Kujungan Presiden Ke Kabanjahe; SBY Senang Karena Tak Ada Korban Jiwa

SENANG - Presiden SBY memberi keterangan dalam kunjungan kerjanya di Pendopo Bupati Karo, Senin (6/9/2010). SBY mengaku senang karena tak ada korban jiwa letusan Gunung Sinabung.

KABANJAHE – Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (6/9) melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Kabanjahe, Kabupaten Karo untuk memantau perkembangan letusan Gunung Sinabung sekaligus melihat kondisi pengungsi. SBY yang tiba di Kabanjahe sekitar pukul 12:15 WIB mengaku senang melihat pengungsi korban letusan Gunung Sinabung. Dalam pidatonya di posko utama penanggulangan bencana letusan Gunung Sinabung, SBY mengaku senang lihat pengungsi letusan Gunung Sinabung. Pasalnya tidak ada satu korban jiwa pun yang menjadi korban langsung letusan Gunung Sinabung. “Saya senang, karena tidak ada korban jiwa dan semua pengungsi dapat tempat pengungsian yang layak,” ucap SBY di Posko Utama Pendopo Bupati karo, Senin (6/9/2010) siang.

Selain senang karena tidak ada korban jiwa, SBY juga senang karena Pemerintah Kabupaten Karo dapat bertindak cepat dan tepat mengatasi pengungsi akibat letusan sejak 29  Agustus. “Pemerintah telah melakukan hal yang tepat, “ tambah SBY yang didampingi ibu Negara Ani Yudhoyono.

Dalam pidatonya tersebut, SBY menekankan tiga hal dalam penanganan bencana alam letusan Gunung Sinabung. Pertama, agar pemerintah kabupaten fokus terhadap kesehatan para pengungsi. Sebab pengungsi sangat rentang dengan penyakit. Kedua, distribusi logistik harus tepat sasaran. “Jangan sampai ada pengungsi yang kelaparan,” ucap SBY yang juga didampingi Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi.

Ketiga, SBY menekankan agar segala informasi perkembangan Gunung Sinabung, bantuan, dan lain sebagainya harus transparan. “Jangan ada perkembangan sekecil apapun yang ditutup-tutupi dari media. Kita harus terbuka dan memberikan informasi yang tepat dan cepat kepada media,” katanya.  (*)

Baca Juga :  KPK Tetapkan Gubernur Sumut dan Istrinya sebagai Tersangka

SBY Terhalang Kabut Tebal Untuk Pantau Gunung

TANAH KARO – Kabut tebal yang menutupi Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, Senin (6/9/2010) sore, menyebabkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak dapat melihat dan memantau langsung aktivitas gunung setinggi 2.400 meter di atas permukaan laut secara jernih. Presiden akhirnya menggunakan teropong. Dengan teropong tersebut, Presiden berusaha melihat kondisi Gunung Sinabung pascaletusan dan tiga desa di lereng gunung yang cuma berjarak tiga kilometer dari puncak gunung. Sebelumnya saat tiba di lokasi pemantauan aktivitas Gunung Sinabung di Desa Perteguhen, Kecamatan Simpang Empat, Presiden sempat menanyakan kepada Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono yang memberikan paparan mengenai perkembangan aktivitas Gunung Sinabung di mana lokasi tiga desa di lereng Gunung Sinabung.

“Di sini Pak, satu, dua dan tiga desa. Jaraknya hanya tiga kilometer dari puncak gunung. Padahal, minimal radius enam kilometer dari puncak gunung harus diungsikan semuanya,” kata Surono.

Saat menjelaskan kepada Presiden, Surono juga tidak bisa memastikan kapan Gunung Sinabung benar-benar berhenti. “Biasanya, kalau sudah meletus, suatu saat akan meletus lagi. Karena itu, akan dipantau terus menerus,” tambahnya.

Selain sebagai tempat pemantauan, lokasi itu juga terdapat Pos Komando Taktis (Poskotis) Kodim Tanah Karo untuk mengendalikan keamanan dan pengamanan masyarakat pasca letusan gunung. Lokasi ini merupakan tanah lapang yang datar sehingga bisa menyaksikan seluruh kondisi gunung jika cuaca cerah.

Baca Juga :  Mapolresta Siantar Diserang, Petinggi TNI Bertemu Kapolresta

Setelah meneropong, Presiden menyempatkan berdialog dengan anak-anak di desa Perteguhan. Sebagaimana diberitakan gunung tersebut mendadak meletus setelah “tidur” selama 400 tahun lamanya. Akibatnya, belasan ribu penduduk di radius enam kilometer dari kaki gunung tersebut, mengungsi ke sejumlah lokasi.(*)

Sumber: Tribun-medan.com

SBY Kunjungi Korban Letusan Sinabung – detik.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*