Korban Merapi – Menko Kesra: Sapi Mati Akan Diganti

1815598620X310 Korban Merapi Menko Kesra: Sapi Mati Akan Diganti
Bangkai hewan ternak sapi milik Adi Sehono tergeletak mati di halaman rumah akibat letusan Gunung Merapi di Dusun Kaliadem, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (28/10/2010).

Menko Kesra Agung Laksono mengatakan, pemerintah akan berupaya mengganti ternak sapi milik warga yang menjadi korban bencana letusan Gunung Merapi.

“Prosedur, mekanisme, dan besaran nilai penggantian ternak sapi mati tersebut masih dalam pembahasan dan masih akan ditentukan indeksnya. Namun yang jelas, pemerintah berupaya memberikan ganti rugi bagi sapi yang mati dan tidak hanya sapi yang hidup,” kata Agung Laksono di Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).

Di sela-sela mendampingi Presiden SBY di Gedung Agung Yogyakarta, ia mengatakan, semua sapi hidup milik warga yang ditinggal mengungsi akan dibeli oleh pemerintah. Untuk kepentingan itu, disediakan dana Rp 100 miliar.

Menteri Pertanian dan para Kepala Dinas Peternakan Provinsi DIY dan Jateng serta empat kabupaten, yaitu Magelang, Sleman, Klaten, dan Boyolali mengadakan rapat koordinasi mempersiapkan pembelian sapi hidup di wilayah rawan bencana Merapi.

“Jadi, sapi yang dibeli pemerintah adalah yang masuk wilayah bencana Gunung Merapi yang ditinggal mengungsi pemiliknya. Pembelian sapi tersebut perlu prosedur dan akuntabilitas yang bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Menurut dia, pembelian ternak sapi tersebut merupakan salah satu upaya agar warga pemilik sapi tidak kembali ke daerah bahaya Merapi hanya untuk mengurusi ternaknya yang ditinggal mengungsi.

Dengan demikian, pemilik ternak tersebut bisa lebih tenang berada di tempat pengungsian dan tidak bolak-balik ke rumahnya hanya untuk mengurus ternak.

Baca Juga :  Turunnya Intensitas Belum Tentu Pertanda Merapi Menuju Kondisi Normal

“Sapi akan dibeli dengan harga yang berlaku umum saat ini dan ada standarnya agar tidak merugikan pemilik sapi,” kata Agung Laksono. (kompas.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*