KPI: Stasiun TV Jangan Klaim Dana Bantuan dari Pemirsa

Hampir setiap stasiun televisi memiliki program penggalangan dana bantuan bencana. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta agar pengumpulan dana tersebut dilakukan transparan dan sumbangan masyarakat tetap diakui.

“Ada beberapa pengaduan dan kami terus mengamati. Transparansi harus dijaga, dan klaim yang menyumbang TV-x peduli, padahal itu dana penonton, harusnya sumbangan penonton TV-x,” kata Wakil Ketua KPI Nina Mutmainnah di Gedung Bapetan, Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat, Senin (8/11/2010).

Menurut Nina, program penggalangan dana bencana di stasiun tv sudah tampak seperti kegiatan corporate social responsibility (CSR). Nama stasiun TV yang muncul dan harum di masyarakat. Padahal dana berasal dari penonton.

Persoalan dana bencana, kata Nina, sudah diatur dalam pasal 54 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran. Dalam ketentuan tersebut, penggalangan dana oleh stasiun TV harus ada izin dari lembaga berwenang.

“Hasilnya juga harus dipertanggungjawabkan ke publik,” tegasnya.

Saat ditanya apakah ada aduan dugaan penyelewangan dalam pengelolaan dana bencana, Nina mengaku sudah mendapatkan banyak laporan. Namun, dia masih melakukan verifikasi data sebelum membawanya ke ranah hukum.

“Kita upayakan dulu lewat Dewan Pers. Kalau itu tidak dipatuhi, baru kita ke ranah hukum,” tegasnya.

Bagaimana dengan audit khusus bagi stasiun TV yang menggalang dana? Nina mengatakan hal itu sudah pernah dibicarakan di KPI, namun saat ini belum diambil keputusan.

Baca Juga :  Ruhut Nyaris Dikeroyok Kader Demokrat di Sentul

“Sekarang kita fokus ke masalah yang urgent dulu,” lanjutnya.

Komisioner KPI Yazirwan Uyun menambahkan, selain dana, ada persoalan lain yang harus diperhatikan stasiun TV terkait tayangan bencana. Menurut dia, tayangan soal korban dan darah harus diperhatikan kembali sensornya.

Selain itu, gambar yang berulang juga perlu mendapat perhatian. Sebab, akhir-akhir ini sering tayang gambar yang tidak sesuai dengan berita terakhir yang disampaikan.

“Ini gambar berulang, tapi disiarkan pada berita lain menggunakan gambar lama. Ini yang perlu dicermati oleh lembaga penyiaran secara umum,” tambahnya.

Keselamatan para jurnalis di lapangan juga perlu diperhatikan. Yazirwan meminta agar tidak ada upaya untuk memperoleh gambar ekslusif namun tidak memperhatikan nyawa sang wartawan.

“Buat apa gambar ekslusif kalau nantinya meninggal. Sia-sia,” tutupnya. (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*