Lagi, 8 Hektare Ladang Ganja Ditemukan di Madina

Panyabungan, Setelah menempuh bukit terjal dengan berjalan kaki selama 5 jam, akhirnya Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Narkotika Kabupaten (BNK) bekerjasama dengan Polres Mandailing Natal (Madina) menemukan 8 hektare ladang ganja di Bukit Tor Sihite, Desa Hutabangun, Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Madina, Senin (24/10/2011).

Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN Brigjen Pol Beny Mamoto di Mapolres Madina, Selasa (25/10/2011) menjelaskan, ini merupakan tahapan awal dalam operasi bersama yang dilaksanakan oleh BNN, Polda Sumatera Utara, BNK, Polres Madina yang tentunya tidak akan berhenti di sini saja.

“Dengan pengalaman yang pertama ini, kita akan menyiapkan strategi baru untuk memusnahkan ladang-ladang ganja. Baru kita beranjak untuk mengubah kesadaran masyarakat yang mau menyerahkan ladang ganjanya dengan beralih profesi sebagai petani karet atau coklat. Yang tidak punya lahan akan diberikan ternak sesuai dengan profesi yang diinginkan. Tentunya kerjasama antara BNN dengan Pemkab Madina serta Polres Madina,” ujarnya.

Kapolres Mandailing Natal (Madina) AKBP Fauzi Dalimunthe dan Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN Brigjen Pol Beny Mamoto bersama personil lainnya diabadikan dengan 2.500 batang ganja di Mapolres Madina, Selasa (25/10/2011). Ribuan batang ganja ini diamankan dari Bukit Tor Sihite, Desa Hutabangun, Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Madina, sehari sebelumnya. (Beritasumut.com/MS Putra)

Dikatakannya, kalau kita bisa menutup sumber-sumber ganja ini, ke depan kita akan bisa menekan peredarannya dan upaya operasi kesumber-sumber ganja ini jauh akan lebih efektif dan efisien daripada mereka terlanjur lolos ke Jakarta, Bali yang biaya operasinya akan lebih mahal dan operasinya juga tidak optimal disamping korban-korban mereka yang mengkonsumsi ganja itu.

“Kita sepakat dengan tokoh masyarakat di Madina dan aparat penegak hukum di sini ke depan untuk membersihkan ganja tersebut agar daerah ini tidak lagi pemasok. Tapi diharapkan ke depan para petani ganja beralih profesi, jadi kita memberi solusi tidak hanya refresif tapi juga menyiapkan solusi yang akan kita laksanakan bersama sebab program ini telah kita laksanakan di Aceh yang kita adopsi dari program rakyat Thailand di daerah Segitiga Emas,” sebutnya.

Baca Juga :  Tertibkan Bangunan Diduga Tempat Maksiat!

Disebutkan Beny, BNN akan berburu dengan waktu demi untuk meminimalisir peredaran ganja di Indonesia yang tentunya akan merusak generasi muda ke depan sehingga temuan yang didapatkan ini akan menjadi sebuah kajian yang harus dirumuskan di Pusat.

“Kita juga akan terus melakukan koordinasi dengan Polres Madina, Pemkab Madina untuk tindak lanjut berikutnya sehingga dengan secepat mungkin pemusnahan ganja tersebut terealisasi dan kita harapkan juga warga desa lainnya di Kecamatan Panyabungan Timur bisa mengikuti langkah dari Desa Hutabangun,” katanya.

Sementara Kapolres Madina AKBP Fauzi Dalimunthe mengakui penemuan 2.500 batang ganja siap panen di atas lahan seluas 8 hektare di Desa Hutabangun ini merupakan rangkaian dari operasi sebelumnya yang gencar dilaksanakan Polres Madina untuk mempersempit ruang gerak pengedar ganja, pemakai hingga mengarah pada produsen di Panyabungan Timur hingga penyerahan sejumlah senjata locot oleh masyarakat.

“Kita tidak mau warga kita bermain-main dengan hukum sehingga perlu kita alihkan profesinya sebab tidak semua warga yang ada di setiap desa tersebut adalah petani ganja melainkan hanya segelintir orang, akan tetapi warga yang bukan petani ganja berada dalam tekanan,” katanya.

Kepala Badan Narkotika Kabupaten AKBP Edi Masyuri Nasution menuturkan, kehadiran BNN Pusat merupakan sebuah pembuktian lapangan dan kondisi dari areal pertanian ganja di Kabupaten Mandailing Natal sehingga dari kondisi tersebut BNN bisa melihat sulitnya medan serat jarak tempuh yang harus dilalui menuju lokasi.

Baca Juga :  Perbaikan Jalinsum Hutalombang PALUTA Mendesak

“Solusi yang harus ditawarkan oleh BNN dan Pemkab Madina terhadap masyarakat harus sejalan dengan usaha pertanian, perkebunan serta peternakan sesuai dengan kondisi pemukimannya, agar dapat mengalihkan profesi mereka,” katanya.

Wakil Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution mengatakan, Kabupaten Mandailing Natal yang terkenal dengan sejuta santri serta Serambi Makkahnya Sumatera Utara harus dikembalikan marwahnya, sebab dengan peringkat kedua produsen terbesar pemasok ganja di Indonesia citra daerah ini terpuruk.

“Daerah ini seharusnya terkenal dengan sumber daya alamnya yang sumbur, masyarakatnya yang makmur serta adat istiadat serta budayanya yang masih kental ditambah kerukunan agamanya yang tergolong harmonis, bukan dikenal di luar daerah karena kehebatan ladang ganjanya,” sebutnya. (BS-026)

(beritasumut.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*