Konflik Tambang Martabe, Banyak Warga 3 Kecamatan Takut dan Lari Ke Hutan

Korban konflik Tambang Martabe di Batang Toru saat konferensi pers bersama aktivis HAM Ratna Sarumpaet (Foto : Nurul Ainiyah/seruu.com)

Jakarta, Seruu.com- Keberadaan PT Agincourt Resource yang melakukan penambangan biji emas di wilayah kecamatan Batang Toru (Tambang Martabe) sejak 15 tahun lalu, saat ini menuai protes keras dari elemen masyarakat yang berasal dari tiga kecamatan. Tiga kecamatan di Tapanuli Selatan yaitu, kecamatan Batang Toru, kecamatan Muara Batang Toru, kecamatan Angkola Sang Kunur dan desa Batumundam kecamatan Singkuang kabupaten Mandaling Natal.

Hal ini diungkapkan Jubir warga Batang Toru, Bangun Siregar dalam konfrensi pers di markas Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat, Rabu (7/11/2012).

Menurutnya, selama ini, penyelesaian konflik yang dilakukan aparat keamanan dilokasi tidak adil karena lebih memihak kepada perusahaan dan cendrung agresif menangkapi warga. Padahal, warga kerap menjadi korban penyerangan perusahaan.

“Kami tegaskan bahwa pemasangan pipa pembuangan air limbah operasional tambang ke Sungai Batang Toru adalah tindakan kriminal yang sangat mencederai rasa kemanusian. Saat ini banyak warga yang lari kehutan, gerilya dan bersembunyi dikarenakan takut ditangkap dan disiksa polisi, ” bebernya.

Menangapi hal itu, Aktivis Bendera, Roy Simanjuntak berjanji akan mendampingi warga Batang Turo. “Kami ultimatumkan kepada pemerintah daerah dan pusat untuk menyelesaikan semuanya sekarang juga, atau jangan sesalkan rakyat memilih untuk melawan, ” tegasnya.

Baca Juga :  Mantan Bupati Palas Terancam 'Gol'

Diketahui sebelumnya,, Pada awal Oktober lalu, Agincourt Resources menghentikan operasional perusahaan sementara karena pemasangan pipa tak bisa dilaksanakan. Namun saat ini dengan kawalan polisi, pemasangan itu kembali dilakukan, dengan alasan tenggat operasional di awal tahun 2013. [simon salakory]

Sumber: mobile.seruu.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Kenapa stlh huru-hara baru sibuk ke Jakarta? Karena sblm huru-hara rakyat di Muara Bt Toru masih mimpi bisa berharap sama pemimpin dan sesama rakyat di Tapsel. Nyatanya sesudah huru-hara baru rakyat di Muara Bt Toru sadar rupanya nihil sesama bahkan pemimpin di Tapsel yg punya kepedulian sosial, maklum aja individualisme egoistis kampungan ala Tapsel –mate ma ho disi– kan lbh tinggi katimbang –siape elu siape gue– ala Jakarta yg ternyata masih ada sedikit manusia yg punya kepedulian pada sesama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*