Kurikulum Baru, Buku Baru, Proyek Baru

Oleh: Elfa Suharti Harahap, S.Pd *)
Selama ini, di Indonesia sering terjadi egoisme pejabat di mana setiap kali ganti menteri pendidikan maka ganti pula kurukulum pendidikan. Kurikulum juga sering diganti dalam kurun waktu yang belum efisien saat menerapkannya. Bahkan hingga saat ini sistem yang jelas- jelas tidak memberikan pengaruh kepada dunia pendidikan kita masih digunakan.

Kenyataannya, kurikulum baru tidak menjamin siswa betah di sekolah. Berdasarkan survei, ada tiga waktu yang paling disuka siswa. Yaitu, jam kosong, jam istirahat, dan jam pulang sekolah. Itu berlaku bagi hampir semua siswa, masu sekolahnya RSBI, SBI, atau regular. Itu menunjukkan ada ketidaknyamanan. Padahal, sekolah berasal dari bahasa Yunani, yang berarti taman. Jadi sekolah bukan wajib, tapi taman sebagai tempat yang menyenangkan.

Seperti yang kita ketahui bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan mengubah kurikulum (lagi) di tahun 2013 mendatang dengan menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio. Kurikulum baru tersebut akan diterapkan untuk seluruh lapisan pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas maupun Kejuruan. Dengan kata lain, siswa untuk mata pelajaran tahun depan sudah tidak lagi banyak menghafal, tapi lebih banyak kurikulum berbasis sains.

Kurikulum ini dinilai akan berorientasi pada tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara pembelajarannya yang holistik dan menyenangkan. Sedangkan, basis perubahan kurikulum 2013 terdiri dari dua komponen besar, yakni pendidikan dan kebudayaan. Kedua elemen tersebut dinilai mampu menjadi landasan agar generasi muda dapat menjadi bangsa yang cerdas tetapi berpengetahuan dan berbudaya serta  mampu berkolaborasi maupun berkompetisi.

Biasanya, untuk tingkat SD ada 10 mata pelajaran yang diajarkan, yaitu pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya dan keterampilan, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, serta muatan lokal dan pengembangan diri. Tapi mulai tahun ajaran 2013/2014 jumlah mata pelajaran akan diringkas menjadi tujuh, yaitu pendidikan agama, pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, seni budaya dan prakarya, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, serta Pramuka.

Baca Juga :  Politik Berkhianat, Rakyat Berpaling ke Pengadilan

Ditingkat SMP, pemberian pelajaran akan mempergunakan Tekonologi Informasi Komunikasi (TIK) didalam kelas. Kebijakan ini memungkinkan pemakaian laptop didalam kelas oleh siswa. Dengan harapan, wawasan siswa dapat semakin terbuka. Pemadatan matapelajaran juga dilakukan ditingkat SMP, dari 12 matapelajaran menjadi 10 matapelajaran dan pertambahan jam pelajaran menjadi enam jam per minggu.

Sementara ditingkat SMA, siswa mendapatkan matapelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan. Dari sistem pendidikan ini, jurusan dijenjang pendidikan SMA tidak dilakukan. Jumlah jam untuk siswa SMK hanya bertambah sekitar 2 jam per minggu. Khusus di SMK, penyesuaian jenis keahlian akan disesuaikan dengan kebutuhan pasar atau tren saat ini. Namun seluruh siswa SMK ditiap jurusan akan mendapatkan mata pelajaran umum.

Buku Baru Dari Sang Kemendikbud

Kebijakan mentri Kemendikbud dalam merubah lagi Kurikulum di tahun 2013, tentu tidak hanya akan merubah seluruh sistem, tentu juga berdampak pada buku-buku pelajaran yang digunakan oleh para siswa. Agar Kurikulum terlihat lebih sempurna, Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud telah menyiapkan berbagai model buku untuk keperluan kurikulum 2013 ini.

Dijelaskan, pada buku- buku baru nantinya akan disediakan banyak tema sesuai dengan masing-masing kelas. Umumnya tiap tingkatan kelas mempunyai delapan tema berbeda. Tema yang sudah dipilih itu harus selesai diajarkan dalam jangka waktu satu tahun. Guru yang menentukan atau memilih teknis pengajaran maupun durasi pembelajaran satu tema. Satu tema yang diangkat oleh guru dapat diintegrasikan pada enam mata pelajaran wajib yang ditentukan yaitu Agama, PPKn, Matematika, bahasa Indonesia, Seni Budaya dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.

Tanggung jawab buku tersebut akan terpusat pada tim penyusun yang dibentuk Kemendikbud. Penerbit-penerbit lain hanya akan memiliki hak untuk menggandakan, bukan menulis buku baru. Sedangkan tim penyusun buku untuk kurikulum 2013 yang dibentuk langsung oleh Kemendikbud, beranggotakan guru-guru dan para ahli pendidikan. Kebijakan pertanggungjawaban terpusat atas buku pegangan guru dan siswa ini diimplementasikan untuk menanggulangi kesalahan penerbit-penerbit buku pelajaran. Misalnya, kesalahan konten seperti yang terjadi di waktu yang lalu, ada buku pelajaran yang memuat konten pornografi dan konten-konten lain yang tidak seharusnya dikonsumsi peserta didik.

Baca Juga :  PRAKTEK JUDI TOGEL DAN KIM MERAJALELA DI SIPIROK

Alasan lain, Kemendikbud menyatakan bahwa dengan ditetapkannya satu buku acuan bagi peserta didik, maka akan meringankan siswa-siswi sendiri dalam membeli buku. Selama ini siswa-siswi masih dibebani dengan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) yang harus dibeli terpisah.

Proyek Baru

Yang perlu digarisbawahi kembali, adalah buku- buku baru yang disediakan dan dibentuk langsung oleh dinas Kemendikbud. Diketahui bahwa dalam Rencana Kerja Anggaran Kemendikbud 2013, akan ada “proyek” bernama perubahaan atau penyempurnaan kurikulum, sistem pembelajaran, dan perbukuan, yang menghabiskan uang negara sebesar Rp 95.002.000.000.

Tidak salah bukan kalau masyarakat memiliki  pemikiran bahwa Kurikulum baru ini adalah ‘proyek-proyekan’ Kemendikbud. Buktinya, sudah beberapa tahun dialokasi anggaran untuk pengembangan kurikulum, tidak ada yang berubah dalam dunia pendidikan kita. Padahal, untuk 2012, alokasi untuk pengembangan kurikulum menghabiskan anggaran Rp 170.891.439.000. Yang kenyang hanya para birokrat yang mengerus uang negara untuk sebuah pengembangan kurikulum tersebut.

Faktanya, dengan banyaknya buku pelajaran gratis dari pemerintah, justru berbuah kekhawatiran bagi orang tua karena masih saja sulit menemukan yang benar-benar tanpa membayar. *** (Sumber: analisadaily.com)

*) Penulis adalah lumni FKIP UMSU dan Sekretaris UKM-LPM Teropong UMSU Periode 2009- 2010).

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*