Konflik Tanah di Muara Opu – Tapsel : Pasaribu Rebutan Sama Pasaribu

159125550d4997a99ecffc2205bebea6d8e71249 Konflik Tanah di Muara Opu – Tapsel : Pasaribu Rebutan Sama Pasaribu
Ibrahim Pasaribu bersama adiknya Bupati Syahrul Pasaribu, “kemaruk rebutan”.

Muara Batang Toru, Terbitnya Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 44 Tahun 2005 yang melepaskan ribuan Ha kawasan hutan di Muara Batang Toru menjadi berstatus Areal Penggunaan Lain (APL), telah membuat masalah berkepanjangan. Bebarapa perusahaan konglomerat berusaha masuk mencaplok tanah untuk bangun perkebunan sawit, antara lain PTPN-3. Bupati Tapsel yang sesuai amanah jabatan seharusnya mengayomi rakyat, prakteknyanya malah tampilkan diri jadi antek konglomerat. Obyek saudara kandung pun direbut, asalkan induk-semangnya PTPN-3 puas.

Ihkwalnya bermula ketika Kepala Desa Muara Opu, Menek Harahap bersama camat Muara Bt Toru, Ibrahim Lubis memberi surat keterangan No. 141/SK/MU/V/2011 bahwa Kelompok Tani “Maju Bersama” telah mengolah dan menguasai sebidang tanah luas 150 Ha di lokasi Sihitom-hitom Menek yang berbatas Utara dengan perkebunan Pt. Samukti Karya Lestari (SKL), Selatan dengan kawasan Hutan Produksi terbatas (HPT), Timur dengan kawasan konservasi Gua Tonga dalam areal Pt. SKL, Barat dengan areal Transmigrasi Sawangan-Muara Opu.

Belakangan Ibrahim Pasaribu alias Toreng yang dikenal sebagai abang-kandung Bupati Tapsel, Syahrul M. Pasaribu, datang  janji mampu membantu kelompok tani lantas mengambil-alih urusan tanah kelompok tani Maju Bersama. Ibrahim Pasaribu als Toreng lalu ajukan Surat Permohonan Status Lahan tgl. 6 Oktober 2011 ke Dinas Kehutanan Kabupaten (Dishutkab) Tapsel.

Karena yang bermohon abang-kandung Bupati Tapsel, Kadishut Sahgiman Suregar terbirit-birit jadi tenaga kerja sukarela, menerbitkan Surat Status Lahan No. 522/1987/tgl. 19 Oktober 2011. Menegaskan bahwa hasil peninjauan serta hasil overlay terhadap peta SK 44/2005, tanah kelompok tani Maju Bersama berada di luar kawasan hutan als APL, dengan tembusan surat ke Bupati Tapsel, Kadishutprop Sumut dan Kakan BPN Tapsel.

Menjelang Tahun Baru 2012, mungkin buat kejar duit menyambut Happy New Year, Ibrahim Pasaribu pada tgl. 1 Oktober 2011 ajukan Surat Permohonan Persetujuan Kayu Rakyat. Lagi-lagi Kadishut Sahgiman Siregar konon tanpa sepeser duitpun terbitkan Surat Persetujuan Penebangan Kayu Rakyat No. 522/2301/tgl. 6 Desember a/n Ibrahim Pasaribu seluas 5 Ha di atas tanah kelompok tani Maju Bersama. Isuenya, Surat persetujuam Kadishut tsb dijual Ibrahim Pasaribu ke Boru Manalu, pedagang kayu di Batang Toru.

Mundur teratur

Belakangan, PTPN-3 Kebun Bt Toru yang dipimpin Manager Edy Giri dan Askep Tampubolon ambisi menghalalkan segala cara memperluas areal kebun PTPN-3, dituding kelompok tani telah memperalat bahkan menunggangi Bupati Tapsel agar bisa mencaplok tanah kelompok tani Maju Bersama. Berdalih PTN-3 sudah buat kerjasama (MOU) dengan warga Transmgrasi Sawangan-Muara Opu, Bupati Tapsel Syahrul Pasaribu coba rebut paksa tanah kelompok tani Maju Bersama. Abang-kandungnya Ibrahim Pasaribu yag melihat adik-kandungnya anggar kekuasaan bawa barisan anteknya para pejabat Pemkab, akhirnya mundur teratur lintang-pukang meninggalkan kelompok tani Maju Bersama.

Kemudian, Bupati Syahrul Pasaribu yang konon didukung PTPN-3 coba putar-balik fakta kebenaran untuk mencaplok tanah kelompok tani. Bupati Syahrul Pasaribu lalu buat Surat Perintah Tugas (SPT) No. 094/721/2012 agar seluruh pejabat Pemkab terkait turun memeriksa dan mengukur ke lokasi sengketa di Sawangan-Muara Opu.

Dari Surat Laporan Peninjauan lapangan Batas Lahan Pt. SKL, Transmigrasi dan kelompok tani yang diteken belasan pejabat Pemkab Tapsel, diketahui lokasi tanah kelompok tani Maju Bersama yang berada pada posisi kordinat (1) Utara: 01.18`34,7”/ Timur 98.53`19,5”, (2) Utara 01.18`38,3” / Timur 98.53`53,9”, (3) Utara 01.18`36,3” / Timur 98.53`19,5”, (4) Utara 01.18`39,2:/ Timur 98.53`53,9”. Yang sebelah Utara berbatas dengan areal Pt. SKL dan sebelah Barat dengan areal transmigrasi sawangan, alias tanah kelompok tani tidak tumpang-tindih dengan areal transmigrasi.

Surat laporan Tim Pemkab beserta Peta lampirannya tentang luas sebenarnya tanah kelomok tani ada 200 Ha yang sudah diteken belasan pejabat pemkab seperti Kabag Pertanahan Pardamean Daulay, Kadisbun Bakhrian Lubis, Kadistrans Syamsul B. Siregar, staf Bappeda Abadi Siregar, Kabid Pengamanan Hutan Dishut Tapsel, Thohir Tua Lubis, staf Dishut Yulhelmy, Ronni Oktorio, staf Disbunkab, Sofyan Lubis, Mahyudin, Prasetio dll malah mau diingkari Bupati Syahrul Pasaribu.

Konon setelah Bupati Syahrul Pasaribu yang dituding kelompok tani sebagai pejabat kemaruk, menyemprot Kadishut Shagiman Siregar dan Camat Ibrahim Lubis karena membeking abang kandungnya Ibrahim Pasaribu dan kelompok tani Maju Bersama, Bupati menugaskan Asisten-2 Saulian Situmorang untuk menekan kelompok tani guna meninggalkan tanahnya serta menyerahkan tanah tsb kepada Pemkab Tapsel c/q Dinas Transmigrasi.

“Ternyata Asisten-2 Pemkab Tapsel, Saulian Situmorang sewaktu berjumpa dan bicara sama kami, bukannya memaparkan aturan dan penegakan hukum, malah Saulian Situmorang seolah ikut jadi antek PTPN-3 tidak mengakui hasil pemeriksaan tim Pemkab. Kami disuruh angkat-kaki dari tanah di Sihitom-hitom Menek, karena pejabat Pemkab mau menguasai sendiri dan konon mau membagi-bagi tanah itu sebelum diserahkan ke PTPN-3 untuk jadi plasma pejabat”, ketus beberapa pengurus kelompok tani.

Lebih jauh kelompok tani menuding, “Asisten-2 saulian Situmorang dan Kadistrans Samsul Bahri Siregar ngoceh tanah kelompok tani masuk ke areal transmigrasi sawangan, tetapi semua pejabat Pemkab Tapsel tsb tidak mampu perlihat peta resmi areal transmigrasi”, kecam pengurus kelompok tani.

Ditunggangi

Belakangan ini, dibuktikan oleh rekaman video pertemuan pimpinan PTPN-3 dengan warga transmigrasi Swakarsa (TSM) di kantor PTPN-3 di Pasar Bt Toru hari Sabtu siang tgl. 10 Maret 2012 lalu, dari ocehan Askep Tampubolon terungkap ambisi PTPN-3 menyerobot tanah kelompok tani berdalih areal transmigrasi Sawangan.

Karena merasa sudah dikhianati abangnya Bupati si Ibrahim Pasaribu yang kabur meninggalkan kelompok tani, dan kini malah mau dicaplok adiknya Bupati Syahrul Pasaribu, kelompok tani akhirnya melawan  melalui penasehat hukumnya kirim surat somasi ke Bupati Tapsel. Dalam surat somasi No. 15/LO/RRA/Iitgl. 29 Februari 2012. Dalam surat tsb kelompok tani melalui kuasa hukumnya, memperingatkan agar menghormati dan melindungi hak-hak perdata rakyat atas tanahnya.

Terakhir, kelompok tani Maju Bersama mengungkap fakta, bahwa areal transmigrasi Sawangan yang dibina Pemkab Tapsel untuk mencaploktanah kelompok tani, dicurigai berstatus perambah hutan negara, yang perlu investigasi dan publikasi tersendiri.

Hingga kini belum diketahui lanjutan kasus rebutan tanah kelompok tani antara Bupati Syahrul dengan abangnya Ibrahim. Konfirmasi ke semua pihak terkait, tak satu becus menjawab.  Baik Bupati Syahrul Pasaribu, Asisten-2 Saulian Situmorang, Kadishutkab Sahgiman Siregar, Manager PTPN-3 Kebun Bt Toru, Edy Giri semuanya membungkam tak mampu menjawab SMS konfirmasi pers yang menuding Bupati beserta Pemkab Tapsel kemaruk dan ambisius caplok tanah rakyat petani. ( AR Morniff HutasuhutALARM)

 

POST ARCHIVE: This content is 6 years old. Please, read this content keeping its age in Mind
google Konflik Tanah di Muara Opu – Tapsel : Pasaribu Rebutan Sama Pasaribufacebook Konflik Tanah di Muara Opu – Tapsel : Pasaribu Rebutan Sama Pasaributwitter Konflik Tanah di Muara Opu – Tapsel : Pasaribu Rebutan Sama Pasaribulinkedin Konflik Tanah di Muara Opu – Tapsel : Pasaribu Rebutan Sama Pasaribuemail Konflik Tanah di Muara Opu – Tapsel : Pasaribu Rebutan Sama Pasaribuprint Konflik Tanah di Muara Opu – Tapsel : Pasaribu Rebutan Sama Pasaribu

6 Comments

  1. harapan saya sbg anak batangtoru yang mana ompungku jasairun hasibuan asli putra kualo di maropu {Muara Oppu ]dan ayahku aladin hasibuan yg mana tempat jualan kami atau balerong masih tegak didepan sekali di pasar batangtoru.pesanku selesaikan lah masalah in secara bersahabat,kedepankanah rasional dan jangan dgn emosional,bukankah kesempatan memimpin itu adalah amanah yg pertanggungan jawabnya akan diperhitungkan kelak..buatlah harta kita itu bercahaya seperti rembulan yang mana setiap orang yg melihat merasa sejuk dan jgn buat harta dan kekuasaan itu seperti cahaya matahari,setiap orangnya melihatnya merasa silau.nabinoto.ancogat haduan kehe hita mulak tu kampung achirat bahat na manaruhon dht mandoahon.saon ma jolo donganda .au IR H .PORMA EVENDHY HASIBUAN tinggal di Palembang malobi hurang 40 thn

  2. Ternyata keluarga Pasaribu ini Keluarga Maling, Rampok, Bajingan Juga ya……………… Ntar lagi adeknya Gus Irawan akan nyusul juga menjadi Raja Rampok Sumut

    • Dari beberapa sinyalemen teman sbg pekerja di lokasi, justru Bupati Sjahrul Pasaribu memilki kebun sawit baru tahap infrastruktur di Muara Opu. Nepotisme Gus Irawan gunakan dana Bank Sumut, jg sudah mulai dikritik anggota DPRDSumut. Contoh, yayasan isterinya “Murni GusIrawan Faoundation” harus diadit.

  3. Ulang marbadai hamu di tanoi, inda adong sameter pe tano ni oppung munu disi. tano ni oppungnami doi sian hutaimbaru.

    • Kasus lain nepotisme kolusi Bupati Sjahrul, Gus Irawan, Ibrahim alias Toreng Pasaribu adalah, ada paket proyek Pemkab penunjukan langsung, dijual kpd kontraktor a/n Gunawan di Psidimpuan. Paket sekitar Rp 1,2 miliar, dijual ke Gunawan Rp300 juta. Penjual adalah ARMAN PASARIBU, Tangan kanan, Korlap investasi pribadi Dirut Bank Sumut Gus Irawan Psrb, teman sehobi off-road di Medan, Ketua baru LIRA Tabagsel. Mohon teman2 profesional investigasi, tambahkan data-data validnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*