Kualanamu Belum ‘Naik Kelas’

BELUM NAIK KELAS : Meski sudah beroperasi sekira 2 tahun lebih dan punya pengalaman puluhan tahun semasa di Polonia Medan, Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang, belum ‘naik kelas’ dari sisi pelayanan prima yang disajikan kepada penumpangnya.- (Analisa/amirul khair)

Oleh : Amirul Khair *)

KEBERADAAN Bandara Internasional Kualanamu (Kualanamu International Airport/KNIA) yang berada di wilayah administrasi Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, yang digadang menjadi bandara megah dan layak dibanggakan, menjadi sorotan publik.

Banyak masyarakat menilai, predikat sebagai bandara berkelas internasional tidak layak ditabalkan kepada bandara itu melihat fasilitas dan bentuk pelayanan yang disuguhkan. Pasalnya, fasilitas dan pelayanannya lebih tepat sebagai bandara tradisional.

Anggota DPRD Deliserdang dari Fraksi Golongan Karya (Golkar) Benhur Silitonga yang mengaku dalam setahun bisa puluhan kali bepergian menggunakan jasa angkutan udara pesawat terbang baik tujuan domestik maupun luar negeri untuk kepentingan kerja, bisnis maupun keluarga.

Dia menilai, fasilitas dan pelayanan di Bandara Kualanamu sampai saat ini belum mencerminkan pelayanan prima kepada para pengguna jasa angkutan lajur udara ini. Fasilitas kamar mandi yang jorok, mengeluarkan bau tak sedap bahkan kotoran yang menggenangi di toilet, salah satu sisi menunjukkan tidak becusnya pengelolaan yang dikendalikan pihak PT Angkasa Pura (AP) II selaku perusahaan BUMN.

“Kalau aku bilang, ekstrimnya, Kualanamu ini bandara terjorok di dunia. Bagaimana tidak? Lihat saja kamar mandinya itu, joroknya bukan main. Bau,” papar Benhur.

Sekira dua bulan lalu urai Benhur, saat dia dan istri pulang dari bepergian melalui terminal kedatangan internasional, kaki istrinya mengalami luka akibat tersandung tonjolan semacam aluminium atau besi di lantai. Kondisi ini menurutnya salah satu bentuk ketidakprofesionalan pihak AP II mengelola Bandara Kualanamu yang selalu didengungkan bakal menjadi bandara Aerotropolis.

Sentilan juga dilontarkan Anggota DPRD kabupaten Serdangbedagai (Sergai) dari Fraksi Hati Nurani Rakyat (Hanura) Raihanatul Husna. Selama pengalamannya menggunakan jasa angkutan udara, banyak hal yang perlu dibenahi dari pelayanan terutama fasilitas di Bandara itu.

Salah satu contoh, eskalator (tangga jalan) yang berada di depan terminal keberangkatan itu sering tidak berfungsi bahkan nyaris tidak pernah dilihatnya beroperasi. Tidak berfungsinya fasilitas yang ada tentu sangat merugikan penumpang yang sudah membayar biaya fasilitas itu.

“Penumpang sudah bayar melalui Passenger Service Charge (PSC). Sudah bayar, fasilitas gak berfungsi. Ini namanya perampasan hak publik,” katanya.

Membandingkan dengan Bandara di provinsi Kalimantan yang pernah dikunjunginya, Kualanamu jauh tertinggal dalam pengelolaan kebersihan Bandara. Dari sisi kemegahan gedung dan fasilitas, Bandara itu jauh tertinggal dari Kualanamu. Namun, dari sisi kebersihannya, Kualanamu justru jauh dari layak sebagai Bandara besar di Indonesia.

Belum ‘Naik Kelas’

Bupati Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Deliserdang M Yahya Saragih selaku pengguna jasa angkutan ‘burung besi’ juga mengaku, seiring perjalanan waktu keberadaan Bandara Kualanamu mulai dari awal beroperasi sekira 2 tahun lalu, pembenahan pelayanan dan faslitasnya terlihat sudah lebih baik.

Namun progres pembenahannya dinilai belum naik kelas karena terlalu lama sebagai Bandara berkelas internasional. Semestinya, laju perkembangan dan perbaikan pelayanan serta fasilitasnya harus lebih cepat karena memang disinyalir bandara ini dipaksakan untuk secepatnya beroperasi.

Baca Juga :  Tiga Mahasiswi UI Jadi Presentator di LIYSF 2014 - Terus Berlatih agar Tidak Grogi di Depan Ilmuwan Dunia

Layak atau belum untuk dimulai operasionalnya, faktanya kini sudah beroperasi lebih dari 2 tahun. Kurun waktu dua tahun itulah yang menjadi kajian pembenahan publik bahwa kemajuan pembenahannya lamban sehingga penumpang tidak merasakan kenyamanan prima dari pengelola Bandara.

Salah satu contoh, dari segi lantai saja jauh berbeda. Di Malaysia, lantai terminal Bandara itu menggunakan bahan marmer. Sedangkan Kualanamu menggunakan keramik yang kondisinya sekarang sudah retak bahkan sudah beberapa kali keramik.

Selain itu, sistem pengamanan di Bandara Kualanamu khususnya terminal kedatangan luar negeri, perlu dipertanyakan. Dia melihat, ada semacam permainan yang dilakukan oknum-oknum tertentu di terminal kedatangan luar negeri sehingga memuluskan pemindaian ketika akan keluar.

Padahal, semestinya pemeriksaan keamanan di lajur luar negeri tidak berlaku main-main karena menyangkut citra Indonesia di mata dunia. Tidak benar pelayanan pengamannya, dipastikan membuka peluang kejahatan masuk dan keluar melalui pintu ini.

Kritik terhadap masih buruknya pelayanan di Bandara Kualanamu juga dilontarkan Ketua Sentra Informasi Masyarakat dan Petani (Simpati) Kabupaten Sergai Safrul Hayadi. Dia menilai pembenahan di kawasan Bandara Kualanamu di banyak titik belum memberikan kepuasan dan kemudahan kepada penumpang.

Dicontohkannya, penumpang merasa terkekang saat mulai masuk dari pintu boarding yang harus berjalan jauh menuju pintu pemeriksaan untuk masuk ke dalam ruang tunggu. Tatkala sudah sampai di dalam ruang tunggu, penumpang kembali terkekang karena pintu terdekat untuk ke luar misalnya, menuju kamar kecil harus memutar.

“Yang seperti ini kan penumpang tidak nyaman, terasa terkekang. Semestinya, ada pintu di tengah-tengah yang bisa diakses penumpang yang sudah berada di dalam rungan tunggu kalau mau keluar” terang Safrul.

Wajar

Menyikapi kritik-kritik terkait fasilitas dan pelayanan di Bandara Kualanamu, Deputi Bidang Teknis dan Operasi Tommy Hadi Bawono mengakui, banyak fasilitas-fasilitas yang belum terfungsikan secara maksimal serta kondisi fasilitas khusunya kamar kecil yang menjadi masalah besar bagi penumpang.

Komplain-komplain yang ditujukan ke AP II dinilai wajar karena publik terkhusus penumpang tidak mengetahui suasana kebatinan permasalahan di dalam terkait perbaikan beberapa fasilitas yang diakuinya sangat mengganggu.

Salah satunya, contoh Tommy, keberadaan eskalator di terminal kedatangan yang sudah lama tidak berfungsi bukan disebabkan pihaknya selaku pengelola Bandara tidak mau memperbaikinya. Pasalnya, fasilitas itu belum diserahkan tanggung jawab pengelolanya kepada AP II melainkan masih menjadi tanggung jawab kontraktornya yakni, PT Adhi Karya.

Pernah katanya, pihak AP II ingin melakukan percepatan perbaikan eskalator itu, tapi karena berita acaranya itu masih menjadi wewenang PT Adhi Karya, maka AP II juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, begitu AP II melakukan perbaikan, otomatis kewajiban PT Adhi Karya gugur karena pekerjaannya sudah dicampuri pihak AP II. “Permasalahan-permasalahan seperti ini yang tidak diketahui publik. Kita mau melakukan percepatan perbaikan, tapi kondisinya seperti itu” terang Tommy.

Baca Juga :  CES: Bupati Harus Hindari Pejabat Impor!

Untuk mencitrakan Bandara Kualanamu ke arah positif, peran masyarakat dan penumpang sangat dubutuhkan. AP II dalam pengelolaan Bandara juga berupaya membangun sistem yang dapat mengedukasi penumpang dan masyarakat.

Semestinya, masyarakat juga ikut berkontribusi menjaga kebersihan di Bandara misalnya. Masyarakat yang sekadar datang dan tidak menggunakan jasa angkutan udara untuk berpergian, semestinya ikut juga menjaga kerbersihan di areal Bandara seperti, tidak membuang sampah sembarangan.

Penggunaan fasilitas kamar kecil juga semestinya juga mengikut petunjuk penggunaanya dan tidak main paksa. Faktanya, banyak masyarakat ketika menggunakan fasilitas kamar kecil selalu memaksakan cara sehingga alatnya menjadi tidak berfungsi.

“Seperti kran air, seharusnya memutar ke kanan, itu dipaksa putarnya ke kiri. Yang ke atas dipaksa ke bawah. Akibatnya jadi rusak” terangnya.

Tommy menilai, edukasi semacam ini perlu juga dipahami penumpang dan masyarakat untuk bersinergi menjaga fasilitas yang ada karena perawatannya mengeluarkan biaya besar. Sebab, kebanyakan fasilitas yang rusak iu berada di kawasan ruang publik, sementara untuk yang berada di daerah kawasan terbatas, kondisinya masih baik.

Terus Pembenahan

Upaya AP II untuk terus membenahi pelayanan di bandara Kualanamu terus dilakukan. Ada banyak kebijakan baru yang sudah dilakukan pihak managemen AP II untuk menciptakan situasi aman dan nyaman di bandara Kualanamu.

Di antaranya, untuk menciptakan itu, kesiapan AP II memberikan pelayanan pengamanan kini sudah disiagakan sekuriti berkoordinasi dengan kepolisian untuk menangkal gangguan, diperkuat kerja sama dengan TNI AD sehingga pengamanan betul-betul tercipta dan penumpang bisa merasa aman dan nyaman berada di Bandara.

Kritik pasti akan terus mewarnai pengembangan untuk kemajuan bandara Internasional Kualanamu selagi Bandara ini masih beroperasi. Kritik-kritik konstruktif yang diopinikan masyarakat harus menjadi ‘pemicu’ bagi AP II selaku pengelola Bandara untuk mewujudkan Kualanamu yang tercitrakan.

Di usianya yang masih muda meski sudah tua pengalaman semasa di Bandara Polonia Medan, diyakini beberapa tahun ke depan, Bandara ini akan semakin lebih baik seiring waktu dan pengalaman yang menempa.

Sekarang, semuanya kembali kepada kita untuk mau bersinergi mewujudkan Kualanamu menjadi benar-benar internasional dan bukan lagi kelas tradisional serta bisa pula cepat ‘naik kelas’ sehingga lebih berwibawa dan bermartabat. Semoga.

ANALISADAILY

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*