Konflik Lahan 300 Hektare – Ratusan Warga Blokir Jalan Perkebunan

Sebagian warga Desa Aek Tinga, Kecamatan Sosa, Kabupaten Palas yang melakukan aksi pemblokiran jalan perkebunan kelapa sawit milik PT VAL, Kamis (30/10). (Parningotan Aritonang / Metro Tabagsel)

PALAS – Ratusan warga Desa Aek Tinga Kecamatan Sosa Kabupaten Palas melakukan aksi blokir jalan ke perkebunan kelapa sawit PT Victoria Alam Lestari (PT VAL), Kamis (30/10). Aksi ini dipicu konflik lahan seluas 300 hektare antara warga dengan perusahaan.

Aksi blokir dilakukan dengan memasang kayu dan papan di pintu masuk ke lahan perkebunan. Massa juga menulis di salah satu papan’Dilarang Masuk ke Lokasi Tanah Adat Aek Tinga Luas 300 ha. Massa mendapat pengawalan dari Satuan Pengamanan (Satpam) perusahaan dan Polsek Sosa.

Koordinator warga Desa Aek Tinga Basirun dalam pernyataan sikapnya menyebutkan, mereka menuntut PT VAL Kebun Aliaga, Kecamatan Hutaraja Tinggi (Huragi) untuk mengembalikan tanah warga desa seluas 300 ha yang telah puluhan tahun dikelola perusahaan.

Disampaikan, sebenarnya masalah ini sudah muncul sejak tahun 1996 dan sudah pernah dimediasi oleh Muspika Sosa saat itu. Hasil pertemuan tersebut dituangkan dalam bentuk berita acara penyelesaian lahan seluas 300 ha. Namun hasil pertemuan tersebut hingga kini belum direalisasikan oleh perusahaan.

“Meski demikian, warga akan berupaya semaksimal mungkin selama aksi berlangsung tetap bertindak sportif dan tidak melakukan tindakan anarkis dan perusakan yang mengarah pada tindakan pelanggaran hukum, kita hanya menuntut apa yang seharusnya hak kita,” ujarnya.

Ketua BPD Desa Aek Tinga Ali Usman didampingi Alim Ulama Desa Syawaluddin Hasibuan juga mengatakan, dalam menjalankan fungsi menampung aspirasi warga desa dan berupaya agar persoalan masyarakat ini dapat segera diselesaikan, pihaknya terus berupaya hingga tuntutan bisa dipenuhi.

“Kita bertekad akan terus bertahan di lokasi konflik sampai tanah warga dikembalikan oleh perusahaan, hingga aksi berlangsung sampai hari ini, perusahaan belum memberikan tawaran solusi penyelesaian masalah, sehingga kita meningkatkan aksi dengan menanam pohon karet di sela-sela tanaman pohon kelapa sawit milik perusahaan, dan kegiatan penanaman akan setiap hari terus dilakukan,” ucapnya.

Baca Juga :  Gedung RSUD Dibangun Lebih Modern

Pada dasarnya kata Ali Usman, warga tidak mengganggu budidaya kelapa sawit milik perusahaan, dan warga juga berharap tanaman karetnya tidak diganggu perusahaan. “Sementara sejauh ini soal HGU perusahaan, kita tidak mengetahui soal itu,” terangnya.

Hatobangon Desa Aek Tinga Abdul Rahim Hasibuan juga menceritakan sejarah tanah desa, tanah tersebut sudah diusahai oleh warga desa secara turun temurun sejak kakek neneknya, puluhan tahun silam.

“Nenek saya sudah melakukan penanaman karet di tanah ini dan sebagian tanaman karet tersebut sudah diremajakan oleh warga, kita tidak mengetahui soal ijin perusahaan, hingga PT VAL melakukan aktifitas perusahaan perkebunannya di atas tanah warga sejak tahun 1996,” ungkapnya.

Pria kelahiran Desa Aek Tinga pada tahun 1952 ini lebih jauh mengatakan, sangat mengetahui sekali awal mula PT VAL datang dan mengolah tanah masyarakat desa di tahun 1996 silam. Dan tokoh adat yang bergelar Mangaraja Imbang Hasibuan ini masih ingat bahwa perusahaan pernah berjanji akan membangun kebun plasma kepada masyarakat enam desa, diantaranya Desa Aek Tinga, Desa Lubuk Bunut dan Desa Aliaga.

“Kebun plasma milik warga Desa Lubuk Bunut dan Desa Aliaga sudah dibangun oleh perusahaan, lantas kapan akan dibangun kebun plasma untuk masyarakat Desa Aek Tinga,” tuntutnya.

Dalam hal ini pihaknya hanya berharap kepada Pemkab Palas agar dapat membantu penyelesaian masalah ini, mengingat sampai saat ini perusahaan belum berkoordinasi dengan pemerintahan desa soal penyelesaian sengketa tanah ini.

Baca Juga :  Polresta Sidimpuan Bekuk Bandar Togel

“Apapun bentuk penyelesaiannya warga tetap berharap tanah mereka dapat dikembalikan,” ucapnya.

Sementara itu Kapolres Tapsel Drs Parluatan Siregar melalui Kapolsek Sosa AKP Heri Syofyan SH telah menugaskan dua orang personilnya, masing-masing Brigadir Rodeami Saragih dan Briptu Sarwo Edi Hasibuan untuk melakukan pengawasan dan pemantauan agar di lahan konflik tersebut tidak terjadi tindak kriminal, seperti pencurian buah sawit milik perusahaan oleh masyarakat.

“Pihak kepolisian berharap agar jangan sampai ada keributan di lahan konflik apalagi sampai mengarah kepada perbuatan melanggar hukum, diharapkan masing-masing pihak dapat menjaga dan menahan diri agar kondisi di lahan konflik tetap kondusif bagi kedua belah pihak,” kata kapolsek. Selain itu Satpam Afdeling III PT VAL juga tampak menjaga lokasi konflik dengan masyarakat yang berada di Afdeling III blok 207 dan blok 209 itu. (tan)

/METROSIANTAR.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*