Kopi dari Sipirok, Sumber Utama Sejarah Kopi Mandailing

Ditulis oleh: Budi Hatees *)

Saya berdiri di puncak Tor (Bukit) Simuapbujing, mengasoh sebentar.  Ini satu dari tujuh bukit yang berbaris mengurung Kota Sipirok di sebelah barat. Masih ada enam bukit lain. Ketujuh barisan bukit ini diberi nama Pengunungan Aek Bariba.

Dibanding enam bukit lainnya,  Tor Simuapbujing menyimpan cerita yang berkembang sebagai mitos bagi masyarakat yang tinggal di kaki bukit itu. Ada beberapa huta (perkampungan) di kaki-kakinya: Panggulangan, Parau Sorat, Muara Siregar, Sabatolang, Kampung Setia, Batuolang, Sialagundi, dan Garoga.

Konon, dikisahkan tujuh gadis (bujing) berangkat mencari daun pisang ke Tor Simuapbujing. Jika ada pekerjaan di kampong yang melibatkan seluruh warga, para pemuda dan pumudi selalu punya bagian. Dalam tatanan adat-istiadat masyarakat Batak beradat Angkola, muda-mudi memiliki kedudukan sebagai kelompok pekerja.

Pemuda bertugas mengumpulkan rebung atau nangka untuk sayur-mayur dalam pesta, sedang para gadis punya kewajiban mengumpulkan daun pisang untuk membungkus nasi (bontot).

Foto0024 Kopi dari Sipirok, Sumber Utama Sejarah Kopi Mandailing

Ketujuh gadis itu berangkat menakik jalan menanjak ke puncak Tor Simuapbujing. Waktu itu, bukit ini belum punya nama dan merupakan kawasan hutan semak perdu yang jarang didatangi orang. Berangkat siang dan diwajibkan pulang sebelum petang.

Ketika petang menjelang, ketujuh gadis belum pulang. Saat hari mulai meremang, sore perlahan datang, tak ada tanda-tanda kepulangan ketujuh gadis itu.

Masyarakat mulai gelisah. Muncul kekhawatiran kalau-kalau ketujuh gadis itu tersesat di hutan semak perdu. Diutus beberapa orang untuk menyusul ke Tor Simuapbujing. Para utusan itu pulang tanpa buah tangan.

Warga pun yakin, ketujuh gadis itu betul-betul tersesat. Lalu dilakukan pencarian secara beramai-ramai. Semua bebunyian dibawa, ditabuh di tengah hutan. Riuh bebunyian dan teriakan orang memanggil nama dari ketujuh gadis, pecah di dalam hutan semak belukar. Malam menyala di lereng Tor Simuapbujing. Tapi, hingga berjam-jam dan hari telah menunjukkan pagi, pencarian tetap sia-sia.

Dukun pun dilibatkan. Dari penerawangan orang sakti, akhirnya jelas segalanya. Dukun berkeyakinan, ketujuh gadis itu telah disesatkan oleh mahluk halus penghuni Tor Simuapbujing. Ketujuhnya tidak akan pernah pulang, karena mereka sudah terlanjur menikmati jamuan dari mahluk halus. Ada keyakinan bagi masyarakat yang tetap dipercaya hingga kini, mereka yang hilang di hutan akan menjadi halak bunian (mahluk halus) jika sudah menikmati makanan dan minuman yang disajikan.

Dan, benar, ketujuh gadis itu tidak pernah pulang. Beberapa saat setelah persitiwa itu, salah seorang kerabat dari ketujuh gadis yang hilang, tidak percaya pada kesimpulan dukun. Seorang diri ia bertolak ke Tor Simuapbujing. Di tengah perjalan, telinganya menangkap derai tawa perempuan. Suara dari beberapa orang yang sedang bercanda. Merasa suara itu berasal dari ketujuh gadis yang dinyatakan hilang, orang itu mencari asal suara.

Orang itu menemukan tujuh gadis sedang berjalan di hutan semak perdu sambil bercanda. Ia bermaksud menegur mereka, tapi sebuah tepukan di bahunya membuat rencana itu terhenti.

Seorang laki-laki tua berdiri di sampingnya. Entah sejak kapan laki-laki tua itu ada di sampingnya. Entah untuk apa orang tua itu ada di lereng Tor Simuapbujing. “Mereka bukan bagian dari  masyarakatmu lagi, tapi bagian dari masyarakat kami,” kata orang tua itu. “Kelak, jika Kalian datang ke bukit ini dan mencium aroma harum atau mendengar suara derai tawa mereka, jangan pernah menegur atau mengusahakan agar mereka kembali.”

kopi004 Kopi dari Sipirok, Sumber Utama Sejarah Kopi MandailingSetelah mengatakan hal itu, orang tua itu menghilang seketika.  Orang yang diajak bicara bergidik, pucat, pias. Tiba-tiba ia sudah berlari menuruni lereng Tor Simuapbujing. Setiba di perkampungan terdekat, ia tidak sadarkan diri. Beberapa jam setelah siuman, ia mengabarkan apa yang disampaikan orang tua itu.

Sejak itu, semua orang pasrah atas kehilangan ketujuh gadis tersebut. Untuk menghormati mereka, bukit itu diberi nama Tor Simuapbujing. Artinya, bukit yang mengeluarkan aroma para gadis. “Hingga kini, kami masih sering mencium aroma yang harum turun dari Tor Simuapbujing,” kata Parulian Pakpahan, tokoh masyarakat di Desa Panggulangan.

Tapi saya tak pernah mencium aroma para gadis sejak setengah jam lalu menakik di lereng Tor Simuapbujing hingga sampai puncak. Angin kencang bertiup membawa dingin uap air.  Akhir bulan September 2014,  awal musim penghujan. Meskipun curah hujan sangat rendah dan hanya mampu membasahi permukaan tanah, tapi uap dinginnya bertahan di udara.

Dari puncak bukit saya menatap jauh ke bawah. Sebuah pemandangan yang menawan dengan objek  Saba Bolak, kawasan pesawahan membentang sejauh mata memandang. Sawah milik rakyat itu sedang memasuki musim meluku. Warna coklat tanah pada petak-petak sawah digenangi air yang berkilauan. Beberapa petani terlihat bekerja, membungkuk-bungkuk.

Pncak ini berada pada ketinggian mencapai 1000 meter di atas permukaan laut. Seandainya dikembangkan olar raga paralayang, saya yakin akan berkembang pesat. Tapi, harus dibenahi dulu infrastruktur jalan. Dengan begitu, mereka yang ingin menikmati sensasi terbang di atas Saba Bolak akan merasa bagai terbang di atas permadani hijau zamrut.

Saya ingat pernah terlibat dalam pengembangan olah raga paralayang di Provinsi Lampung pada 2005, khusus di kawasan Taman Nasional Wan Abdurrahman, bersama beberapa rekan sesame pencinta alam yang juga hobbi paralayang. Dari puncak-puncak bukit yang ketinggiannya tak mencapai 1.000 meter di atas permukaan laut, para olah ragawan mampu menerbangkan paralayangnya di atas perkampungan penduduk yang ada di pinggir Kota Bandarlampung itu.

Peminat olah raga ini sangat banyak. Salah seorang pengusaha objek wisata mengembangkan bisnis ini secara serius dengan melibatkan para professional. Pengusaha itu mampu mendulang rupiah dari para hobbis yang ingin menikmati sensasi pemandangan Kota Bandar Lampung dari angkasa.

Budhi Marta, seorang  fotografer professional di bidang pariwisata, punya kebiasaan memotret sejumlah objek  wisata di Provinsi Lampung dari angkasa. Menggunakan paralayang, ia menjelma seekor elang dengan kamera di tangan. Salah satu karyanya mengambil objek Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, yang dipotret dengan cara terbang memakai paralayang dari Menara Siger dan mendarat di lapangan parkir pelabuhan.

Baca Juga :  Di Kec. Lubuk Barumun, Gara-gara Uang Rp 10 Juta - Adik Nekat Hilangkan Nyawa Abang Sendiri

Tapi kunjungan saya ke Tor Simuapbujing bukan untuk mendata potensi-potensi pariwisata. Hari itu saya hanya ingin bernapaktilas menelusuri salah satu bukti sejara perkebunan kopi di Kota Sipirok. Pengusaha-pengusaha asal Belanda yang didukung VOC,  membangun perkebunan kopi di kawasan Pengunangan Aek Bariba. Ratusan, mungkin, ribuan hectare lahan budidaya kopi dikembangkan, mengandalkan masyarakat di sekitar Pegunungan Aek Bariba sebagai pekerja.

Bersama Masyarakat Kopi Sipirok (MKS), sebuah komunitas para pelaku usaha di bidang perkopian, saya bermaksud membuat perjalanan sejarah kehadiran kopi di Sipirok hingga menjadi komoditas perdagangan yang sangat diburu di dunia internasional.

Siapa saja penikmat kopi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri,  pasti pernah mendengar Kopi Mandailing. Tapi, hampir tidak ada yang tahu persis,  nama Kopi Mandailing hanya sebuah merek dagang pada kemasan bubuk kopi yang diproduksi perusahaan yang ada di bawah kendali VOC.  Merek Kopi Mandailing ini dipasarkan di Indonesia dan di sejumlah negara di Eropa hingga Amerika.

Pada abad ke-19,  nama Kopi Mandailing mulai dikenal oleh dunia. Nama Kopi Mandailing ditemukan dalam sebuah laporan orang Jerman yang ditulis sekitar tahun 1880.  Laporan itu menjadi referensi William H. Ukers saat menulis buku All About Coffee (New York, 1922).

Di dalam laporan itu, disebutkan bahwa Mandailing terletak di kawasan Asia. Pada abad ke-19  itu, referensi orang tentang Mandailing dikaitkan dengan penemuan naskah kuno yang bercerita tentang perjalanan Gajah Mada dalam menaklukkan sebuah kerjaan di Sumatra yang disebut Mandaholing.

Penafsiran ini jelas sebuah kekeliruan, seakan-akan Kerajaan Mandaholing yang sudah diporak-porandakan pasukan Gajah Mada itu masih mampu menghasilkan kopi. Bagaimana membayangkan sebuah kerajaan yang sudah hancur lebur beberapa abad lalu, pada abak ke-19 ternyata menghasilkan biji-biji kopi yang nikmat.

Suatu saat saya akan sampai ke bekas Kerajaan Mandaholing itu. Dari sejumlah referensi yang say abaca, bekas Kerajaan Mandaholing itu kini menjadi wilayah Padanglawas. Di daerah ini ditemukan situs biara (candi), yang diduga merupakan peninggalkan dari Kerajaan Mandaholing.

Jika dipahami dari kata mandaholing, secara leksikal dalam bahasa Batak Angkola berasal dari dua kata yakni “manda” dan “holing”. “Manda” berarti pindah atau datang” dan “holing” berarti “keling”.  Secara leksikal kata “mandaholing” berarti “orang-orang keeling yang datang”.

Saya tafsirkan “mandaholing” adalah sebutan yang diberikan orang-orang Batak Angkola terhadap orang keling yang datang ke daerahnya dan membangun perkampungan. Kata “orang keling” biasanya ditafsirkan sebagai orang-orang dari India (Gujarat), yang datang berdagang ke tengah-tengah masyarakat dan akhirnya memutuskan menetap. Jumlah mereka semakin banyak dan akhirnya mempunyai perkampungan.

images Kopi dari Sipirok, Sumber Utama Sejarah Kopi Mandailing

Pemakaian kata Mandailing untuk menyebut kopi Mandailing disebabkan kata itu punya sejarah panjang dan dikenal secara luas. Merek dagang acap memakai kata yang popular, meskipun produk bersangkutan tidak ada  kaitannya dengan kata yang dipakai. Ketika perusahaan milik VOC memutuskan memakai merek Kopi Mandailing, pada saat itu kata Mandailing dikenal publik luas.

Kopi Mandailing milik perusahaan dagang di bawah kongsi dagang VOC dengan penggerak utama perusahaan NHM milik Raja Willem I.  Kongsi dagang yang cuma ingin meraih keuntungan itu, didukung pemerintah Kerajaan Belanda, menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel)  yang sudah sukses diterapkan di Pulau Jawa dan di perkebunan Deli.

Jauh sebelum VOC menerapkan system tanam paksa, kopi Sipirok sudah menjadi sumber ekonomi masyarakat.

Prof Gusti Asnan, sejarawan dari Universitas Andalas, dalam bukunya Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera menulis asal-usul kopi di pantai barat Sumatera bukan dibawa oleh orang Belanda, tetapi oleh orang Minangkabau yang naik haji ke Mekkah. Ketika kembali, mereka telah membawa biji-biji kopi dari Mekkah kemudian ditanam di daerah Minangkabau.

Sebelum awal abad ke-18 tanaman kopi sudah ada di pantai barat Sumatera.

Pada tahun 1789, kopi diperdagangkan di Kota Padang. Setahun kemudian, ada laporan yang menyebutkan, sebuah kapal Amerika yang pertama berlabuh di Kota Padang telah memuat kopi. Kehadiran kapal Amerika ini mengundang perhatian para pengusaha di Eropa. Para pengusaha Belanda yang didukung Raja William I salah satunya.

NHM, perusahaan milik Raja William I yang melakukan kongsi dagang dengan sejumlah investor asal Belanda, kemudian melakukan ekspedisi ke Padang untuk membeli kopi.

Masuk melalui Pelabuhan Telukbayur di pantai barat Sumatra, ekspedisi yang didukung militer Belanda ini malah berhasrat memonopoli komoditas kopi. Pedagang dari Amerika dan Eropa yang datang murni untuk berdagang, tidak bisa berbuat banyak karena pengusaha Belanda didukung oleh militer atas perintah Raja William I.

Sejak itu, Belanda bertahan di Padang, dan mulai menancapkan kuku kekuasaannya untuk memonopoli komoditas kopi.

Tanaman kopi semakin banyak ditemukan di wilayah itu setelah Pemerintah Hindia Belanda menerapkan system tanam paksa kopi pada 1847. Upaya ini menyebabkan perkebunan kopi diperluas dari wilayah Minangkabau mengalir ke utara, yaitu ke daerah Tapanuli, termasuk Sipirok.

Asnan mencatat, pada abad ke-19 nama Kopi Mandailing mulai dikenal oleh dunia. Salah satunya buktinya, nama Kopi Mandailing ditemukan dalam sebuah laporan orang Jerman yang ditulis sekitar tahun 1880.

Tapi, Kopi Mandailing ternyata hanya nama merek yang dibuat Belanda untuk mengangkat citra kopi asal Tapanuli. Pemberian nama ini menyebabkan Kopi Mandailing seakan-akan dihasilkan oleh masyarakat Mandailing, padahal sebagian besar dari Kopi Mandailing itu berasal dari Sipirok.

Biji-biji kopi yang dibudidayakan di Sipirok, pada awalnya berasal dari kebun rakyat.  Salah satu pemilik kebun kopi rakyat adalah Djaroemahot Nasution. Lahan milik Djamarahoet Nasution meliputi kaki Pegunungan Aek Bariba sampai ke wilayah Bungabondar.  Kebun kopi Djaroemahot Nasution merupakan warisan dari ayah angkatnya, seorang pedagang garam yang sering ke pelabuhan. Bibit kopi diperoleh ayah Djaroemahot Nasution dari para pedagang Arab yang datang ke pelabuhan di pantai Barat, kemudian biji-biji kopi itu ditanam di lahan-lahan miliknya.

Baca Juga :  Tyson: Anak Lebih Berharga daripada Uang

Setelah ayahnya meninggal, Djaroemahot Nasoetion menjadi ahli waris dan satu-satunya putra Sipirok yang sukses. Ia memiliki berhektare-hektare kebun kopi Arabika (invest his money to the coffee arabica plantations) sekaligus menguasai perdagangan kopi. Kekayaannya membuat Djaroemahot Nasution berhubungan dengan Gustaf  van Asselt, seorang pakus (pembeli/pedagang pengumpul kopi) yang bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda.

Para pakus adalah orang atau individu yang melihat peluang ekonomi dari tata niaga kopi, lalu mendaftarkan diri sebagai pengumpul kopi bagi perusahaan milik Belanda. Para pakus ini keluar masuk perkampungan, tidak hanya membeli kopi, tapi juga mengumpulkan informasi tentang daerah-daerah yang subur untuk budidaya kopi.

Para pakus adalah mata-mata dagang untuk menjaga kepentingan Belanda, yang menutupi tujuan utamanya dengan melakukan kegiatan penginjilan. Gustaf van Asselt, pemuda pengangguran yang memutuskan menjadi penginjil untuk Gereje Ermelo, Belanda, dan ditugasi di wilayah Sipirok. Minimnya biaya dari Gereja Ermello Belanda membuat misi penyebaran agama yang dibawa Van Asselt tidak berjalan mulus.

Ketika Van Asselt bekerja sebagai pakus dan berkenalan dengan Djaroemahot Nasution, hal itu membuatnya kaya secara ekonomi. Hubungan dengan Djaroemahot Nasution terus berlanjut. Bahkan, ketika Van Asselt mencari lahan murah di Parausorat untuk pembangunan rumah dan sekolah, Djaroemahot memberikan sebahagian tanahnya kepada Van Asselt  secara gratis.

Setelah tinggal di Parausorat, Van Asselt mulai sukses menyebarkan agama Kristen.  Pekerjaan sebagai pakus menjadi pilihan Van Asselt untuk mengaitkan misi penginjilan dengan ekonomi. Pekerjaannya sebagai pengumpul kopi di lingkungan masyarakat Sipirok, berhasil mempengaruhi orang Batak Angkola untuk menjadi penganut Kristen dengan catatan  akan dipekerjakan sebagai orang suruhan Belanda. Ada jaminan ekonomi jika menganut Kristen dan bekerja untuk kepentingan Belanda.

Informasi dari Van Asselt dan para pakus lainnya kemudian menjadi dasar bagi Belanda untuk mengutus Dr.Fransz Junghum, seorang antroplog dan ahli botani. Pada 1840-1841, Junghum melakukan penelitian di seluruh wilayah Tapanuli dan sampai ke Sipirok. Hasil penelitian Daerah Batak di Sumatera itu merekomendasikan bahwa pegunungan di Angkola bagus untuk tanaman keras seperti kopi.

Belanda mulai memikirkan membangun perkebunan kopi di Sipirok. Tapi, agar usaha itu mendapat dukungan dari masyarakat Sipirok, Belanda menindaklanjuti hasil penelitian Junghum dengan mengirim Neubrownner Van Dertuuk,  seorang ahli bahasa, untuk meneliti bahasa Batak dan kebudayaan Batak Angkola.

Di Pulau Jawa, Belanda melalui Program Tanam Paksa meraih banyak keuntungan, utamanya dari program tanam paksa yang mewajibkan penanaman Kopi Rakyat (verplichte koffie aanplantingen). Setelah penelitian Van Dertuuk, Belanda akhirnya membangun perkebunan kopi dan menerapkan sistem tanaman paksa kopi.

Di Sipirok, sistem tanam paksa kopi diawali dengan menanam kopi secara paksa di daerah pengunungan Pegunungan Aek Bariba, digagas oleh Van Asselt setelah berhasil mengkristenkan warga Parausorat. Di Bungabondar, kebun kopi digagas oleh Pendeta Beltz.

Guna menyukseskan program tanam paksa kopi rakyat, Belanda mendatangkan bibit kopi Arabika dari Jawa Tengah dan dibawa ke Natal. Belanda tahu persis bahwa potensi kondisi tanah di dataran tinggi Gunung Sibualbuali (1000 m.DPL/di atas permukaan laut) sesuai untuk perkebunan kopi Arabika. Pemerintah Belanda terus berupaya memperbanyak bibit kopi Arabika di kebun bibit Tanobato, Mandailing, dan berhasil.

Bibit kopi ini kemudian diangkut ke Sipirok menggunakan jasa angkutan berupa kuda dan pedati milik Djaroemahot Nasution. Inilah yang membuat jasa Djaroemahot Nasution sangat dihargai Belanda, dan mengangkatnya sebagai Pendeta.

Tinggal di Parausorat dan bersahabat dengan Van Asselt, lahan-lahan milik Djaroemahot Nasution di dataran tinggi Perbukitan Aek Bariba diserahkan kepada Belanda dan oleh Belanda kemudian ditanami kopi.

Saya tercenung membayangkan sejarah kopi Sipirok ketika tiba di areal penuh tanaman kopi. Inilah lokasi perkebunan kopi dalam sistem tanam paksa, meluas sampai ke wilayah Bunga Bondar,  Lancat, Simangambat, dan lain sebagainya.

Tanam paksa kopi ini memposisikan orang-orang yang menganut agama Kristen sebagai mandor yang bertugas mengawasi rakyat yang dipaksa melakukan budidaya dan mengangkut kopi hasil panen dengan cara memanggul ke Sibolga. Membawa karung-karung berisi biji kopi, para kuli berjalan kaki menempuh medan berat melalui jalur Sipirok-Bulu Mario-Marancar-Lumut-Sibolga.

Penderitaan masyarakat Sipirok adalah sejarah pahit kopi di masa lalu. Pada masa sekarang, ketika penderitaan sebagai kuli di perkebunan kopi yang dikelola dengan system tanam paksa sudah menjadi masa lalu, ternyata sejarah pahit kopi masih kental dalam nasib masyarakat Sipirok. Biji-biji kopi dari kebun rakyat, tidak membuat kesejahteraan mereka membaik.

budihatees 776944024 Kopi dari Sipirok, Sumber Utama Sejarah Kopi Mandailing

*) Budi Hatees, Penulis adalah peneliti di Matakata Institut – lahir dengan nama Budi Hutasuhut, 3 Juni 1972 di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Pengajar komunikasi di Fisipol Universitas Bandar Lampung (UBL) ini banyak menulis masalah komunikasi di berbagai media dan jurnal. Tahun 2009, memutuskan berhenti mengajar dan bekerja sebagai Direktur Program untuk MatakaInstitute, lembaga konsultasi komunikasi dan pencitraan yang terlibat dalam program peningkatan citra di lingkungan Divisi Propam Mabes Polri.

Budi Hatees dapat dihubungi lewat Email: budi.hatees@gmail.com.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*