KPU BIAR ORANG PARPOL SAJA

Oleh: Shohibul Anshor Siregar *)

Walkout Fraksi Partai Demokrat pada awal pembahasan revisi paket Undang-Undang Politik kemaren, yang di dalamnya pasal yang mengatur keanggotaan Komisi Pemilihan Umum (KPU) boleh diisi orang dari partai politik, menunjukkan ”belang” mereka yang amat konservatif dan bertanggungjawab atas keluh-kesah tentang ketidak-mandirian serta masalah akuntabilitas KPU selama ini.

Dari pengalaman empiris politik Indonesia,rupanya harus diterima dengan lapang dada bahwa tidak ada resep yang dapat difahami di negeri ini tentang apa yang dimaksud dengan konsep mandiri, konsep independen dan apapula konsep kredibilitas dan konsep martabat. Itu terlalu utopis untuk disematkan kepada KPU pasca 1999 dan segenap kinerjanya.

Rekomendasi 2009
Usai Pemilu 2009, ‘nBASIS merekomendasikan pembubaran KPU dengan solusi pembentukan KPU baru yang akan diisi oleh orang-orang yang diutus partai politik. Ketimbang berharap utopi independensi dan kredibilitas,lebih baik memberi pola keterukuran kepada semua stakeholder untuk menjalankan syahwat (politik) secara bersama-bersama. Lagi pula setelah pemilu 1955, pemilu 1999 dapat kita tunjuk sebagai pemilu Indonesia yang relatif lebih jujur dan adil,baik dipandang secara kualitatif maupun kuantitatif. ‘nBASIS amat percaya dengan kembali ke pola 1999,demokrasi Indonesia bisa ditolong untuktidak separah yang sekarang.

Secara kelembagaan KPU itu diisi oleh orang-orang tidak boleh tidak mesti memiliki faktor ketidak-independensian. Omong kosonglah jika orang masih suka mengucapkan istilah itu hari ini.

Baca Juga :  Sains, TI dan Ujung Tombak Kemanusiaan

Lebih dari itu, KPU itu tidak pernah merasa dirinya bersalah jika angka partisipasi politik rendah by design atau secara administratif. Itu kan sesuatu keanehan luar biasa, pemilu dimaksudkan untuk meminta suara rakyat justru tingkat partisipasi rakyat tak begitu diperdulikan. Siapa saja boleh tuding-tudingan, apakah ini kesalahan eksekutif atau kesalahan KPU. Tetapi jika KPU tidak ngotot memperjuangkan tersalurnya aspirasi rakyat secara substantif, maka tak ada lagi masalah yang lebih besar dari itu sepanjang sejarah demokrasi di dunia ini.

Parpol saling curi suara?
Keuntungan yang jelas jika orang parpol yang akan mengisi KPU ialah bahwa di antara sesama mereka ada kewajiban yang sama untuk mempertahankan suara partai masing-masing, karena itu relatif transaksi suara tidak akan terjadi. Siapa yang mau suara partainya dicuri? Tentu wakil partai itu akan marah dan melakukan perlawanan. Kecuali memang jika sesuatu partai tertentu ingin “menyumbangkan” suaranya kepada partai lain dan dengan bayaran tertentu. Itu soal lain, dan UU apa pun tidak bisa mensiasati itu. Hanya saja suply and demand transaksi suara akan berbeda sekali antara KPU parpol dan KPU non parpol.

Sibolis Na Burju
Kebobrokan perhelatan politik di Indonesia secara halus sering dianggap hanyalah rutinitas prosedural yang tidak menghasilkan apa-apa meski dengan pengorbanan material, waktu dan perasaan keterampasan (rakyat) yang demikian besar.

Baca Juga :  Pesan dari Putusan Angie

Apa yang menyebabkan kebobrokan itu ialah bahwa di dalam proses dan insttitusi politik Indonesia secara inheren terdapat apa yang oleh ‘nBASIS disebut sebagai Si Bolis Na Burju (iblis yang selalu berpura-pura baik hati). Si Bolis Na Burju mengalahkan perasaan keadilan, kejujuran dan martabat, dan ia meicu kolaborasi kekuatan-kekuatan destruktif negara-bangsa untuk suatu pembangunan jahatokrasi.

—————————————–

*)Penulis: dosen sosiologi politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS
sohibul KPU BIAR ORANG PARPOL SAJAn’BASIS adalah sebuah Yayasan yang didirikan tahun 1999 oleh sejumlah akademisi dan praktisi dalam berbagai disiplin (ilmu dan keahlian). ‘nBASIS adalah singkatan dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan intelektual dengan strategi pemberdayaan masyarakat, pendidikan, perkuatan basis ekonomi dan kemandirian individu serta kelompok.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*