KPK Pastikan Akan Menahan Jero Wacik

TRIBUNNEWS / DANY PERMANA Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik usai menjalani pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta, beberapa waktu lalu. KPK menetapkan politisi Partai Demokrat itu menjadi tersangka pada Rabu (3/9/2014) karena diduga melakukan tindak pidana korupsi terkait pengadaan proyek di Kementerian ESDM 2011-2013.

JAKARTA, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Zulkarnain memastikan pihaknya akan menahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik jika diperlukan nanti. Menurut Zulkarnain, waktu penahanan seorang tersangka bergantung pada perkembangan penyidikan perkaranya.

“Penahanan seperti biasa, kalau memang itu sudah waktunya dan itu diperlukan, kita akan melakukan itu. Tentu kita secara internal akan memperhatikan aspek-aspek hukumnya, termasuk aspek waktu. Jadi, penanganan kita obyektif pada ketentuan hukum yang ada,” kata Zulkarnain dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (3/9/2014).

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menambahkan, KPK tak akan terhalang Undang-Undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) yang baru untuk menahan Jero meskipun petinggi Partai Demokrat itu nantinya menjabat anggota DPR.

Jero terpilih menjadi anggota DPR periode 2014-2019. Menurut dia, tindak pidana korupsi merupakan tindak pidana khusus yang di luar ketentuan dalam UU MD3 yang baru. Dengan demikian, menurut Bambang, KPK tidak perlu izin Mahkamah Kehormatan Dewan jika harus menahan ataupun memeriksa Jero nantinya.

“Dasar dari kami karena unsur-unsur yang menjadi dasar satu penyidikan sudah dipenuhi berdasarkan dua alat bukti yang sah, maka kami kemudian menindaklanjutinya dengan peningkatan status. Kedua, kami tetap beranggapan bahwa tindak pidana korupsi di luar ketentuan yang dikualifikasi di dalam ketentuan UU MD3 tentang diperlukannya izin dari Majelis Kehormatan DPR,” ujar Bambang.

Baca Juga :  Susno: Saya Bukan Mau Lari ke Luar Negeri

KPK menetapkan Jero sebagai tersangka melalui surat perintah penyidikan 2 September 2014. Dia disangka melakukan pemerasan terkait posisinya sebagai Menteri ESDM dalam kurun waktu 2011-2012.

Menurut Bambang, nilai uang yang diduga dikorupsi Jero sekitar Rp 9,9 miliar. Namun, Bambang belum mengungkapkan pihak mana saja yang diduga diperas Jero. Bambang menduga, modus korupsi yang dilakukan Jero adalah dengan memerintahkan anak buahnya untuk menambah dana operasional menteri.

“Pasca-menjadi menteri di Kementerian ESDM, maka diperlukan dana untuk operasional menteri yang lebih besar. Nah, untuk mendapatkan dana yang lebih besar daripada yang dianggarkan, kemudian dimintalah dilakukan kepada orang di kementerian itu,” kata dia.

Salah satu cara yang diperintahkan untuk meningkatkan dana operasional menteri tersebut adalah dengan menggelar rapat-rapat yang sebagian besar merupakan rapat fiktif. Selain itu ialah dengan mengumpulkan dana dari rekanan proyek di Kementerian ESDM.

“Sebagai contoh adalah peningkatan atau pendapatan yang bersumber dari kick back (pemberian) dari kegiatan satu pengadaan jasa konsultan, misalnya seperti itu. Misalnya juga pengumpulan dari rekanan dana-dana penggunaan terhadap program-program tetentu,” papar Bambang.

Saat kasus ini masih dalam tahap penyelidikan, KPK pernah meminta keterangan Jero dan istrinya, Triesnawati Jero Wacik. Seusai dimintai keterangan KPK beberapa waktu lalu, Jero mengaku diajukan pertanyaan seputar dana operasional menteri (DOM).

Jero mengatakan bahwa DOM tersebut anggarannya sudah ditetapkan dalam APBN melalui surat keputusan Menteri Keuangan. Namun, Jero tidak mau menyebutkan berapa jumlah DOM yang diterima di tiap-tiap kementerian.

Baca Juga :  Pelaku Teror di Gereja Medan Terobsesi Tokoh ISIS dari Internet

Selain itu, Jero mengaku diajukan pertanyaan seputar dugaan penyimpangan dana di Kementerian ESDM dari tahun 2010 hingga 2013. Namun, dia mengaku baru menjabat Menteri ESDM pada Oktober 2011 sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam Kementerian ESDM pada medio 2010 hingga Oktober 2011.

/KOMPAS.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*