Lacak Aset Gayus, PPATK Koordinasi dengan 4 Negara

Gayus Tambunan sudah mengakui bahwa dirinya memang pergi ke luar negeri dengan paspor atas nama Sony Laksono. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pun berkoordinasi dengan mitranya di 4 negara yang dikunjungi Gayus, untuk menyelidiki adanya pelarian aset.

“Kita belum menemukan. Tapi indikasi yang disebutkan Pak Denny (Denny Indrayana, staf khusus Presiden bidang hukum) itu memang iya, karena dari berbagai informasi,” ujar Ketua PPATK Yunus Hussein ketika ditanya perkembangan penelusuran aset Gayus di luar negeri.

Hal itu disampaikan Yunus usai bertemu dengan Jaksa Agung Basrief Arief di Kejaksaan Agung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Jumat (7/1/2011).

Yunus menduga, bisa jadi Gayus ke luar negeri untuk melarikan aset. Karena, sebelumnya Polisi menemukan dan menyita harta Gayus senilai Rp 74 miliar yang disimpan di save deposit box Bank Mandiri berupa mata uang asing dan logam mulia. Untuk itu PPATK sedang berkoordinasi dengan organisasi rekannya di 4 negara yang dikunjungi Gayus.

“Sehingga kita, sedang melakukan inquiry ke sana (Singapura), bertanya apakah memang benar ada transaksi di sana. Ke FIU (Financial Intellegence Unit)-nya. Ke semua, termasuk Macau, Malaysia dan Thailand. Tapi ini baru proses lho ya, belum hasil. Apalagi kan Singapura susah selama ini,” jelas Yunus.

Untuk melacak aset Gayus ke Singapura, PPATK memang tidak terlalu optimistis. Karena penelusuran aset ke Singapura yang terkenal dengan save heaven itu memang susah.

Baca Juga :  Tsunami Mentawai - Husni: Aneh, Mentawai seperti Terabaikan

“Dari informasi kita dulu, memang ada 7 laporan hasil analisis, itu Maret 2010. Dan saat ini kita sedang mengecek lagi, ngapain saja di sana (Singapura). Kita sedang meminta informasi dari sana. Meskipun kami tidak terlalu optimis, kalau nanya uang dari Singapura itu agak susah. Terus terang saja. Sementara dari negara lain lebih mudah,” tandas Yunus. (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*