KPK Sita Jaguar Syamsul Arifin

Dalam sepekan terakhir, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ngebut melakukan pemeriksaan sejumlah saksi terkait kasus dugaan korupsi APBD Langkat dengan tersangka Syamsul Arifin. Dari sejumlah saksi yang diperiksa, pemeriksaan terhadap Beby Arbiana yang paling menyedot perhatian puluhan wartawan yang biasa meliput di KPK. Pasalnya, pemeriksaan terhadap anak pertama Syamsul Arifin itu diikuti dengan penyitaan barang bukti, yakni sebuah mobil Jaguar tahun 2003 bernomor polisi B 8659 BS.

6159767bf539cc879fe5d64833932382dc94114 KPK Sita Jaguar Syamsul Arifin
Mobil Jaguar tahun 2003 bernomor polisi B 8659 BS yang kemarin (2/9) disita KPK dari tangan Beby Arbiana, anak pertama Syamsul Arifin. (Foto: Soetomo Samsu/Sumut Pos)

Menurut keterangan Plt Juru Bicara KPK Priharsa Nugraha, mobil berwarna biru muda metallic itu disita lantaran sebagian uang pembeliannya menggunakan dana APBD Kabupaten Langkat Tahun 2004, yang saat itu bupatinya masih dijabat Syamsul. Tim penyidik menduga, mobil itu milik Syamsul yang diatasnamakan Beby.

“Saat ini sudah cukup dugaan mobil tersebut dibayar ke leasing yang bersumber dari APBD Langkat. Jadi, ada aliran dana dari APBD ke leasing,” terang Priharsa kepada koran ini di ruang kerjanya, gedung KPK, Kamis (2/9). Priharsa untuk sementara menggantikan Johan Budi yang sedang tugas ke luar negeri.

Dijelaskan, pembayaran dilakukan pada 2004. Harga mobil mewah itu Rp600 juta. Mobil diantar sendiri oleh Beby ke gedung KPK kemarin pukul 06.30 WIB, dan selang setengah jam berikutnya, tim penyidik KPK membuatkan berita acara penyitaan. Kedatangan Beby yang pagi-pagi sekali itu tidak terpantau wartawan. Langkah penyitaan ini dilakukan setelah sehari sebelumnya Beby menjalani pemeriksaan di KPK, sebagai saksi atas kasus yang melibatkan ayahnya. Pada saat pemeriksaan itu, tim penyidik menyerahkan surat perintah penyitaan ke Beby, yang juga menjabat sebagai Direktur Operasional di PT Lembu Andalas

Kemarin siang, disaksikan sejumlah wartawan, tim penyidik yang dipimpin Hendy Febrianto Kurniawan secara resmi menitipkan mobil sitaan itu ke rumah penitipan barang sitaan. Atas permintaan wartawan, mobil sitaan itu dikeluarkan dari garasi bagian dalam gedung KPK. Para fotografer dari sejumlah media juga dipersilakan untuk mengambil gambar, termasuk ada di antaranya yang mencoba duduk di jok mobil mewah itu. Dalam pengamatan koran ini, mobil sudah kosong, sudah tak ada lagi barang-barang di dalamnya. Di bagasi belakang juga kosong melompong.

Baca Juga :  Leher Tergorok, Ibu Muda Di Desa Perkebunan Simarpinggan Tewas, Suami Menghilang

Hanya ada segepok amplop kecil yang ada di locker depan, persis di depan jok depan kiri. Sebuah asesoris yang mirip tasbih masih menggantung di kaca kecil depan jok depan. Di fotocopian BPKB yang dibawa penyidik, pemilik pertama mobil dengan jok krem itu adalah Harun Al Rasyid, sedang Beby merupakan pemilik tangan ketiga. Tidak diketahui persis, siapa pemilik tangan kedua.

Kepada koran ini, ketua tim penyidik KPK untuk kasus Langkat, Hendy Febrianto Kurniawan menjelaskan, dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa mobil itu dibeli dengan cara diangsur. Uang angsurannya itu sebagian dari dana APBD. Dia pun menjelaskan, untuk sampai melakukan tindakan penyitaan, penyidik tidak smebarangan. “Untuk melakukan penyitaan, dugaan harus cukup kuat bahwa itu (mobil) bagian dari korupsi,” ujar penyidik yang masih cukup muda itu.

Hendy juga membenarkan, Rabu (1/9), pihaknya telah melakukan pemeriksaan Beby sebagai saksi. Materi pemeriksaan sudah pasti terkait dengan pembelian mobil tersebut. Saat ditanya apakah sebelumnya sudah ada barang bukti lain yang disita KPK, Hendy menjawab, “Yang kuat baru ini.”

Sementara, ditanya mengenai hubungan sejumlah politisi, yang sebagian adalah anggota DPRD Sumut, dengan kasus Langkat ini, Hendy tidak mau memberikan penjelasan detil. Dia hanya mengatakan, semua yang diperiksa sudah pasti punya kaitan. “Ada yang terkait langsung, ada yang tidak langsung,” ujarnya. Sebagaimana gaya para penyidik KPK, Hendy juga tidak gampang memberikan penjelasan panjang lebar.

Baca Juga :  Rekaman CCTV Menguak Kekejamam Syamsul Anwar dan Keluarganya

Begitu pun, saat ditanya keterkaitan sejumlah saksi dari kalangan swasta, Hendy juga tidak obral omongan. Lagi-lagi, dia hanya menjawab, “Ada yang terkait langsung, ada yang tidak langsung.” Kemarin, dua saksi dari kalangan swasta juga dimintai keterangan, yakni Lela Wangsa dan Syeh Moh Al Hamid. Begitu diungkapkan Arsa, panggilan akrab Priharsa.

Saat ditanya kapan Syamsul akan dipanggil ke KPK, Arsa mengaku tidak tahu, karena itu wilayah teknis penyidikan. Hanya saja, menurut Hendy, pemanggilan kepada Syamsul akan dilakukan secepatnya. “Kami berusaha secepatnya, karena ini delapan tahun anggaran,” ujar Hendy. Tidak dijelaskan Hendy mengapa dia menyebut delapan tahun anggaran, meski sejak awal dipublikasikan bahwa yang diusut KPK adalah dugaan korupsi APBD Langkat 2002-2007.

Sumber: http://metrosiantar.com/Berita_Foto/KPK_Sita_Jaguar_Syamsul_Arifin

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*