereka, “Ternyata kita naif, ternyata kita enggak sadar akan kesalahan, enggak sadar hukum,” masa saya mau menuntut ganti rugi masalah kenaifan itu? Ya enggak lah. Cuma, seterusnya, ya minta izin lah, karena ada aturannya, ada transaksi komersial itu ada yang melindungi dengan undang-undang. Kalau mereka memahami itu, ya silakan saja. Saya pun tidak ada masalah.

Tapi, kan selama ini saya tersiksa itu karena mereka tidak punya etika, melecehkan gue, membicarakan gue seenaknya, mencari duit pakai karya gue. Itu kan kesalnya di situ.

Dan di Situlah Dia Mengambil Beceng

Bagaimana dengan pengakuan Anda bahwa Anda ditodong senjata genggam pada 2003, sebelum akhirnya Anda meninggalkan God Bless pada tahun yang sama?

Ada sesuatu yang ditutup-tutupi, ada sesuatu yang tidak ingin muncul di permukaan, kok. Dalam bahasa-bahasa masyarakat saat ini, istilahnya, ada kebohongan publik, yang tidak mau ketahuan. Padahal, buka saja semuanya.

Saya pun tidak malu ketika orang tahu saya berkelakuan (mengonsumsi) narkoba tahun 1970-an. Ketika orang tahu saya mencuri cincin (almarhum) Harry Roesli untuk beli narkoba, saya enggak malu. Itu bagian dari masa lalu. Jadi, jangan ditutup-tutupi.

Semua bilang, Yockie keras kepala, Yockie enggak bisa diatur. Semua alasan dicari untuk memojokkan saya. Padahal, semua orang tahu kalau sebenarnya ada yang ditutupi. Padahal, kasusnya narkoba. Tapi, semua orang membela, ditutupi dengan bilang, “Dia merokok saja tidak.” Tapi, begitu ketahuan, dia ditangkap polisi (27 November 2007 di Jakarta), baru deh semuanya diam.

Saya sama sekali tidak menegur dia soal memakai narkoba. Saya sendiri tahu dia memakai narkoba dari (gitaris God Bless) Ian Antono. Karena, seperti yang saya katakan, saya tidak bergaul dengan mereka di luar studio, saya hanya datang pergi saja.

Jadi, ceritanya, ketika rekaman pada 2003 itu sudah mau selesai, ketika sudah 75 persen, yang namanya penyanyi ini tidak pernah datang ke studio. Akhirnya, yang resah ini tidak hanya saya sendirian, tapi semua resah. Saya resah karena studio ini milik saya, cost itu besar, karena ini studio analog.

Bayangin saja, Ian Antono jauh-jauh dari Cibubur ke BSD (Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten), hanya nongkrong seharian saja sama saya di studio. Kami berdua ya kesal. Ian marah-marah.

Akhirnya, dia meminta saya ngomong. Dia bilang, “Yock lo omongin deh si Iyek (Achmad Albar, vokalis God Bless).” Terus, saya bilang, “Ya sudah deh, kita rapatin.”

Tapi, sebelum itu, pertanyaan Ian saya balikin ke dia. Saya bilang “Kenapa enggak lo aja yang ngomongin dia? Bukannya lo yang dekat sama dia?” Terus, Ian jawab, “Gue capek ngomong sama Achmad Albar, Yock. Karena itu Gong 2000 saya bubarin, karena saya sudah enggak bisa lagi ngomongin dia.”

Jadi, itu alasan Ian Antono buat saya ngomong. “Jadi, oke kalau itu alasannya, oke nanti saya yang ngomongin. Nanti, kalau Iyek datang, kita enggak usah rekaman, tapi kita rapat aja dulu deh.”

Selang enggak berapa lama, Iyek akhirnya datang. Terus saya bilang, kita enggak usah rekaman, tapi kita meeting dulu waktu itu. Terus, dari situ duduklah Titiek (Titiek Saelan), istri Ian Antono. Terus, ada juga istri saya (Tiwi Puspitasari). Terus, ada Achmad Albar. Yang dibicarakan itu masalah apa? Bukan masalah narkoba, tapi masalah waktu, masalah skedul.

Terus, saya heran, kenapa malah saya yang dipukulin sama Achmad Albar, bukannya Ian Antono. Saya enggak ngerti, apa dia ngerasa terpojok karena ngerasa “parno” (paranoid).

Kalau orang ngebo’at (mengonsumsi obat-obatan) atau nyimeng (mengisap ganja) itu saya tahu tandanya. Tapi, kalau orang nyabu (mengonsumsi sabu), saya enggak tahu. Yang saya tahu, ini orang pakai kacamata hitam malam-malam, terus tidur lebih dari 12 jam (sehari), ada ribut-ribut juga enggak dengar apa-apa. Saya bilang, ini orang kenapa sih? Terus, saya tahunya dari Ian Antono. Saya tahu masalah sabu-sabu itu bukan dari mana-mana.

Tapi, yang saya ributkan waktu itu bukan masalah narkoba, tapi masalah jadwal rekaman. Saya enggak tahu masalah dia pakaw (mengonsumsi sabu).

Dia memukul saya sekali, dua kali. Saya enggak tinggal diam. Saya berusaha mempertahankan diri saya. Terus, saya sama Ian dilerai, terus saya dorong, dan di situ lah dia (Iyek) mengambil beceng (pistol) dari dalam tas, saat itu juga. Terus, yang namanya istri Ian dan istri saya mendekap saya, supaya enggak di-“dor” kena saya. Terus, saya ditarik pulang ke rumah saya, yang jaraknya hanya 500 meter dari studio saya.

Di situ, saya diamankan oleh istri Ian Antono sambil istri saya mengarahkan semua satpam di wilayah situ agar jangan sampai semua tetangga bangun. Sebab, kalau tetangga bangun, nanti saya bisa dituntut ada kejahatan narkoba dan mungkin yang lain-lain.

Kalau senjata itu diduga sebagai senjata mainan, apa komentar Anda?

Hahaha… itu kan upaya-upaya untuk menghindar. Kenapa baru dikatakan sekarang, itu kan alasan anak kecil. Saya enggak mau nanggapi lah.

Setelah kejadian itu, apakah Anda putus silaturahim dengan Iyek?

Jangan salah, saya tidak pernah bersikap bermusuhan dengan Iyek. Ketika Addie MS membikin konser Classic Chrisye (Classic Chrisye: a Night to Remember, 12 Oktober 2009 di Jakarta), ada technical meeting pada saat itu. Di situ saya hadir dan Achmad Albar juga hadir. Dia tidak menegur saya, melihat saya juga tidak. Akhirnya, setelah berapa lama saya tepuk dia, saya bilang, “Apa kabar.” Terus, dia bilang apa kabar juga. Memang, saya tidak berniat berbicara panjang lebar. Tapi, paling tidak saya menunjukkan, saya tidak sekerdil itu.

Sama Ian Antono pun saya begitu. Saya enggak mau silaturahim terputus, karena kalau silaturahim terputus itu dosa. Tapi, kalau masalah kerjaan di God Bless, silakan jalan sendiri saja, karena saya punya jalan sendiri.

sumber: Kompas.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. emang sih yockie piawai bikin komposisi, khan udah terbukti lewat godbless, chrisye, dsb. god bless juga sekumpulan personil piawai. gue suka dengan album-albumnya. cobalah bertemu kembali, begitu luas fans kalian. jan-albar gagal bikin gong 2000, albar mmproduksi album solo yang secara musikal jelek. juga donny. jadi emang god bless lah tempat prestasi maksimal. oke, berkumpul lagi …

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*