LAHIRNYA RAJA-RAJA (HARAJAON) DI-MANDAILING

Oleh: Marwan Dalimunthe *)

Marwan Dalimunthe

Mandailing dan sekitarnya tidak terlepas peran marga Lubis, Matondang, Rangkuty dan Dalimunthe yang mendiami wilayah mandailing julu. Radja kecil lahir diakibat sebuah marga berpindah dari wilayahan Raja yang besar sebelumnya, dengan membuka wilayah baru disekitar mandailing julu antara lain: wilayah Muaramais Huta, Angin Barat, Pastap, Lumban Pasir, Lumban dolok dan lain sebagainya. Umumnya wilayah tersebut sebagaimana yang dititahkan oleh raja barang siapa yang membuka wilayah baru dianjurkan mendekati muara sungai sebagai tempat berpinjak dan membangun pemukiman.

Pemimpin kampung yang mendiami tempat tersebut pemimpinya diberi gelar sesuai dengan suasana tempat pada saat pertama kali mereka singgahi dan pemimpin tersebut disebut dengan Raja kecil dengan panggilan umumnya Djalalo, Djalupis, Djamadungkoli, Djapastap, dan Dja – dja lainya.
————————————————

Keluarga Sutan Naposo memudiki Sungai Kelang dan menemui sebuah tempat pertemuan 2 sungai yang merupakan tempat yang ideal bagi orang-orang Mandailing untuk membuka penempatan baru. Tempat tersebut merupakan tempat pertemuan Sungai Kelang dan Sungai Gombak. Kawasan begini dipanggil ‘muara’ dalam bahasa Mandailing. Jika kita tinjau dan kaji kembali, orang-orang Mandailing Julu sering memilih tempat pertemuan 2 buah sungai sebagai penempatan mereka.

Pala marsuo dohot hamu muara na patontang, di sima hamu mian, magabe, mauli, martua markaratan ma hamu sogot.’ Begitulah kata-kata Namora Pande Bosi, yang merupakan nenek-moyang kepada marga Lubis. (137) – Mangaraja Lelo Lubis (66) – Muhammad Arbain Lubis.

Ia bermaksud;
‘Bila bertemu dengan muara yang menjadi tempat pertemuan dua sungai (muara na patontang), maka di situlah kamu berkampung. Semoga kamu dan anak-cucu kamu kelak menjadi orang yang berguna dan mendapat rahmat dari Tuhan yang Maha Kuasa.’

Begitulah pesanan nenek-moyang orang-orang Mandailing Julu sebagai bekal dalam menempuh perjalanan baru yang jauh dan kehidupan baru yang tidak menentu. Kata-kata tersebut lebih merupakan kata-kata perpisahan yang mengharukan yang dianggap oleh orang-orang Mandailing sebagai petua atau amanat kehidupan.

Ini selaras dengan tabiat orang-orang Mandailing yang sangat gemar membuka penempatan baru di kawasan pertemuan 2 sungai. Secara turun-temurun, orang-orang Mandailing percaya di tempat pertemuan 2 sungai itu terdapat
a. punca rezeki yang mewah
b. pelbagai jenis ikan yang bermain di situ
c. banyak bahan-bahan galian seperti emas dan bijih timah yang mendak di dalam dasarnya
d. menjadi tempat pertemuan pedagang-pedagang dan penduduk-penduduk kampung kerana sungai pada masa dahulu menjadi jalan pengangkutan yang utama

Baca Juga :  Langkah Gontai Harimau Sumatera yang Tak Henti Diburu

‘The rivers and streams were the critical geographic features in the nineteenth century. They acted as avenues of communication; they were a means of transport; they provided water for wet-rice growing and tin-mining; and they were the sites of alluvial tin and gold.’ (6) – Tugby.

Ini terbukti di mana banyak kampung-kampung Mandailing di Tanah Melayu yang dibuka kemudiannya di tempat pertemuan 2 buah sungai seperti;
a. Kuala Lumpur atau Muara Bustak yang terletak di antara Sungai Kelang dan Sungai Gombak
b. Kampung Changkat Piatu yang terletak di antara Sungai Pinji dan Sungai Kinta
c. Kampung Gombak yang asal yang terletak di antara Sungai Mulia dan Sungai Gombak
d. Kampung Ampang (Kuala Ampang) yang terletak di antara Sungai Ampang dan Sungai Kelang
e. Kampung Damar Sara (kini Damansara) yang dibina di antara Sungai Damar Sara dan Sungai Kelang
f. Kampung Sungai Chincin yang terletak di antara Sungai Chincin dan Sungai Gombak
g. Kampung Ulu Slim yang asal yang terletak di antara Sungai Gelinting dan Sungai Slim

Malahan di Tanah Besar Sumatera juga terdapat banyak kampung-kampung orang-orang Mandailing yang dibuka di tempat pertemuan 2 buah sungai seperti;
a. Panyabungan yang terletak di antara Aek Batang Gadis dan Aek Singolot
b. Kota Nopan (Muara Patontangan) yang terletak di antara Aek Singengu dan Aek Singagir
c. Muara Pungkut (Huta Pungkut atau Muara Pardomuan) di tempat pertemuan Aek Batang Gadis dan Aek Batang Pungkut
d. Muara Soma di tempat pertemuan Aek Soma dan Aek Batang Natal
e. Muara Parlampungan di tempat pertemuan Aek Parlampungan dan Aek Batang Natal
f. Huta Raja di tempat pertemuan Aek Batang Bangko dan Aek Batang Rantau

Memandangkan pada masa itu tempat pertemuan Sungai Kelang dan Sungai Gombak masih belum didiami orang, maka keluarga Sutan Naposo mengambil keputusan untuk membuka penempatan baru di situ.

Adalah menjadi kelaziman bagi golongan bangsawan dan anak-anak raja Mandailing untuk mencari dan membuka penempatan baru mereka sendiri. Mengikut adat orang-orang Mandailing, hanya anak sulung dan anak bongsu sahaja yang berhak menerima warisan pusaka termasuklah menjadi pemilik kampung warisan mereka. Manakala putera-putera yang tengah biasanya akan keluar merantau dari kampung asal mereka untuk membuka perkampungan baru atau ‘harajaon’ dalam bahasa Mandailing.

Baca Juga :  Pohon Aren, Tanaman Keren di Zaman Modern

MANDAILING GODANG
—————————
Nasution yang mendiami wilayah mandailing godang juga ikut serta menyebarkan pinomparnya keberberbagai wilayah dimandailing godang dan sebaik kecil wilayah mandailing julu.

Perbedaan titah raja dimandailing ini, sangat berbeda dengan wilayah tapanuli lainya (Fakfak, Toba, Simalungun) dimana sebagian pinomparan yang berpindah dari sebuah raja besar, dan membangun sebuah perkampungan atau pemukiman, pemimpinnya bukan diberi gelar melainkan dilahirkan Marga yang baru kepadanya.

Oleh karena hal tersebut Marga yang mendiami wilayah mandailing hanya mempunyai 9 sampai dengan 11 Marga. (Namun beberapa pihak hanya meyakini 9 Marga ). Antara lain sebagai berikut

1. Lubis
2. Matondang
3. Nasution
4. Dalimunthe
5. Rangkuty
6. Batubara
7. Daulay
8. Parinduri
9. Pulungan

Tapi ironisnya sebagian besar lahirnya sebuah kampung dan membentuk sebuah kerjaan, yang seharusnya terjadi bertambah luas sebuah wilayah dan kekerabatan yang saling mengayomi satu sama lainya, akan tetapi sebagian besar malah melahirkan konflik antar wilayah kampung baik masyarakatnya maupun rajanya yang saling menonjolkan keunggulan wilayah kekuasaanya dan pantaslah penggalan abad 19 lahirlah istilah “Raja Diulu tot na” dengan mengadopsi kekecewaan atas lahirnya perjanjian sepihak atas “Batak Maninggoring” yang dimotori beberapa raja dengan pihak belanda dikayulaut 1922 untuk membatakkan wilayah mandailing.

Terlepas batak atau tidaknya mandailing kita telah mengetahui sejarah bagaimanapun sejarah tersirat Si Batak tersebut juga bagian dari mandailing, dan mandailing juga asal usul Si Batak. Dengan kata lain setiap manusia juga tergantung kepada manusia lainya.

Semoga mandailing lebih baik dimasa masa yang akan datang. Horas

(Catatan diambil dari beberapa sumber)
6455183925785a2276b526e5496f73d9c74d13d LAHIRNYA RAJA RAJA (HARAJAON) DI MANDAILING

*)Penulis Adalah seorang pemerhati pada adat-adat Angkola mandailing, Bekerja dan Berdomisili di Jakarta, Frofil facebook.com/uwandm

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Bolehkah saya tau mengenai djapastap beserta keturunannya ???
    Karena ayah nenek ibu saya bernama djatiangsa berasal dari pastap …
    Trims

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*