KUD Serbaguna Diminta Kembalikan Tanah Milik Warga

Koperasi Unit Desa (KUD) Serbaguna diminta mengembalikan tanah atau lahan perkebunan sawit milik warga tujuh desa di Kecamatan Lubuk Barumun Kabupaten Padanglawas.

Hal itu terungkap dalam salinan surat pencegahan dan pemberitahuan hak ulayat masyarakat serta permohonan perlindungan hukum Proteki Law Firm kepada Kapolda Sumatera Utara terkait surat KUD Serbaguna No IST/KUD-SG/2010 tertanggal 20 September 2010 kepada Kapoldasu yang diterima analisa di P.Sidimpuan, Senin (29/11).

Dalam surat Proteki Law Firm No 027/Plf-SPP.HUM/X/2010 yang ditanda tangani Daniel Tourino Voll, SH itu disebutkan, surat KUD Serbaguna tidak berdasar dan merupakan kebohongan ataupun fitnah.

“Atas dasar itulah kami merasa perlu mengajukan pencegahan terhadap maksud dan tujuan dari surat Sebaguna ke Kapoldasu, agar tidak terjadi kekeliruan ataupun kesalahan dalam mengambil kebijakan atau langkah-langkah hukum dari institusi Poldasu, “sebut Daniel dalam surat tersebut.

Dijelaskan, mengenai klaim pihak KUD Serbaguna memiliki lahan kebun kelapa sawit di Desa Parsombahan dengan dalil memiliki alas hak sertifikat adalah tidak benar dan tidak berdasar, karena legalitas hak sesungguhnya berdasarkan hak ulayat tujuh desa dan belum pernah melakukan pelepasan hak ulayat kepada pihak manapun.

Kalaupun ada alas hak tersebut, patut diduga lahir atau terbit dari hasil perbuatan tindak pidana dengan kualifikasi penipuan, penggelapan, pemalsuan atau memasukkan keterangan palsu kedalam akta otentik serta penadahan.

“Untuk hal itu, dalam waktu dekat akan kami laporkan dugaan tindak pidananya secara resmi ke instansi kepolisian RI, agar menyeret oknum -oknum yang terlibat didalamnya, “katanya.

Dalam surat Proteki Law Firm itu juga dipaparkan risalah permasalahan yang mana hak penguasaan atas lahan sekitar 2000 Ha itu adalah milik warga sejak 1963 dengan masing-masing desa memiliki hak penguasaan sekitar 200 Ha.

Baca Juga :  Adriano Selesai di Roma

Ketujuh desa itu, Desa Surodingin, Janji Lebi V, Huta Lembang, Pagaran, Sihiuk, Huta Dolok dan desa sangkilon Kecamatan Lubuk Barumun Kabupaten Palas.

Pada sekitar 1990-an para kepala desa dan tokoh masyarakat ketujuh desa itu menugaskan atau memberikan kepercayaan kepada Torkis Daulay untuk mencari bapak angkat atau investor yang mau bekerjasama mengelola lahan tersebut dengan konfensasi hak sebesar 320 Ha.

Kemudian Torkis Daulay alias H. Ibrahim menggandeng H. Suyono untuk bekerjasama memanfaatkan tanah dari tujuh desa tersebut. Hal itu ditandai dengan surat penyerahan lahan hak ulayat seluas 200 Ha oleh tujuh kepala desa tersebut.

Adapun salah satu butir penting dari kuasa penyerahan tanah itu adalah untuk melakukan hal-hal berupa pengelolaan lahan perkebunan atas hak ulayat yang dimaksud, menetapkan batas-batas obyek lahan, bertanggung jawab sepenuhnya untuk mengolah kelapa sawit hingga berhasil serta menerangkan jika tanah tersebut telah pernah diusahain sejak 1979.

Dan sebagai tindak lanjutnya ditandai dengan surat perjanjian antara tujuh kepala desa tersebut sebagai pihak pertama dengan H. Suyono selaku pihak kedua, dimana salah satu butirnya pelaksanaan penanaman pohon kelapa sawit diseluruh areal obyek tersebut wajib diselesaikan dan diserahkan oleh pihak kedua selambat-lambatnya lima tahun terhitung sejak penandatanganan akte tersebut.

Namun kenyataannya, setelah berjalan lima tahun dan waktu perjanjian telah jatuh tempo ternyata obyek lahan tersebut tidak dikelola dengan baik dan belum menghasilkan buah sawit sebagaimana yang diperjanjikan bahkan areal wilayah obyek tersebut haya ditanami sekitar 600 Ha.

Baca Juga :  LTI Palas : Proyek Dekat Rumah Dinas Bupati Sudah Rusak

Berdasar surat perjanjian itu, maka seharusnya tanah tersebut dikembalikan kepada masyarakat selaku pihak pertama, akan tetapi H. Suyono bersama rekan tidak merealisasikannya.

Terpisah, kuasa masyarakat tujuh desa tersebut H. Sutor Siregar meminta agar tanah ulayat masyarakat tersebut untuk segera dikembalikan dengan tanpa syarat.

“Kembalikan tanak atau lahan milik warga itu, jangan diputar kesana kemari, kasihan mereka “pintanya. (analisadaily.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*